La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#148


__ADS_3

"Kamu mengatakan laki-laki lain tampan di depan suami kamu sendiri" tanya Bagas yang langsung membuat Reina terkejut dan membuat Rangga malah terkekeh melihat wajah bodoh adiknya.


" Hahk" ucap Reina terkejut.


"Kenapa diam?" tanya Bagas yang langsung membuat Reina kesal.


" Ck, kamu tu ya mas, Masih aja cemburu tak jelas.Aku bicara seperti itu agar kakak ku yang bodoh dan kaku ini bisa langsung gercep buat dekati tu polwan" ucap Reina dengan wajah garangnya.


Bagas yang melihat wajah istrinya menganga lebar karena mendengar nada suara sang istri.


Kenapa jadi dia yang lebih galak? harusnya kan aku yang marah karna dia uda muji pris lain walau pun itu demi Rangga. batin Bagas.


Rangga dan Raka sendiri yang melihat perdebatan Bagas dan Reina hanya bisa terkekeh saja. Berbeda dengan Meta yang langsung sakit hatinya saat mendengar ucapan nona bosnya kalau ternyata sang kakak memiliki perasaan pada polwan cantik yang memang di akui cantik oleh Meta.


Helaan nafas Meta terdengar begitu kuat, Hingga Raka yang berada tepat di sampingnya mendengar dan langsung menoleh ke arah Meta.


" Kamu sakit?" tanya Bagas yang langsung membuat bos dan nona Bos mereka melihat ke arah Meta.

__ADS_1


" Kamu sakit Ta?" Reina ikutan bertanya yang membuat Meta jadi kalang kabut karena semua wajah yang ada di meja itu menatap ke arahnya.


"Ti...ti..dak nona, saya sehat-sehat saja" jawab Meta gugup.


Tapi hati saya yang sakit Nona, batin Meta.


"Kalau beneran sakit kau pulang diluan saja, entar malah pingsan terus jadinya ngerepoti orang" ucap Bagas yang langsung membuat Reina menatap wajah suaminya dengan tajam.


"Mas kenapa judes banget sih bicaranya, mulut kamu uda mirip sama pedasnya bon cabe tau gak" kesel Reina menegur sang suami.


"Mas bicara fakta sayang, kalau dia beneran sakit terus pingsan, yang ada jadi repotkan?" balas Bagas membela dirinya sendiri.


" Saya baik-baik saja tuan" jawab Meta.


"Beneran" ucap Rangga memastikan dan di jawab anggukan kepala oleh Meta.


Raka sendiri hanya bisa menatap rekan kerjanya dengan pandangan khawatir, karena dia merasa Meta malam ini sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Saat sedang asik menikmati makanan yang tersedia di atas meja, tiba-tiba sang pemilik pesta mendatangi meja yang di duduki oleh Bagas dan lainnya.


"Selamat malam tuan Bagas, suatu kehormatan besar karena tuan Bagas menyempatkan waktu untuk bisa datang ke acara saya yang tak seberapa ini" ucap kapolda menyambut Bagas dan lainnya.


"Ini juga terpaksa karena kalian sudah bekerja keras untuk memantau dua wanita iblis yang ada di tahanan saat ini. anggap saja ini bayaran untuk bapak" jawab Bagas dengan mulut pedasnya yang membuat Reina lagi-lagi di buat kesal dengan ucapan suaminya.


"Jangan di masukin hati ucapan suami saya pak, kita ke sini juga sangat senang atas undangan bapak dan juga jamuan yang sudah bapak berikan ini" ucap Reina mencairkan suasana.


Pak Kapolda langsung tersenyum begitu mendengar ucapan Reina, sedang Bagas lagi-lagi berdecak kesal karena malah membela orang lain.


"Oiaa untuk kasus kedua wanita itu, kita sudah urus semua dan kita akan tinggal buat sidang saja kalau berkas dan bukti-bukti akuratnya sudah selesai di dapat. dan untuk yang menangani kasus mereka ada bawahan saya yang mengerjakan langsung, dan nanti tuan Bagas atau pun tuan Rangga bisa langsung menanyakan perkembangan kasusnya pada bawahan saya langsung. sebentar saya panggilkan orangnya" ucap pak kapolda sambil melihat sekeliling.


Begitu dapat yang di cari, Pak kapolda langsung memanggil namanya yang sukses membuat semua yang ada di meja itu terkejut.


"Ivo kesini sebentar" panggil pak kapolda dengan suara lantang.


Deg

__ADS_1


"Wawwww"


Tbc.


__ADS_2