
Hari hari yang di jalani Reina di rumah keluarga Kesuma semakin membuat nya tenang, hari ini Reina sedang asik menyirami tanaman yang sudah tunas di tanam nya tiga hari yang lalu.
Mama Ridha yang kebetulan baru pulang dari luar kota kemarin kini ikut menemani Reina menyiram tanaman.
" Rein hari ini tante mau ke butik, kamu mau ikut, dari pada kamu di rumah aja kan" ajak mama Ridha.
Reina yang mendapat ajakan dari pemilik rumah yang saat ini di tempati nya sebenar nya ingin ikut, tapi Reina masih takut untuk keluar rumah karena takut bertemu dengan ibu tiri dan juga saudara tiri nya.
" Rein sih ingin sekali ikut tan, tapi..." ucapan Rein gantung karena bingung gimana mau bicara nya.
Mama Ridha yang mengerti dengan ketakutan pada diri Reina pun langsung mengajak Reina untuk duduk di kursi yang ada di taman belakang.
" Rein...tante tahu kamu takut, tapi percaya lah kalau kamu aman bersama tante atau pun Bagas dan om Andre, gak ada yang berani nyakiti kamu sayang" ucap Mama Ridha berusaha meyakin kan Reina.
Reina menarik nafas sejenak kemudian langsung tersenyum dan mengangguk kan kepala nya tanda setuju untuk ikut ke butik.
Mama Ridha pun tersenyum kemudian memeluk Reina, Reina yang di peluk mama Ridha mendapat kan kehangatan yang sudah lama tidak Reina rasa kan dari seorang ibu.
" Sekarang kamu siap siap ya, kita ke butik sekarang" ucap mama Ridha yang langsung di angguki kepala oleh Reina.
Sementara di kantor Bagas, Bagas hari ini bertemu dengan pak Budi ayah Reina.
Bagas sengaja bertemu dengan Ayah Reina tanpa sepengetahuan Reina karena Bagas ingin menanyakan apa yang sebenar nya terjadi pada diri Reina.
__ADS_1
" Maaf pak Budi, anda pasti tahu kenapa saya memanggil anda ke kantor saya kan" ucap Bagas tho the point.
Pak Budi langsung mengeluar kan nafas nya dengan kasar sebeluk memulai berbicara.
" Apa yang ingin tuan Bagas ketahui tentang putri saya Reina" tanya Budi.
" Kenapa bapak membiar kan putri bapak di siksa oleh istri kedua anda dan anak nya, apa anda tidak menganggap putri anda itu anak anda lagi" tanya Bagas yang berdiri melihat ke arah jendela dari ruangan nya dan melihat gedung gedung yang tinggi walau pun kantor Bagas lah yang paling tinggi bak cakar langit.
" Saya punya alasan untuk itu tuan" ucap Budi.
" Apa pun alasan anda, tapi anda adalah ayah Reina, seorang gadis yang masih memerlukan kasih sayang dari orang tua nya, tapi anda malah diam saja saat wanita itu menyiksa Reina" ucap Bagas dengan mata elang nya yang sudah menatap pak Budi.
" Apa sampai Reina menghembus kan nafas nya bari anda akan menyesali nya" sambung Bagas.
Bagas dan Raka hanya diam melihat pak Budi sedikit meninggi kan suara nya, tapi setelah itu pak Budi langsung merubah raut wajah nya menjadi sedih.
" Saat Reina berusia 10 tahun, Diana mengoperasi kaki kiri Reina untuk memasang alat peledak, Diana berkata kalau saya membela Reina, maka Diana akan memencet remot yang selama ini di simpan nya yang aku pun sampai sekarang tidak tahu dimana wanita itu menyimpan nya" ucap Pak Budi mulai mencerita kan kenapa selama ini dia hanya diam saja saat Reina di siksa Diana dan Siska.
" Bom itu akan bekerja saat Reina berada di dalam rumah, karena jarak remot dan bom iti tidak lebih dari 10 meter saja" sambung pak Budi.
" Saya kira Diana hanya menggertak saja, maka nya saya dulu pernah membela Reina saat Reina di pukul pakai tali pinggang oleh Diana, tapi Diana langsung memencet tombol hijau, dan bunyi alar bom itu langsung berbunyi, dan apa bila Diana menekan tombol merah, maka bom itu akan meledak, dan Reina putri ku saat itu akan tiada dengan tubuh yang hancur pasti nya" ucap Pak Budi memcerita kan dengab linangan air mata.
" Sejak saat itu lah saya tidak bisa membela Reina saat mereka menyiksa putri kesayangan saya, yang terpenting saya masih bisa melihat Reina hidup walau pun mereka sering menyiksa nya" ucap Pak Budi.
__ADS_1
Dada Bagas langsung sesak saat Tahu kalau di dalam tubuh Reina ada bom peledak yang di letak kan di kaki sebelah kiri nya.
" Tapi kenapa anda tidak membawa Reina pergi saja dari rumah neraka itu, kan mereka tidak bisa menggunakan bom itu kalau kalian pergi dari sana" tanya Bagas yang sudah duduk di hadapan pak Budi.
" Saya pernah mencoba nya, tapi Diana berhasil menemukan kami, dan saat itu Reina di pasung di gudanv tua tanpa di beri makan dan minum selama satu minggu, tapi Allah masih menyayangi Reina, walau pun Reina koma selama 5 hari karena kekurangan cairan" sahut Pak Budi mencerita kan.
Bagas dan Raka terkejut mendengar cerita pak Budi, sekarang hidup di jaman modren, masih ada pasung memasung yang di lakukan oleh ibu tiri Reina.
Malang sekali hidup kamh Rein, aku berjanji akan menjaga kamj mulai saat ini, tidak akan ada yang beranu menyakiti kamu sekarang, walau pun hanya seujung kuku, batin Bagas.
Seperti nya si Bos merasa kan sesak saat pak Budi mencerita kan kisah Reina yang begitu menyedih kan, ada apa ya dengan si Bos, masa iya si Bos secepat itu jatuh cinta sama nona Reina, atau hanya kasihan saja, batin Raka yang memandang Wajah sedih Bagas.
" Tuan Bagas, saya mohon lindungi putri saya, saya gak mau Reina kembali di siksa dengan wanita itu lagi, sudah cukup dia bertahun tahun menderita, sekarang saya mau dia bahagia" ucap Pak Budi mengatup kan kedua tangan nya di dada memohon pada Bagas.
" Tanpa bapak minta, saya akan melindungi Reina pak" ucap Bagas.
" Alhamdulillah" ucap Pak Budi bersyukur karena anak nya sekarang berada di tempat yang aman.
" Tuan....saat ini anak buah Diana masih terus mencari keberadaan Reina, Diana tidak mau usaha nya sia sia selama ini kalau Reina tidak dia temuka kan" ucap pak Budi memberi tahu.
"Memang apa rencana wanita itu selama ini terhadap Reina?" tanya Bagas.
" Saat Reina berusia 21 tahun nanti, harta kekayaan yag saat ini masih bernama Reina, akam di balik nama oleh Diana, dan Reina wajib menanda tangani itu, itu lah sebeb nya Diana sampai sekarang masih terus mencari keberadaan Reina" ucap pak Budi memberi tahu.
__ADS_1
Tbc..