La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#130


__ADS_3

Hampir dua jam lamanya Bagas menunggu di depan ruang operasi, fikirannya begitu kacau saat ini, begitu di lihatnya lampu ruangan operasi sudah mati, ia langsung mendekati pintu ruang operasi, dan tak berapa lama pintu terbuka dan tampak lah para Dokter dan juga suster keluar sambil mendorong brangkar rumah sakit dimana Reina belum siuman dan akan di pindahkan ke ruangan perawatan karena saat ini kondisi Reina sudah stabil, tinggal menunggu sadar saja.


" Bagaimana keadaannya istriku?" tanya Bagas menatap wajah Reina yang masih menutup mata.


"Kondisinya sudah stabil, tinggal menunggu Reina siuman saja, mungkin lebih baik kau kunur kan bayi kalian sebelum Reina sadar" ucap Dana yang membuat Bagas langsung menatap nya.


Bagas menghela nafas sesaat kemudian mendekati brangkar Reina, di ciumnya kening Reina dengan kembut, dan tetntu saja itu semua di saksikan oleh Dana.


" Mas mau mengubur jezajah bayi kita dulu ya sayang, secepatnya Mas ajan kembali lagi ke sini" pamit Bagas dan kembali mencium kening Reina kembali.


Saat akan melangkah keluar kamar, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka terlebih dahulu dan muncul ah mama Ridha, papa Andre, Ibu Fitria dan juga Rangga, mereka suam menatap wajah Reina begitu tak tega.


Papa Andre langsung memeluk putra nya karena baru saja kehilan calon bayi mereka yang bahkan belum melihat dunia sama sekali.


" Yang sabar ya, papa yakin nanti pasti di ganti kan dengan yang lebih baik lagi" ucap papa Andre menyemangati Bagas.


Bagas hanya mampu menganggukkan kepala nya saja, mama Ridha dan Ibu Fitria sudah berada di samping tempat tidur Reina, Air mata sudah mengalir di pipi mereka, begitu mendengar kabar kalau calon cucu mereka sudah tidak bisa di tolong, rasa dunia berhenti seketika.


Rangga sendiri hanya menatap Reina dari kejauhan, untuk mendekati Reina kaki Rangga tidak mampu, itu karena Rangga masih teringat kata-kata Bagas, kalau memenang benar Reina adalah adiknya, Ranga sungguh menyesal karena tidak bisa menjaga adik dan calon koponakannya.


" Sebaiknya kau ikut dengan ku untuk mengubur kan bayi kami, dan hubungi Raka dn Meta untuk segera langsung datang ke pemakaman" ucap Bagas yang langsung di angguki kepala oleh Rangga.


Bagas ke ruang operasi, dimana jenazahnya masih berada di sana, Dana memberikan jenazah bayi bagas dan juga Reina yang masih sebensar botol kecap, di tatapnya bayi nya yang berjenis kelamin perempuan, dan tak terasa air matanya langsung menetes menatap wajah yang begitu mungil bahkan belum berbentuk sempurna.


"Kamu pasti akan menjadi bidadari di surga sayang, mama dan papa akan selalu mendoakan kamu sayang, dan suatu saat nanti kita akan berkumpul di surga yang indah, dan tuntun kami ya nak, agar bisa berkumpul bersama kamu nantinya" ucap Bagas.

__ADS_1


Dan tanpa terasa semua perawat yang ada di sana tak kuasa menahan air matanya, rasa nya begitu sedih karena melihat pemilik rumah sakit begitu terpukul karena calon anak mereka tidak bisa di selemat kan.


" Ayo Gas, kasian anak kalian kalau semakin lama di kuburnya" ucap Dana yang di jawab anggukan kepala oleh Bagas.


Kini anak Bagas dan Reina sudah di kubur, Bagas menaburi bunga di kuburan sang anak, di pegang nisan yang bertulis kan nama Mentari.


" Semoga kamu akan terus bersinar dan menyinari mama dan papa dari atas sana ya sayang" ucap Bagas kemudian mencium nisan sang putri.


" Ayo Bos waktu nya kita kembali ke rumah sakit, takutnya nona Reina sudah sadar" ucap Raka yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Bagas.


Bagas langsung berdiri dan mentap ke arah makan putrinya sekali lagi, setelah itu Bagas langsung melangkah kan kakinya untuk meninggal kan pemakaman dan kembali ke rumah sakit unttuk melihat Istri tercinta nya.


Rangga masih setia menatap makan, dan tanpa di duga dari sudut matanya keluar air mata, dengan cepat Rangga langsung menghapus nya.


di rumah sakit mama Ridha dan Ibu Fitria dengan sabar menunggu  Reina, namun sampai saat ini Reina juga belum juga sadar, ia masih betah untuk menutup matanya, padahal dana sudah berkata kalau tidak ada lagi yang d khawatir kan dengan kondisi Reina.


" Sudah hampir tengah malam tapi Reina juga belum sadar kan diri, Bagas juga kenapa sampai jam segini belum kembali ya?" tanya mama Ridha yang merasa sedikit khawatir.


" Mungkin di jalan macet, kita tungu saja sebentar lagi" ucap Ibu Fitria.


Dan benar saja, belumada lima menit Ibu Fitria berkata, pintu ruangan Reina langsung terbuka dan nampaklah Bagas, papa Andre, Rangga, dan kedua asisten pribadi Bagas dan Reina, siapa lagi kalau bukan Raka dan Meta.


" Kenapa kalian lama sekali, sudah hampir tangah malam baru balik" tanya mama Ridha.


" Maaf Ma, tadi jalanan nya begitu macet saat akan kembali ke sini" jawab Bagas.

__ADS_1


Bagas langsung menatap Reina yang belum tertidur, " Apa Reina sudah sadar Ma?" tanya Bagas.


Mama Ridha menjawab dengan gelengan kepala, Bagas merasa khawatir kenapa sampai saat ini istrinya belum juga sadar.


" Raka kau panggil Dana sekarang" perintah Bagas


Tak berapa lama datang lag Dana dengan nafas yang masih ngos-ngosan, " Ada apa Gas" Tanya Dana.


" kau bilang ada apa? kau lihat istri ku, kenapa sampai saat ini dia masih beum sadar juga, kau bilang sudah tidak ada yang di khawatir kan dari keadaan Reina" ucap Bagas dengan tatapan mata tajamnya.


Glek


Dana langsung menelan salivanya karena melihat tatapan mata Bagas yang sudh seperti ingin memakan nya hidup-hidup.


" Sabar Gas, dari yang kami lihat, saat ini kondisi Reina memang sudah tidak ada yang di khawatir kan, semua nya stabil, dan kenapa Reina masih belum sadar, bisa jadi karena kesadaran di alam bawah sadar nya, maka dari itu kau ajak lah Reina bicara agar Reina menerima rangsangan dari suara mu, dan bisa membawa Reina untuk membuka matanya" ucap Dana memberi tahu.


Bagas langsung menatap wajah Reina, di cium nya kening Reina, di rabanya wajah pucat Reina, rasa sesak langsung menyelimuti rongga dadanya.


" Tolong tinggal kan kami berdua, sebaiknya mama dan papa pulang saja istirahat, Rangga kau antar mereka pulang, dan kau Raka dan Meta kalian menginap lah di sini, kalau terjadi sesuatu aku langsung menghubungi kalian" tapi kalian cari tempat untuk kalian istirahat di ruangan lain, karena aku tidak mau di ganggu untuk malam ini" ucap Bagas dengan suara tegas nya yang masih setia menatap wajah cantik Reina.


" Dan satu lagi, aku mau kalian selediki orang yang aku curigai tadi, dan aku mau hasil nya secepatnya" lanjut Bagas.


Semua yanga da di sana langsung keluar tanpa berucap satu kata pun, semua nya tahu kalau saat ini hati Bagas masih begiti terpukul, karena istrinya masih belum sadar dan juga anak nya baru saja meningal dunia.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2