
Dicki yang mendapat tugas untuk mengatakan pada Rosa untu melanjut kan kerja sama dengan perusahaan Bos nya saat ini langsung mengabari Rosa.
Rosa yang mendapat kbar itu langsung tersenyum senang, dia pun langsung menghubungi Muklis dan memberi kan berita ini pada Muklis.
Muklis pun tersenyum senang saat tau kalau Bagas sudah berhasil masuk ke dalam perangkap nya.
Sementara Bagas, Raka dan dua orang anak buah nya yang bernama Jaka dan Ramli sedang fokus menyusun rencana untuk mengancur kan Muklis.
Bagas juga sudah mencerita kan pada papa nya soal Muklis yang mengirim kan orang untuk masuk ke dalam perusahan nya.
Dan papa Andre menyetujui apa yang sudah di rencana kan pada Bagas.
Di ruang pelatihan, Reina mendekati Rangga setelah Rangga mematikan telpon nya.
" Ada apa dengan kak Bagas?" tanya Reina yang sudah berada di hadapan Rangga.
" Kau tidak perlu tahu, tugas mu sekarang adalah berlatih sampai Bagas pulang, dan kau sudah bisa dengan ilmu bela diri mua" ucap Rangga meninggal kan Riena begitu saja.
Bukan nya Rangga gak mau memberi tahu pada Reina, tapi Rangga tidak bisa berlama lama berada di dekat Reina apa lagi berhadapan dengan Reina dan menatap wajah Reina.
Untuk melatih nya saja Rangga harus menahan diri nya dengan kuat, apa lagi ini Rangga melihat wajah nya saat Reina menatap wajah nya begitu dekat.
" Kak Bagas, apa yang terjadi di sana? dan siapa Rosa? tadi aku dengar Rangga menyebut nama Rosa sat menlepon?" ucap Reina sedikit khawatir.
Perasaan nya mendadak tidak tenang, dia langsung kembali ke kamar nya dan melihat ponsel nya, tapi nihil, tidak ada pesan atau pun telpon dari Bagas.
" Kenapa kak Bagas tidak ada menghubungi ku? apa sebegitu sibuk nya nya kah kamu kak?" ucap Reina dengan jantung yang sudah tidak nyaman.
__ADS_1
******
di sebuah kafe di kota Jerman, Bagas dan Rosa sedang makan di meja yang sama, sedang kan Raka dan Dicki di meja yang lain, itu semua karena permintaan Rosa sendiri, agar dia berbicar lebih enak kalau berdua dengan Bagas, itu lah alasan Rosa.
Karena Bagas mempunyai rencana untuk Menjatuh kan Muklis dan wanita yang ada di hadapan nya ini, Bagas pun langsung menyetujui permintaan Rosa.
Diam diam Rosa mencampur kan sesuatu ke dlam makanan Bagas saat Bagas sedang memeprhati kan ponsel nya, Rosa mengira Bagas dan Raka tidak menyadari itu, Bagas melihat ponsel karena mendapat pean dari Jaka, karena dia mendengar suara Muklis menyuruh Rosa untuk mencampur kan sesuatu pada makanan Bagas.
Setelah Rosa memasukan bubuk ke dalam makanan Bagas, Bagas langsungĀ meletak kan kembali ponsel nya ke dalam saku jas nya.
" Kenapa gak di makan pak Bagas, sebentar lagi kita akan memulai meeting nya bukan? jadi makan lah agar kita bisa dengan cepat menyelesai kan meeting kita ini" ucap Rosa yang dijawaban dengan anggukan kepala oleh Bagas.
Bagas meminum air mineral yang dari tadi di pegang nya, Ia tidak menyentuh makanan yang sudah di campur kan sesuatu di makanan nya, Rosa pun di buat tanda tanya kenapa Bagas tidak juga memakan makanan nya sama sekali.
" Apa pak Bagas tidak suka dengan makanan nya?" tanya Rosa.
" Kalau begitu pesan lagi saja pak?" ucap Rosa.
" Tidak usah, nanti saya makan di Apertemen saja saja" ucap Bagas langsung menolak.
Rosa hanya membalas nya dengan senyuman, namun hati nya mendadak kesal karena rencana nya gagal, namun dia berusaha tersenyum agar Bagas tidak curiga sama sekali.
Kau kira aku tidak tahu akal licik mu, sebelum kau mempermain kan ku, aku diluan yang mempermain kan mu dan membuat mu lupa untuk bernafas, batin Bagas yang menatap Rosa dengan sedikit tersenyum,namun di hati nya sudah seperti minyak mendidih yang siap untuk di siram kan ke wajah Rosa.
Di kamar Reina, Ponsel Reina berbunyi pesan, dengan cepat Reina mmebuka nya,begitu terbuka Reina terkejut mendapat kiriman gambar dari nomor yang tidak dikenal.
" Gak...gak mungkin Kak Bagas seperti ini, pasti ini rekan kerja kak Bagas, aku tahu bagaimana kak Bagas, aku gak boleh percaya begitu saja" ucap Reina yang menahan tangisan nya.
__ADS_1
Rangga yang sudah menyadap ponsel Reina atas perinta Bagas, dan Ponse Bagas juga sudah terhubung lansung dengan pinsel pintar nya Bagas langsung mengetahui apa yang di kirim ke ponsel Reina.
Jujur Bagas takut kalau Reina sampai marah dan kecewa, ingin rasa nya Bagas memberi tahu kan pada Reina sat itu juga, tapi dia tidak mau rencana nya gagal dan mengahancur kan semua yang sudah dia rencana kan.
Reina sendiri terduduk di taman setelah mendapat pesan dari nomor yang tidak di kenal tadi, ada perasaan takut menyelimuti diri nya.
" Bagas tidak seperti itu, itu hanya kiriman orang yang ingin menhancur kan hubungan kalian" ucap Rangga dengan wajah dingin nya.
Reina menoleh ke arah Rangga, namun dengan cepat Rangga langsung berbalik kembali ke paviluan nya meninggal kan Reina yang masih bertanya tanya, dari mana Rangga tau soal pesan yang ia dapat.
" Rangga tunggu" teriak Reina dan berhasil menghenti kan langkah kaki Rangga, namun Rangga tidak berbalik menatap Reina, dia masih setia membelakangi Reina.
" Dari mana tau soal aku yang memikir kan kak Bagas dan dan karena pesan yang di kirm oleh nomor yang aku gak ketahui" tanya Reina.
Jujur Reina melihat dir Rangga seperti manusia aneh, dia selalu tahu apa yang di fifkir kan Reina, termasuk masalah pesan yang baru saja dia dapat.
" Kau lupa siapa aku, tanpa kau cerita pun aku tahu apa yang kau fikir kan" ucap Rangga tanpa berbalik dan malah melanjut kan lagkah nya meninggal kan Reina.
Reina yang merasa kesal karena tidak mendapat jawaban dari apa yang di minta ahkir nya berteriak memaki Rangga.
"Hai manusia langkah, kalau biacara itu di lihat orang nya, kamu kira aku patung, ingat aku akan memberi tahu kan semua nya pada kak Bagas, agar kau di hukum oleh nya " teriak Reina namun Rangga tidak perduli dengan teriakan Reina dan melanjut kan langkah nya menuju paviliun yang ada di kawaan rumah besar Kesuma.
Saat berjalan meninggal kan Reina, Rangga mengangkat sudut bibir nya mendengar Reina yang memaki diri nya.
Dia memang wanita yang unik dan polos, pantes Bagas begitu mencintai nya, batin Rangga.
Tbc.
__ADS_1