La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#127


__ADS_3

Rangga menyatukan alis nya kerana merasa bingung, " Apa maksud mu? bahkan kau belum mengetahui golongan darah ku, dan kenapa kau bisa langsung menyuruh ku untuk mendonorkan darah ku untuk Reina?" tanya Rangga menatap Bagas dengan wajah penuh selidik, begitu juga dengan papa Andre, mama Ridha dan ibu Fitria yang sudah begitu degdegan.


"Karena kemungkinan besar kau adalah saudara kembar Reina yang dinyatakan sudah mati dulu" ucap Bagas dengan suara tertahan.


Deg


Semua yang mendengar ucapan Bagas langsung terkejut, termasuk Rangga yang langsung terdiam dan menatap Bagas dengan tatapan tajam.


" Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? tau dari mana kau tentang hal ini hahk" bentak Rangga.


" Tanya kan saja pada ibu mu kebenarannya, tapi yang terpenting saat ini adalah nyawa istriku yang paling utama" ucap Bagas.


Rangga menatap wajah ibu Fitria, sedangkan ibu Fitria langsung menunduk sambil menangis, Rangga langsung masuk ke dalam ke dalam ruangan dimana saat Reina sudah terbaring tidak berdaya.


Bagas juga ikut masuk untuk melihat kondisi Reina, Bagas tak kuasa melihat wajah pucat istrinya, dengan perlahan Bagas memegang tangan Reina dan menciumnya dengan perlahan.


" Sayang mas mohon bertahan lah, demi Mas dan calon anak kita sayang" ucap Bagas tak kuasa melihat keadaan Reina saat ini, dan kali ini, dan tanpa terasa Bagas juga sudah mengeluar kan air matanya karena begitu tak sanggup melihat Reina.


Begitu juga dengan Rangga yang sudah berbaring di atas brangkar tempat tidur, Rangga menatap dalam dalam wajah Reina yang pucat pasi.


Dan benar saja, setelah di periksa ternyata benar, golongan darah Reina dan Rangga sama, dan itu membuat Bagas bisa bernafas lega.


Jika kamu memang adikku Rein, kenapa kita harus di pisahkan selama ini, dan kenapa aku harus tahu dengan kondisi kamu yang sudah berbaring tak sadar kan diri seperti ini Rein, aku akan selalu melindungi kamu Rein, bertahan lah, kakak mohon,batin Rangga kemudian dia mmejam kan matanya karena sedikit merasa pusing karena darah yang di ambil cukup banyak.

__ADS_1


Setelah selesai donor darah, kini Rangga istirahat di kamar sebelah dimana Reina di rawat, Ranga menutup matanya karena masih merasakan lemas di tubuhnya, namun mata nya langsung terbuka saat mendengar suara pintu terbuka.


Di lihatnya Ibu Fitria yang masuk dengan wajah yang begitu sedih, dan di susul oleh mama Ridha dan papa Andre, Bagas saat ini sedang menemani Reina di dalam kamar perawatan Reina.


" Apa ibu sekarang mau menjelas kan apa yang tadi di katakan Bagas?" tanya Rangga menatap wajah Ibu Fitria.


Ibu Fitria langsung menatap Rangga, kemudian menatap pasasangan suami istri yang juga ingin tahu ceritanya yang sebenarnya, karena jujur saja, setau papa Andre dan mama Ridha kalau kembaran Reina saat itu memang benar-benar di nyata kan meninggal.


" Apa rahasia yang kau sembunyikan dari kami Fit, setelah puluhan tahun kau sembunyikan ini semua dari kami, tidak kah kau kasihan pada Reina kalau memang dia masih punya saudara?" tanya mama Ridha menatap wajah Ibu Fitria.


" Aku akan menceritakan nya, tapi tidak sekarang?" jawab Ibu Fitria yang langsung membuat Rangga beraksi dengan bangkit dari tempat tidur.


" Apa maksud ibu? mau sampai kapan ibu merahasia kan ini semua dari kami Bu, dan siapa aku sebenarnya? apa benar aku adalah saudara kembar Reina?" tanya Rangga dengan suara yang sudah meninggi.


" Ibu akan cerita Rangga, tapi tidak sekarang, Ibu akan menceritakan nya ketika Reina sudah sadar, dia juga berhak tahu kejadian sebenarnya" ucap Ibu Fitria yang langsung membuat Rangga terdiam dan membuang wajahnya ke arah jemdela.


" Tapi setidaknya ibu kasih tau sekarang siapa aku sebnarnya, nanti kalau Reina sudah sadar,ibu bisa menceritkan selengkapnya" ucap Rangga yang kembali menatap wajah ibu Fitria dengan memohon.


" Iya Fit, apa yang di katakan Rangga benar" ucap mama Ridha sengaja menimpali.


" Tidak, sekali tetap tunggu sampai Reina siuman baru akan menceritakan nya, kalian harus bersabar" ucap Ibu Fitria kemudian langsung keluar dari kamar ruang perawatn Rangga.


Rangga langsung mengepal kan tangan nya karena apa yang ingin di dengar nya tidak terjadi di hari itu, sedang kan ibu Fitria langsung berlari ke taman dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


" Ya Allah, apa aku sanggup menceritakan kejadian yang sebenarnya pada mereka, bahkan kakak ku saja tidak tahu rahasia ini sampai dia menutup mata, aku memang manusia yang berdosa". ucap Ibu Fitria yang sudah berada di taman rumah sakit.


Sementara Meta yang baru saja selesai melihat cctv yang ada di sekitar dapur begitu terkejut dengan apa yang di lihat nya.


" Siapa yang berani melakukan ini, ini pasti kesengajaan, tidak mungkin ada sampah kulit jeruk di situ? secara rumah ini selalu bersih?" ucap Meta bertanya-tanya.


Karena merasa penasaran, Meta langsung melihat cctv di jam sebelumnya setelah seluruh keluarga serapan pagi.


Di situ terlihat jelas papa Andre lah yang memakan jeruk yang sudah di kupas oleh mama Ridha, dan kulit jeruknya di letak di atas piring kotor, setelah serapan para pelayan yang bersih-bersih, selang beberapa menit baru lah di situ terlihat klau Reina terjatuh karena menginjak kulit jeruk.


" Tidak ada tanda-tanda mencurigakan setelah serapan, tapi kenapa tiba-tiba ada kulit jeruk di lantai ya?" ucap Meta kembali.


Setelah mendapat laporan yang ingin di lihat bos nya, dengan cepat Meta mengirim kan pada bos nya, agar Bagas bisa langsung meihat nya.


Dan benar saja, Bagas yang masih setia menjaga Reina langsung terfokus pada suara pesan yang terdenar dari ponselnya.


Ting


Dengan cepat Bagas langsung melihat hasil rekaman cctv yang sudah di copy oleh Meta.


" Tidak, ini tidak mungkin, rumah ku selalu bersih, ini pasti ada yang tidak beres, aku harus selediki lebih dalam, sepertinya ada yang ingin bermain main dengan ku" uca Bagas yang langsung menelpon seseorang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2