
Bagas begitu khawatir setelah mendengar kalau Reina tertembak, kenapa Reina bisa tertembak semua nya masih ada di dalam benak pikiran Bagas, dan jantung Bagas pun mendadak langsung nyeri saat mendapat kan kabar Reina tertembak dari anak buah nya.
" Cepat lah sedikit Raka, kenapa kamu malah mendadak lamban begini" bentak Bagas pada Raka.
" Ini sudah kecepetan di atas rata rata bos" sahut Raka yang bingung melihat bos nya yang tiba tiba marah.
Mobil yang di supiri Raka sudah tiba di depan lobi rumah sakit milik bos nya, Bagas langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah sakit.
Raka yang melihat bosa nya begitu khawatir hanya bisa terbengong saja, karena tidak biasa nya bos nya begitu khawatir pada orang lain selain kedua orang tua nya.
" Bener bener ya si bos, seperti nya si bos emang sudah benar benar jatuh cinta dengan nona Reina" ucap Raka kembali malaju kan mobil nya untuk di parkir kan.
Sementara mama Ridha yang menunggu di depan ruang operasi sedikit gelisah dengan keadaan Reina.
Mama Ridha merasa bersalah karena sudah membuat Reina sekarang berada di ruang operasi.
" Ma" panggil Bagas saat melihat mama nya duduk di depan ruang operasi.
" Bagas" sahut mama Ridha.
" Apa yang terjadi Ma, kenapa Reina bisa tertembak" tanya Bagas yang kelihatan panik.
" Tenang lah Gas, mama yakin Reina tidak kenapa napa, ini semua salah mama, mama yang mengajak Reina ke luar rumah, itu semua mama lakukan karna mama gak tega lihat Reina di rumah terus, tapi saat kami pulang, mobil kami di jegat oleh orang dan Reina malah tertembak saat mama sedang melawan penjahat itu" ucap mama Ridha memberi tahu pada Bagas.
Bagas yang mendengar cerita mama nya langsung menarik nafas dengan berat.
" Tapi mama gak kenapa napa kan?" tanya Bagas kumudian yang khawatir juga dengan kondiai mama nya.
" Mama gak kenapa napa sayang,kamu kan tahu ilmu bela diri mama gimana" sahut mama Ridha masih bisa menyombong kan diri nya.
Bagas hanya bisa memasang wajah males mendengar ucapan mama nya.
__ADS_1
Raka yang sudah selesai memarkir kan mobil nya, langsung menyusul bos nya.
" Bos" sapa Raka.
Bagas dan mama Ridha langsung menoleh ke arah Raka.
" Selamat siang Nyonya" ucap Raka saat melihat mama Ridha.
" Ck..kau sudah berapa kali tante bilang, kalau panggil saja tante, karna aku sudah menganggap mu anak ku juga, tapi otak mu itu seperti nya sudah tumpul, maka nya kau tak pernah mengerti apa yang tante bilang pada mu" ucap mama Ridha pada Raka.
Raka hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Ka, siapa bodigat yang menjaga mama kalau mama lagi di luar?" tanya Bagas pada Raka.
" Biasa nya yang menjaga tante Ridha itu tim Dimas bos" sahut Raka.
" Cepat kau tanya pada nya kenapa dia tidak ada saat mama lagi di serang sama orang, dan cari tahu siapa yang sudah menyerang mama dan Reina tadi" ucap Bagas dengan wajah yang sudah merah padam.
" Baik Bos" sahut Raka kemudian langsung mengeluar kan ponsel nya dari kantung celana nya dan langsung menghubungi seseorang.
" Tapi bukan berarti mereka langsung melepas kan tugas nya begitu saja Ma, kalau mama kenapa napa bagaimana" bantak Bagas.
Mama hanya diam sambil menarik nafas, saat suasana Bagas sudab tegang, tiba tiba pintu ruangan operasi terbuka dan keluar lah para dokter yang bertugas mengoperasi Reina.
Bagas dan mama Ridha pun langsung menghampiri Dana dan dokter lain nya.
" Bagaimana?" tanya Bagas langsung.
Dana langsung menarik nafas dan mengeluar kan nya dengan perlahan melihat kekhawatiran di mata Bagas.
" Tenang lah Gas, gadis mu tidak kenapa napa, hanya bahu nya saja yang terluka sedikit akibat terkena tembakan, sekarang keadaan nya sudah tidak apa apa" ucap Dana memberi tahu.
__ADS_1
" Apa maksud mu menyebut Reina gadis ku?" tanya Bagas tak terima.
" Ck...bukan nya kamu begitu khawatir pada nya, aku tahu kamu seperti nya ada something pada nya" ucap Dana tetapi malah mendapt tatapan tajam dari Bagas.
Itu semua dapat di lihat oleh mama Ridha, dan mama Ridha pun begitu senang saat melihat Bagas saat di bilang kalau ada something pada Reina.
" Reina sudah di pindah kan ke ruang perawatan, kamu bisa menunggu nya di sana, tapi ingat..kamu jangan menganggu nya, karena dia belum sadar akbita obat bius" ucap Dana kemudian pergi setelah pamit pada mama Ridha dan memukul bahu Bagas tanda sohib.
Sementara Raka yang selesai menelpon seseorang langsung menghampiri Bagas dan mama Ridha.
" Maaf bos, bisa kita bicara sebentar" ucap Raka dengan sopan.
" kata kan saja di sini Raka" ucap mama Ridha karena ingin tahu juga info yang sudah di dapat oleh asisten putra nya.
Raka menatap Bagas, Bagas yang mengerti maksud tatapan Raka pun langsung mengangguk kan kepala nya tanda tidak apa apa kalau mama nya juga mengetahui info yang akan Raka beri tahu.
"Saya sudah menelpon Tim Dimas bos, dan dari info yang saya dapat dari mereka, kalau orang yang menyerang tante Ridha dan Nona Reina tadi adalah orang suruhan Siska yang tak lain adalah saudara tiri nona Reina" ucap Raka memberi tahu.
" Sudah ku duga" ucap Bagas.
" hubungi Bobi, suruh dia hancur kan wanita ular itu sekarang juga" ucap Bagas yang sudah emosi.
" Baik bos" sahut Raka dan kembali berjalan beberapa meter dari Bagas dan mama Ridha untuk menelpon seseorang.
" Siapa Siska Nak? dan kenapa dia ingin menyakiti Reina?, apa yang sudah kamh ketahui tentang Reina?, dan kenapa kamu tidak memberi tahu mama dan papa?" tanya Mama Ridha yang memberondang pertanyaan nya pada putra semata wayang nya.
" Ck..Ma..kalau nanyak satu satu dong, Bagas akan cerita kan sama mama semua nya, tapi tidak sekarang Ma, tunggu Reina siuman dan pulih dulu" ucap Bagas.
" Baik lah, kamu hutang penjelasan sama mama" sahut mama Ridha kemudian langsung meninggal kan Bagas begitu saja menuju ruang perawatan Reina.
Begitu mama nya sudah pergi,Bagas langsung mengepal kan tangan nya kuat karna sudah begitu emosi dengan kelakuan saudara tiri Reina.
__ADS_1
" Aku gak akan biar kan kalian menyentuh Reina seujung kuku pun, akan ku balas perbuatan mu lebih sakit dari ini" ucap Bagas kemudian pergi menuju ruangan perawatan Reina.
Tbc