La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#139


__ADS_3

Hati Reina saat ini begitu kesal setelah pulang dari kantor suaminya dan juga kantor kakaknya, kejengkelan yang di alaminya saat ini membuat kepalanya mendadak pusing seketika, Meta yang melihat nona bosnya sambil menyetir hanya bisa mengamati mimik wajah Reina seperti ada yang tidak beres.


" Kita mau kemana Nona?" tanya Meta sambil melihat ke arah Reina dari kaca spion mobil.


" Pulang" jawab Reina.


Bagas sendiri setelah menerima telpon dari kakak iparnya langsung merasa bersalah karena Rangga mengatakan kalau saat ini Reina begitu kesal pada karena sudah di abaikan satu hari ini.


" Kenapa aku jadi tidak enak gini ya? padahal aku mau mmeberikan kejutan untuk istriku tercinta karena besok adalah Anniversary pernikahan kami" ucap Bagas.


Begitu juga dengan Rangga, yang entah kenapa jantung nya mendadak nyeri setelah melihat kepergian adiknya dengan wajah yang begitu kesal.


"Apa aku keterlaluan ya? perasaanku mendadak jadi gak enak gini?" ucap Rangga sambil meraba dadanya merasakan detak jantung yang berdetak lebih kencang.


Sementara Meta yang baru memasuki pekarangan kediaman Kesuma langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk.


Reina langsung keluar dan melangkahkan kakinya untuk masuk dan berniat untuk beristirahat di kamar, namun langkahnya terhenti saat Reina melihat Ria sang pembantu baru kini ada di hadapannya.


Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing, sekelebet ingatan tiba-tiba terlintas di kepalanya begitu melihat wajah Ria di hadapannya. Meta yang baru saja masuk terdiam melihat sang Nona yang berdiri dan menatap ke arah Ria dengan begitu tajam.


" Nona Ada apa?" tanya Meta dan langsung membuyarkan semua ingatan yang melayang di kepala Reina.


Dengan cepat Reina kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan berhenti sejenak saat melewati tubuh Ria di sampingnya.


Meta hanya menatap wajah Ria dengan tatapan tajamnya, setelah itu dia menyusul nonanya untuk melihat keadaan nonanya baik-baik saja, namun langkah kakinya terlambat karena Reina sudah menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Ahk sial, aku terlambat melihat kondisi nona Reina, tapi sebaiknya aku tunggu di sini saja, sepertinya ada yang tidak beres dengan nona Reina saat melihat wanita itu" monolog Meta.


Di lantai bawah, Ria juga sedikit merasa penasaran, kenapa Reina bisa melihatnya seperti itu, ada perasaan getar getir di diri Ria, apa semua yang dia lakukan akan ketahuan,.

__ADS_1


" Gak...wanita itu belum saatnya tahu kalau aku yang menyebabkan dia terjatuh dan aku yang memberikan dia ramuan agar dia tidak mengingat kejadian itu" batin Ria menatap kelantai atas.


Sementara di kamar, mendadak kepala Reina semakin pusing, bayangan yang dia terjatuh sampai kehilangan bayinya tiba-tiba terlintas lagi.


Reina memeras rambutnya, air mata langsung menetes di pipi mulusnya, rasa sesak kembali menyeruk di dalam dadanya. Bayangan Reina terjatuh karena faktor kesengajaan dan dengan sedikit dorongan ahkirnya kepala Reina membentur ujung tangga, dan keteika Reina menjerit dengan secepat itu Ria memasukkan satu ramuan ke dalam mulut Reina agar Reina tbisa melupakan kejadian yang baru saja di alaminya, dan bisa melupakannya tanpa dia harus mengalami amnesia.


Namun saat ini yang di harapkan Ria tidak sesuai harapan, entah kenapa Reina tiba-tiba bisa mengingat kejadian yang begitu membuat Reina terpukul sampai dia kehilangan nyawa anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


Karena merasa tidak tahan dengan ingatan yang di alami Reina, dan suara tertawa karena berhasil telah membuat Reina terjatuh, darah yang mengalir di kepalanya, semuanya teringat di kepala Reina, dan dengan cepat Reina mengambil benda di atas meja riasnya dan langsung membantingnya di cermin yang ada di hadapannya.


CETAAAAAAAAAR


Bunyi pecahan kaca langsung terdengar di teliga Meta," Nona Reina" ucap Meta langsung berdiri ke arah pintu kamar nona bosnya.


DOR


DOR


DOR


Namun Reina sama sekali tidak mendengarnya karena suara tertawa Ria yang membiarkan dirinya terjatuh mengiang di telinganya, darah yang menetes di kepalanya terus terngiang, dan kata-kata suaminya yang mengatakan kalau anak yang ada di kandungannya sudah tidak bernyawa, semuanya kembali terinat di memori Reina.


Reina melangkah ke arah balkon karena suara-suara yang membuatnya bingung seperti menghentahuinya, suara gedoran dari Meta sama sekali tidak terdengar di telinganya, langkah kaki Reina terus saja melangkah sambil dia meremas rambutnya, dan tiba-tiba saja dia kembali mengingat dimana mimpinya saat anaknya di ambil oleh kedua orang tuanya.


Nafas Reina semakin memburu, kini Reina sudah berada di balkon kamarnya, panasnya sinar matahari sore tak membuat langkahnya terhenti, Meta sudah semakin panik, dia berteriak memanggil anak buah Bagas agar segera mendobrak pintu kamar bosnya.


Di luar mobil Bagas baru saja masuk ke pekaranan rumah, saat akan turut bagas melihat kehebohan di dalam rumahnya, dengan cepat Bagas langsung masuk, namun baru beberapa langkah, Bagas terhenti karena mendengar kalau istrinya mengurung di dalam kamar dan mendengar suara pecahan kaca.


Dengan cepat Bagas kembali berlari, dan melihat anak buahnya sedang berusaha mendobrak pinru kamarnya dengan Reina, di ujung pintu Bagas melihat Meta yang sudah begitu ketakutan kalau terjadi sesuatu pada nona bosnya.

__ADS_1


" Minggir kalian semua, biar aku yang dobrak" ucap Bagas dan semua anak buah Bagas langsung minggir seketika.


Dengan dua kali tendangan di bantu anak buah Bagas, pintu kamar Bagas terbuka dengan sempurna, mata Bagas langsung melihat isi kamar yang berantkan dengan pecahan kaca.


" Sayang" teriak Bagas namun tidaka da sahutan dari mulut Reina.


Meta membulatkan matanya saat melihat nonanya sudah berada di ujung balkon dengan keadaan yang begitu prihatin.


" Bos nona Reina" teriak Meta yang langsung melihat arah yang di tunjukan Meta.


Mata Bagas juga membulat melihat sang istri di ujung balkon, dengan cepat Bagas berlari sekuatnya agar tidak terjadi sesuatu pada sang istri.


Meta dan seluruh anak buahnya begitu panik melihat atraksi Reina, mereka berdoa agar Reina tidak terjatuh ke bawah.


Kaki Reina terus melangkah dengan bayangan yang mengisi memori otakknya, dan di langkah terahkir Reina tiba-tiba dirinya tersadar karena dia tidak lagi merasakan hawa panas dari lantai yang di pijaknya.


" AAaaaaaaaahkkkk" teriak Reina karena tersadar dari apa yang di pikirkan nya tadi.


" SAYAAAAAAAANG"


"NONAAAAAAAA"


Tbc.


Waduuuh Othor deg-degan nulisnya, kenapa ya Reina tiba-tiba bisa meningat kejadian yang sempat membuatnya deperesi akibat kehilangan anaknya.


Ikuti terus ceritanya ya readers tercinta.


dan jangan lupa untuk selalu dukungannya, plisss.

__ADS_1


Love You.


__ADS_2