La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#109


__ADS_3

Di sebuah kafe tempat dimana Bagas dan Raka saat ini sedang mengadakan meeting dan clientnya merasa uring uringan karena sampai saat ini istrinya tidak membalas pesan nya.


Kamu lagi ngapain sih sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku dari tadi, batin Bagas dengan bolak balik melihat ponselnya yang ia letak di atas meja sambil sesekali memperhatikan clientnya berbicara.


Raka yang melihat bosnya begitu gelisah hanya bisa ngebatin di dalam hati saja.


Ada apa dengan kmau Bos, kenapa kamu begitu gelisah, apa ini semua karena nona Bos, batin Raka.


Sementara di sebuah gedung yang tak kalah megahnya dengan gedung milik Kesuma Group, Reina duduk di hadapan Rangga yang saat ini sedang menundukan wajahnya tanpa berani menatap wajah Reina yang begitu tajam menatapnya.


" Katakan!" ucap Reina dengan wajah dingin.


Meta yang melihat nona bosnya begitu dingin tiba-tiba merasa suhu ruangan di tempat dia berdiri mendadak semakin dingin.


Kenapa wajah Nona bos begitu seram, apa karena sudah ketularan dengan wajah Bos Bagas ya, mirip malaikat pencabut nyawa, batin Meta.


" Kak Rangga, Apa kakak tuli setelah bermesaraan dengan wanita tadi?" tanya Reina dengan wajah yang semakin dingin dan kejam.


" Rein dia bukan siapa-siapa, dan kamu juga tidak berhak mengatur kehidupan ku" ucap Rangga ahkirnya bersuara.


" Aku tidak perduli kakak berkencan dengan seratus wanita pun, tapi tidak di kantor ini, karena aku tidak mau perusahaan peninggalan kedua orang tua ku tercoreng karena kelakuan kakak" bentak Reina tidak terima dan langsung berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


" Ini yang terahkir kalinya aku melihat kejadian seperti tadi" Ucap Reina memperingati Rangga kemudian langsung pergi begitu saja tanpa mau mendengar penjelasan dari Rangga.


Meta mengikuti Reina di belakangnya, Meta tidak berani bersuara begitu melihat wajah nona Bos nya yang begitu terlihat menyimpan kekesalan, setelah berada di loby kantor, dengan cekatan Reina langsung membuka pintu mobil belakang untuk nona bos nya, setelah masuk Reina pun langsung memutari mobilnya dan langsung melajukan mobilnya.


Di tengah jalan Reina masih mengingat kejadiandi kantor saat masuk ke dalam ruangan Rangga, seorang wanita sedang duduk di atas pangkuan Rangga dan bercumbu mesra di ruangan itu, Reina yang melihatnya begitu marah karena Rangga bukannya bekerja tap malah membawa perempuan untuk berbuat yang tidak-tidak di perusahaan milik kedua orang tuanya.


" Meta kita pulang saja, tapi setelah pulang nnati tolong kamu carikan aku lontong sayur  ya, entah kenapa aku ingin memakannya" ucap Reina yang angsung di jawab anggukan kepala oleh Meta sambil fokus menyetir.


" Baik nona" sahut Meta.


Ya Allah dimana aku cari lontong sayur yang sudah hampir sore hari gini, nona bos ada-ada saja sih, apa aku tanyakan pada Raka saja ya, dia kan serba tahu, batin Meta.


Setelah menurun kan nona bosnya, Meta kembali melajukan mobilnya membelah jalanan untuk mencari pesanan nona bosnya, dari mulai jalan besar sampai ke jalan perkampungan Meta belum juga menemukan pesanan untuk nona bosnya.


Sementara Bagas yang baru selesai meeting langsung keluar dari kafe, namun saat dia ingin memasuki mobil mewahnya yang di supirin Raka, mata Bagas ,menatap mobil istrinya yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari kafe tempat Bagas dan raka meeting.


" Raka bukankah itu mobil istriku, ngapai mereka sampai di sini" tanya Bagas menujuk ke arah mobil istrinya terparkir.


" Mari Bos kita kesana" ajak Raka yang langsung di jawab angguki kepala oleh Bagas.


Raka langsung melajukan mobil nya menuju tempat mobil istrinya terparkir, saat sudah dekat, Raka dan Bagas langsung turun dan mengetuk kaca  mobil istrinya, Meta yang sedang melihat ponselnya yang sedang melihat aplikasi dimana di jam sore hari ada yang menjual lontong sayur terkejut mendengar kaca mobilnya d ketuk, begitu melihat  bonya yang mengetuk, Meta langsung membuka mobilnya dan segera keluar.

__ADS_1


" Kamu sendiri? istri saya mana?" tanya Bagas yang sudah was-was kalau istrinya sedang bersama Rangga berdua.


"Itu bos, Nona Reina sudah" ucapan Meta terpotong karena Bagas bersuara kembali.


" Dimana Meta, apa kamu lupa sama pesan saya kalau jangan biar kan Rangga berdekatan dengan istri saya, tapi ini kamu malah meninggal kan mereka berdua, kamu tidak mengingat pesan saya" bentak Bagas karena sudah termakan api cemburu menduga kalau istrinya sedang bersama Rangga berdua saat ini"


Meta langsung menggelengkan kepalanya karena apa yang di katakan bos nya tidak benar.


" Bu..bukaan Bos, nona saat ini" ucapan Meta lagi-lagi terpotong oleh suara Bagas.


" Saat ini apa Meta, bicara yang jelas atau aku akan memecatmu" bentak Bagas lagi.


" Nona Bos saat ini ada di" lagi-lagi terpotong karena Bagas yang sudah begitu tidak sabar mendengar jawabannya yang keliar dari mulut Meta.


" Raka ayo cepat ke perusaahn istriku, aku tidak percaya dengan Rangga" ajak Bagas yang langsung di jawab Raka dengan anggukan kepala.


Meta yang mendengar bosnya ingin ke perusahaan istrinya langsung mecegahnya, dan membuat Bagas dan Raka langsung menhentikan langkahnya.


" Bos nona Reina sat ini tidak ada di sana, tapi di rumah Bos" teriak Meta dan langsung membuat Bagas dan Raka menghentikan langkah kaki mereka.


" APA" ucap Bagas berbalik badan dan melihat Meta.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2