La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#117


__ADS_3

Di negara lain, sepasang suami istri sedang duduk dengan seseorang yang sudah begitu lama tidak bertemu, sudah belasan tahun mereka tidak bertemu dan ahkir nya mereka di pertemukan dengan ketidaksengajaan.


" pasti sekarang dia sudah besar dan sangat cantik?" ucap seseorang dengan senyuman yang melekat di bibirnya.


" Ya kau benar, bahkan dia sangat cantik melebihi kecantikan ibunya" balas mama Ridha dengan senyuman di wajahnya membayangkan wajah Reina sang menantu.


" Apa kalian sudah mengatakan pada gadis itu kalau dia mempunyai saudara?" tanya orang tersebut menatap wajah papa Andre dan Mama Ridha secara bergantian.


Mama Ridha menatap wajah papa Andre, Papa Andre hanya bisa mendesah sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.


" Aku berfikir itu semua akan tahu dengan sendirinya, jadi kita tidak perlu memberitahunya, lagian saat ini mereka juga bersama, dan keduanya belum mengetahui kalau mereka bersaudara" ucap papa Andre memberi tahu.


" Saran ku kau harus beri tahu pada Reina kalau dia masih mempunyai saudara yang begitu menyayanginya, aku tidak mau dia salah paham dan marah karena selama ini dia sendirian saat hidup nya menderita dulu akibat keserakahan Diana" ucap Orang tersebut memberi tahu.


" Tidak semudah itu Fitria, kau tidak tahu bagaimana Reina menderita saat tahu ayahnya dulu pura pura membencinya karena ulah Diana" ucap mama Ridha memberitahu.


" Dan kau tidak tahu setelah Reina menikah dengan Bagas pun, Muklis tiba tiba datang mengakui kalau dia adalah saudara sepupu dari ibunya, di tambah Reina selalu di teror akan di bunuh saat itu" sambung mama Ridha menceritakan kejadian akhir akhir ini pada Fitria saudara Adik kandung dari Ayah Reina


Fitria hanya bisa menganggukan kan kepalanya sambil menarik nafas dalam dalam, dia merasa bersalah karena tidak bisa membantu keponakan nya dulu.


" Tapi saran ku sebaiknya kalian beritahu pada Reina secepatnya kalau dia masih punya saudara yang akan selalu melindunginya" ucap Fitria kemudian menyesap minuman yang ada di hadapannya.


*****


Sementara di kediaman rumah besar Kesuma, Reina, Bagas dan Rangga sama sama menatap asinan pepaya yang sudah di buat oleh Raka dan Meta.


Bagas dan Rangga yang melihat asinan di hadapan mereka merasa ingin muntah duluan sebelum memakannya, sedangkan Reina sudah tersenyum senang dan menatap suaminya dan Rangga secara bergantian.


" Sayang kamu yakin mau memakan asinan ini?" tanya Bagas menujuk ke arah asinan pepaya di atas meja.

__ADS_1


" Siapa bilang Reina yang akan makan asinan ini sayang" jawab Reina.


" Lalu?" tanya Bagas dan Rangga secara bersamaan.


Raka dan Meta sudah saling pandang dengan jantung yang berdebar hebat, mereka berdoa agar bukan mereka lah yang terkena sasaran untuk menekan asinan pepaya tersebut.


*Ya Allah semoga bukan aku yang di suruh nona Reina, aku saja tak yakin dengan asinan buatan ku ini, batin Raka berdoa dalam hati.


Mudah mudahan suaminya yang di suruh makan ya Allah, kan suaminya yang nanam bibit di rahim nona Reina, batin Meta*.


" Kak Rangga makan asinannya, kakak kan paling suka makan yang namanya asin asin" ucap Reina dengan senyuman manis nya.


Deg


Jantung Rangga mendadak ngilu ketika mendengar Reina menyuruhnya makan asinan Pepaya di hadapannya.


Mata Rangga melihat ke arah asinan yang gak ada mirip mirip nya dengan asinan yang pernah iya temukan, ini lebih mirip dengan bubur pepaya yang sedikit berbentuk namun lebih banyak hancur nya.


Bagas, Raka dan Meta menahan tawa karena Reina menyuruh Rangga untuk mencicipi asinan pepaya nya.


Mereka bertiga mengucap syukur karena bukan mereka yang di suruh mencobanya.


"Eheeemmm" Rangga berdehem.


" Rein, kakak akan mengabulkan kan semua permintaan mu, tadi dengan yang satu ini" ucap Rangga dengan suara dinginnya.


Wajah Reina langsung di Teluk saat mendengar penolakan dari Rangga.


" Jadi kakak tidak mau mencoba memakan asinan pepaya ini" ucap Reina dengan mata yang sudah berkaca kaca.

__ADS_1


" Tidak" jawab Rangga dengan cepat.


" Mas" panggil Reina pada Bagas dengan wajah yang sudah di buat sesedih mungkin.


Bagas menghela nafasnya menatap wajah sedih istrinya.


" Ngga kau coba saja sedikit, apa kau tidak kasihan pada istriku, ini permintaan calon anak kami" ucap Bagas.


" Kenapa tidak kau saja yang makan, itu kan anak mu bukan anak ku, kau yang membuat dan menikmati, lantas kenapa jadi aku yang mencoba makanan aneh ini" ucap Rangga yang membuat Bagas langsung menatap Rangga dengan tajam.


Reina diam saat mendengar perkataan Rangga, di tatap nya wajah suaminya sesaat, kemudian dia kembali menatap wajah Rangga yang sedang menatap wajah suaminya.


" Benar juga apa yang di katakan kak Rangga, biar Mas juga ikutan makan asinan nya, jadi calon ayahnya juga ikut merasakan asinan buatan om Raka dan aunty Meta" ucap Reina dengan wajah polosnya.


Bagas dan Rangga langsung menatap wajah bodoh Reina yang tersenyum sambil mengelus perut Datanya.


" Sayang, gak bisa gitu dong, tadi kan kamu mintanya Rangga, kenapa malah jadi Mas ikut di suruh mencoba makanan aneh ini" tolak Bagas dengan lembut.


" Jadi Mas juga tidak mau mencobanya, baiklah tidak apa apa" ucap Reina.


Bagas tersenyum senang karena Reina tidak marah karena dirinya tidak mau mencoba asinan pepaya buatan Raka dan Meta.


" Tapi jangan salah kan Reina kalau Reina akan mencari ayah baru buat anak kita nanti" sambung Reina yang langsung membuat senyum di bibir Bagas pudar seketika.


Reina langsung berjalan naik ke lantai untuk masuk ke dalam kamar, Bagas masih shock mendengar ucapan istrinya, sedang kan Rangga, Meta dan Raka hanya bisa menahan senyum melihat wajah bos nya yang sudah tidak berkutik.


Seketika kesadaran Bagas tersadar saat mendengar suara bantingan pintu dari lantai atas.


Jedaaaar ( anggap aja suara pintu di banting ya)

__ADS_1


" Sayang" teriak Bagas dan langsung berlari ke kamar mereka.


Tbc.


__ADS_2