La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#104


__ADS_3

Assalamualaikum readers tercinta.


Author mau minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh readers tercinta karena author sudah tidak Up di karenakan author dalam satu minggu ini ada urusan yang benar-benar tidak bisa di tinggal dan author sama sekali tidak bisa menulis.


Dan Insya Allah kedepannya Author akan usaha kan untuk selalu Up walau pun hanya satu bab saja ya, doa kan author ya readres semua agar urusan author di dunia nyata cepat selesai dan bisa kembali up seperti dulu lagi.


Langsung saja kita kembali ke sambungan ceritanya yaa....


Happy Readiiing


Menjelang sore hari, Reina yang sudah begitu bahagia menyiram tanaman di halam depan rumah, dan tentunya di temani para bodiguard Bagas sang suami.


Namun siapa sangka, ternyata Diana saat itu juga berada tak jauh dari kediaman rumah besar Kesuma.


Alaram yang memang di pasang untuk musuh terdengar nyaring di ruang kerja papa Andre, dengan cepat papa Andre langsung melihat cctv yang ada di seluruh keliling rumahnya melihat siapa musuh yang ada di sekitar rumahnya.


Dengan memperhatikan sebuah taksi berhenti sekitar 500 meter dari rumah besar Kesuma, papa Andre bisa melihat kalau di dalam taksi tersebut adalah Diana yang sedang memperhatikan keadaan sekitar rumah besar Kesuma.


" Ternyata kau datang sendiri tanpa di undang Diana, tunggu lah kejutan untuk mu, aku yakin hari ini juga ajal akan menjemput mu" ucap papa Andre sambil tersenyum sadis.


Dengan cepat papa Andre langsung mengabari seluruh anak buahnya untuk menyuruh menantunya segera masuk, dan menghubungi Rangga untuk berjaga-jaga apabila Diana tiba-tiba membawa anggota baru untuk membantunya dalam bekerja.


" Nona tuan besar menyuruh nona masuk ke dalam rumah arena saat ini keadaan di luar sedang tidak aman" ucap suruhan papa Andre pada Reina.


Reina langsung terdiam seketika dengan air yang mengalir begitu saja, dengan melihat sekeliling Reina langsung melempar selang yang ia pegang dan langsung masuk saat itu juga ke dalam rumah.


Reina dengan cepat melangkah ke dalam kamarnya di lantai dua, dan karena penasaran, Reina melihat dari jendela kamarnya, mata nya langsung melotot saat melihat Ibunya sedang berada di dalam taksi dan melihat ke arah rumah besar.


" Ibu, ternyata Ibu sampai sekarang belum puas untuk menghancur kan ku, kenapa Ibu begit tega pada ku" ucap Reina dengan wajah sedihnya.


Mama Ridha yang kebetulan baru pulang dari Arisan tidak memperhatikan kalau ada taksi yang tak jauh dari gerbang ruamhnya, mobil yang di naiki mama Ridha langsung masuk ke dalam setelah pintu gerbang besar sudah di buka, dan kesempatan itu lah yang di ambil oleh Diana.


Dengan cepat Diana menyuruh supir taksi itu untuk jalan, dan Diana langsung melempar kan dengan cepat bom molotofke dalam rumah besar Kesuma bertepatan mama Ridha keluar dari dalam mobil, dan hal itu dapat di lihat langsung oleh Reina dari dalam kamar.


" Mama Awaaaaas" Teriak Reina dari atas balkon kamarnya saat melihat Diana akan melempar bom kepekarangan rumah besar Kesuma.

__ADS_1


Mama Ridha yang awalnya tidak tahu apa-apa, berkat teriakan menantunya, Mama Ridha langsung berlari dengan cepat, begitu juga dengan bodiguard yang ada di sekitar mama Ridha langsung tiarap seketika.


BUUUUUUUUMMMMM


Bunyi ledakan bom molotof itu langsung terdengar begitu kuat, Reina sendiri menutup telinganya dan bersembunyi di balik tembok.


Diana begitu puas karena melihat ada korban yang terkena bom molotof hasil lemparannya, dan pikiran Diana itu adalah mama Ridha yang terkena bom molotof itu karena teriakan suara perempuan.


" Hahaha, ahkirnya aku bisa membalas mu wanita ******, kau sudah merebut apa yang aku ingin kan dari dulu Ridha, dan sekarang saatnya kau mati terbakar" ucap Diana dengan senyum puas nya.


Saat Diana menyuruh supir taksi tersebut untuk melajukan mobilnya, Ia begitu terkejut melihat seluruh anak buah papa Andre sudah menghadang  taksi yang di naiki Diana.


Prok...Prok..Prook


Sebuah tepuk tangan terdengar di telinga Diana dan membuat Diana langsung menoleh kearahnya.


" Sebeuah keberanian yang luar biasa, tamu tak di undang telah hadir ke tempat ini untuk mengantar kan nyawa" ucap papa Andre berada tepat di sebelah taksi yang di naiki Diana.


Dengan membuka paksa pintu taksi, anak buah papa Andre langsung menyeret Diana keluar dengan kasar.


" Lepaskan dia, biar kan dia berdiri sendiri, tidak usah di pegangi, karena dia juga sebentar lagi tidak akan kuat untuk berdiri sendiri setelah melihat apa yang telah dia perbuat dengan tangan nya sendiri" perintah papa Andre pada anak buahnya.


" Apa maksudmu?" tanya Diana karena tidak mengerti.


Papa Andre tersenyum mendengar pertanyaan Diana, " Kau bisa melihatnya sendiri hasil perbuatan mu Diana" ucap papa Andre sambil mengarahkan tangannya ke arah api yang mengenai tubuh seseorang yang sudah di padamkan.


" Buat apa kau menyuruh ku melihat wanita ****** itu, bahkan aku sudah puas bisa membuat tubuhnya terbakar, agar kau jijik melihat tubuhnya yang mengerikan saat ini" jawab Diana dengan percaya dirinya.


Papa Andre tertawa mendengar ucapan Diana, " Apa kau tidak mau melihatnya, aku takut kau akan menyesal Diana kalau kau tidak mau melihatnya, sebelum aku membawanya kembali masuk" perintah papa Andre kembali.


" Tidak sudi aku melihat wajah istrimu yang begitu jijik untuk di lihat" tolak Diana dengan wajah sombongnya.


" Wajah siapa yang kau katakan jijik wahai wanita iblis" tanya seseorang yang langsung membuat Diana membalikkan tubuhnya saat itu juga.


" Kau" ucap Diana dengan wajah terkejut melihat mama Ridha masih sehat berdiri di hadapannya saat ini, bahkan tidak ada luka bakar sedikit pun di kulit mulus mama Ridha.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin, bukan kah tadi aku melempar bom itu ke arah mu, lalau siapa yang terkena bom itu kalau bukan kau?"tanya Diana sedikit tidak percaya.


" Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk melihat Diana, sebelum aku kembali membawanya masuk" ucap papa Andre sekali lagi yang membuat Diana langsung melihat papa Andre dan mama Rdiha secara bergantian.


Dengan langkah berat, Diana berjalan ke arah seseorang yang tergeletak tak jauh dari mama Ridha berdiri saat ini, dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, Diana seketika langsung menutup mulutnya saat yang ia lihat adalah putrinya yang terkena lemparan bom molotof.


" Siska, Gak..Gak mungkin, gak mungkin, ini gak mungkin" ucap Diana yang begitu terkejut dengan apa yang di lihat.


" Siska atau Miranda?" tanya mama Ridha yang langsung membuat Diana menatap mama Ridha saat itu juga.


" Siapa wanita itu Diana, bukan kah dia Miranda, rekan bisnis Bagas yang bekerja sama dengan Hendrik, yang kau suruh untuk membunuh Putra ku Bagas dan Raka?" tanya mama Ridha lagi yang kembali membuat Diana terdiam menatap wajah Siska putrinya yang sudah di operasi plastik menyerupai Miranda teman Bagas yang juga sudah di bunuh oleh Diana untuk melancarkan aksinya demi menghancur kan keluarga Kesuma dan juga Reina.


Diana terduduk seketika saat melihat anaknya sudah tergeletak dengan luka bakar hampir di seleruh tubuhnya.


" Lepaskan kan putriku Ridha, dia tidak bersalah" ucap Diana tanpa menatap mama Ridha.


" Baik, tapi sebagai gantinya kau yang akan menggantikan nya" ucap mama Ridha.


" Sampai kapan pun aku gak akan mau menjadi budakmu" tolak Diana dengan wajah penuh dendam.


" Kalau begitu jangan kau cegah aku untuk kembali menyiksa anakmu, bukankah nyawa di bayar dengan nyawa" ucap mama Ridha dengan santai.


" Kau" ucap Diana ingin membalas ucapan mama Ridha namun terhenti saat Diana melihat seseorang berjalan keluar dan mendekati Diana dan mama Ridha.


" Kau" ucap Diana begitu terkejut.


Tbc.


Siapa ya yang di lihat Diana??


Beberapa Bab lagi pemberantasan akan selesai yaa, kita lanjut yang happy happy namun tetap ada konflik dan air mata yang membuat para readers dag dig dug.


Di tunggu kelanjutannya besok yaa readers tercinta.


Jangan lupa dukungannya selalu.

__ADS_1


Miss You.


__ADS_2