
" Lepaaaas, tolong aku, hikss,,,hiksss, aku takut, aku takut" ucap Siska ketakutan sambil menutup wajahnya dan telinganya.
Diana yang melihat anaknya saat sadar seperti orang gila berusaha menyadarkan anakanya.
" Siska tenanglah, kau sedang bersama ibu saat ini" teriak Diana tak kalah besar agar Siska mendengarnya.
" Ibu,,,ibu, hahahaha, Dia yang sudah membawa aku menjadi menderita seperti ini, ibu jahat, ibu jahat" ucap Siska yang lagi-lagi ketakutan.
Diana yang mendengar ucapan anaknya langsung berdiri dan menggelengkan kepalanya, Ia tidak mengerti kenapa saat ini Siska malah menjadi seperti.
" Kenapa kau malah menadi seperti ini Sis, apa yang mereka lakukan pada mu?" Ucap Diana bertanya-tanya.
" Ibu tahu, Tuan Bagas sudah menjadi setan, semalam dia datang menemui ku, aku takut Bu, tapi dia tetap aja tampan walau sudah menjadi setan, heheheh" ucap Siska sambil tertawa, kemudian Siska kembali sedih dan malah menjadi ketakutan.
Begitulah kondisi Siska sekarang, Dia menjadi wanita gila karena begitu takutnya saat dia melihat Bagas dan Raka saat di sekap di ruang bawa tanah.
Diana tidak sanggup melihat keadaan Siska yang begitu memprihatinkan, Dia semakin menaruh dendam pada Bagas dan kedua orang tuanya, Diana bersumpah akan membalas nya walau pun nyawa akan menjadi teruhannya.
" Tapi bagaimana aku bisa membalas mereka, kalau saat ini aku saja tidak bisa keluar dari penjara ini" ucap Diana dengan pelan sambil melihat penjara bawah tanah milik keluarga Kesuma.
Diana menatap Siska yang duduk termenung, kulit yang sedikit melepuh luka bakar dari bom molotof yang di buat ibunya sendiri.
Tapi Siska tidak merasakan sakit sedikit pun, Diana mendekati Siska dengan perlahan, saat sudah dekat, Siska melihat tangan Diana yang berdarah akibat tembakan Bagas.
__ADS_1
Di ambilnya kedua tangan Diana yang dua duanya sudah terluka akibat tembakan, awalnya Siska seperti sedih melihat tangan Diana, tapi tiba-tiba Siska malah tertawa saat melihat luka tersebut.
"Hahahaha, kualat kau kan, ini pasti di tembak sama setan gateng kan, kapok kau kan, enak enak" ucap Siska yang malah membuat hati Diana semakin panas.
" Dasar anak bodoh, tidak ada gunanya, mending kau mati saja, tidak ada untungnya juga kau hidup" ucap Diana kemudian menghantuk hantukkan kepala Siska ke tembok.
Siska menjerit kesakitan sambil berusaha melepaskan jambakan rambut nya yang di pegang oleh Diana.
" Ampun, sakit" teriak Siska yang langsung membuat seluruh anak buah Bagas dan melihatnya.
Dengan cepat mereka memberitahu Bagas untuk melihat perbuatan Diana pada anakanya.
" Bos, Nyonya Diana saat ini sedang berusaha membunuh anaknya sendiri Bos, dengan menghantuk hantukkan kepala anaknya ke tembok" lapor anak buah Bagas.
Sampai di ruang bawah tanah, Reina menutup mulutnya melihat kondisi Siska yang begitu memprihatin kan.
" Kau memang ibu yang kejam Diana, tidak kah kau mempunyai perasaan sedikit pun, bahkan kau membunuh anak mu sendiri, darah daging mu sendiri" ucap mama Ridha karena melihat betapa kejinya Diana saat mengahkiri nyawa Siska.
" Tutup mulutmu Diana, ini semua karena kalian semua, dia menjadi gila karena ketakutan, bahkan dia tidak mengenaliku lagi" ucap Diana dengan tangan yang sudah berlumuran darah Siska.
" sungguh kejam kau sebagai ibu, bahkan binatang saja bisa menjaga anaknya" ucap Bagas menatap wajah diana dengan tatapan tajamnya.
" keluarkan dia, dan kurung dia ruang bawah tanah yang tidak ada hawa sekalipun, biar dia tahu bagaimana susahnya untuk bernafas" perintah Bagas yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh anak buah Bagas.
__ADS_1
" Lepaskan aku, aku akan membalas semua perbuatan kalian, ingat itu, tunggu saja balasan dari ku" teriak Diana dan lama-lama suaranya menghilang di balik tembok.
Reina yang melihat keadaan Siska langsung menghampirinya, air matanya tetap saja mengalir saat melihat jasad Siska.
" Begitu malangnya nasib mu Siska, semoga kamu di terima di sisi Allah, dan dosa-dosa mu di ampuni semuanya" ucap Reina kemudian menutup mata Siska yang masih terbuka saat Siska menghembuskan nafas terahkirnya.
Dengan cepat Bagas menyuruh anak buahnya untuk menguburkan Siska dengan layak di tempat pemakaman umum.
Setelah jasad Siska di bawa keluar untuk di mandikan dan kafani, Reina menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat.
" Mas aku takut, aku takut kalau Ibu akan menjadi jadi, buktinya Siska saja bisa di bunuh oleh Ibu" ucap Reina begitu ketakutan.
" Kamu jangan takut sayang, ada Mas yang selalu menjaga kamu" sahut Bagas sambil mencium pucuk kepala Reina.
" Iya sayang, kamu jangan takut, saat ini kita tinggal menunggu ajal yang menjempu Diana saja, bahkan untuk bernafas dengan tenang saja dia akan susah sayang" ucap mama Ridha menimpali.
" Sudah-sudah, sekarang ayo kita balik ke rumah utama, dan sekarang kamu sudah bisa kembali ke perusahaan Gas, dan Raka kamu juga sudah harus kembali ke perusahan, dan perusahaan Reina, biar Rangga yang menghendle nya" ucap papa Andre yang langsung di jawab anggukan semuanya.
Kini Bagas sudah sedikit tenang karena sudah tidak ada musuh mereka lagi, hanya tingga Diana sang wanita iblis yang masih tersisa, tapi saat ini dirinya pun sudah tidak bisa betbuat apa-apa.
Kini Bagas akan berjanji pada dirinya untuk selalu membuat Reina bahagia dan tidak akan membiarkan Reina menangis karena sedih lagi.
Tbc.
__ADS_1