
Keadaan di kediaman Kesuma terasa begitu sepi, semua penghuni rumah mendadak tidak ada yang terlihat satu pun termasuk para pelayan dan para bodigart yang biasa lalu lalang di rumah besar itu.
Tapi tidak dengan Ria, sang pelayan yang saat ini sibuk dengan tugasnya yang di berikan oleh kepala pelayan.
" Sepi banget ni rumah? uda kayak kuburan aja" ucapnya sambil melihat sekeliling.
Tapi tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara pecahan kaca dari arah dapur dan membuatnya langsung melihat ke arah asal suara.
CETAAAAAAAAAAR
"Suara pecahan kaca? bukannya di dapur tidak ada siapa-siapa ya?" monolog Ria masih melihat ke arah dapur.
Namun Ria sama kembali mengejutkan pekerjaannya kembali mengelap semua guci yang ada di ruang keluarga, namun lagi-lagi gerakan tangannya terhenti karna lagi-lagi Ria mengengar suara pecahan kaca di dapur.
CETAAAAAAAAAR
" Ada siapa sih di dapur? buat orang kesal aja" ucapnya kemudian melangkah kan kakinya ke arah dapur dengan langkah pasti.
Saat sudah sampai di dapur, Ria bingung karena tidak ada sama sekali melihat kekacauan yang terjadi di dapur, Ria kembali memeriksa di setiap sudut, namun tidak ada tanda-tanda adanya pecahan kaca di sana.
" Aneh, tadi aku dengar kalau ada suara pecahan kaca dari arah dapur, tapi kenapa di sini masih terlihat rapi" monolog Ria merasa kebingungan.
"Itu karena kau mendengar suara pecahan kaca dari sini" ucap seseorang yang sudah berada tepat di belakang Ria sambil memegang rekaman yang ada di tangannya.
Ria terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya melihat orang bersuara di belakangnya. Mata langsung membulat saat melihat orang yang ada di hadapannya dengan tatapan yang begitu tajam, bahkan Ria begitu susah untuk mnelan salivanya akibat begitu kering.
"Tu..tuan Rangga" ucap Ria dengan terbata.
Rangga tidak menjawab, ia menatap Ria dengan tatapan yang begitu membuat Ria mati ketakutan, keringat sudah membasahi keningnya, Ria meremas kain lap yang ada di tangannya untuk mengurangi rasa ketakutannya.
Rangga berjalan beberapa langkah mendekati Ria. Ria yang melihat Rangga mendekat keaarahnya mendadak lututnya terasa lemas.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Rangga menghentikan langkahnya dan meletakkan susatu yang di pegangnya di atas meja, Ria yang melihat barang yang di letak Rangga sama sekali tidak tahu untuk apa.
Dengan cepat Rangga menekan tombol ON, tiba-tiba terdengarlah suara yang membuat Ria terkejut karena apa yang sudah di lakukan pada Reina sudah terungkap, dengan sekuat tenaga Ria berusaha kuat di hadapan Rangga saat rekaman suaranya terdengar di alat perekam yang sudah di selediki oleh anak buah Bagas dan juga Rangga.
Cetaaaaaaar," Aaaaaaaaaa" bersamaan dengan teriakan Reina.
" Awww" rintihan Reina saat baru saja terjatuh.
" Sakit" ucap Ria yang langsung membuat Reina terkejut melihatnya.
" Apa yang aku lakukan tidak seberapa dengan yang suami mu lakukan terhadap kakakku, jadi ini adalah balasan yang setimpal agar kau dan suami menyesal telah membuat kakakku mengahkiri hidupnya dengan cara yang begitu mengenaskan, dan sebagai balasannya aku yang akan mmebuat hidup mu hancur, begitu juga suami mu itu" ucap Ria lalu menghempaskan wajah Reina dengan tangannya.
karena Reina tidak kuat menahan bobot tubuhnya, hingga saat Ria menghempas kan wajah Reina, kepala Reina terbentur dengan ujung tangga dan membuat kepalanya berdarah, namun Reina masih sadar saat itu, tapi dia melihat merasa ada darah yang keluar dari kepalanya.
Dan saat itu juga Ria dengan cepat memasukkan sesuatu ke dalam mulut Reina dengan paksa, Reina sekuat tenaga berusaha untuk menolak, namun dengan kejamnya Ria menjambak rambut Reina hingga kepala Reina mendongak ke atas dan dengan cepat Ria langsung memasukkan obat ke dalam mulut Reina.
Detik berikutnya Reina langsung kehilangan kesadaran, dan di situlah Ria langsung merapikan tempat kejadian dan berpura-pura menjerit agar tidak dicurigai kalau itu semua adalah ulahnya.
Ria tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Rangga dengan tatapan benci walau sebenarnya dirinya sedikit takut.
" Apa kau tahu hukuman yang pantas karena sudah bermain-main dengan keluarga kesuma?" tanya Rangga menatap wajah Ria dengan mata tajamnya.
"Iyaa aku tahu dan sangat tahu, tapi aku tetap akan menghancuran kalian semua karena kalian sudah membunuh kakakku, membuat dia mengahkiri hidupnya sendiri dengan cara mengenaskan,dan aku juga akan melakukan hal yang sama dengan penghuni rumah ini" teriak Ria dengan keberaniannya.
Rangga tertawa mendegar ucapan Ria, dia kembali mendekati Ria, dan itu berhasil membuat Ria langsung memundurkan langkahnya karena merasa sedikit takut melihat wajah Rangga yang begitu tajam menatapnya.
"Kau sudah salah mencari lawan nona Ria, bahan kakak mu saja tidak sanggup, kini kau malah masuk ke dalam lubang yang sama" ucap Rangga sambil mencengkram dagu Ria dengan kuat membuat Ria sedikit merasa sakit.
" Dan aku mempunyai pilihan untuk mu?" lanjut Rangga.
" Kau mau aku yang membuat nafas mu ini berhanti? atau kau sendiri yang membuat kau tidak bernafas lagi seperti kakamu yang bodoh itu, Hendrik' tanya Rangga memberikan pilihan pada Ria.
__ADS_1
" Tidak dengan keduanya karena aku yang akan membuat kalian membuat pilihan untuk hidup kalian sendiri nantinya" jawab Ria dengan lantang.
" Hahahaha...ternyata nyalimu kuat juga nona" ucap Rangga.
" Baik kalau itu mau mu, dan aku juga berbaik hati untukmu, karena kau tidak akan membuat mu sendirian untuk melumpuhkan kami, tapi dengan teman mu yang selama ini kau beri dia obat agar tubuhnya masih tetap bertahan di dalam penjara" sambung Rangga.
Deg
lagi-lagi apa yang di lakukan Ria kebongkar kalau dia selama ini memberikan obat untuk Diana agar tubuh Diana kembali pulih dan mereka bisa bekerja sama untuk membalas dendam pada keluarga Kesuma.
Mata Ria membulat saat Meta mmebawa Diana ke hadapannya dengan keadaan yang sudah sedikit memprihatinkan.
" Dia sudah datang, sekarang apa yang akan kalian lakukan untuk membuat kami hancur" tanya Rangga yang masih ingin bermain-main dengan Ria.
Ria menatap keadaan Diana yang sudah tidak berdaya, luka memar di tubuhnya begitu banyak membuat Ria mendadak ngilu melihatnya.
" Bahan untuk dia berdiri sendiri saja tidak mampu, tapi kau malah ingin mengajaknya untuk bekerja sama untuk membalas kematian kakakmu Hendrik" lanjut Rangga mmebuat Diana terkejut kalau Ria ternyata adalah adiknya Hendrik.
Ria hanya diam saja, saat ini dia sedang memutar otaknya agar rencannya akan tetap berjalan walaupun nyawanya tetap menjadi taruhannya, setidaknya Ria berhasil membuat salah satu keluarga kesuma menderita karena kehilangan orang yang begitu mereka sayangi.
" Kenapa kau begitu perduli dengan istri bosmu sendiri? kenapa bukan Tuan Bagas saja yang berada di sini untuk membalas perbuatan ku?" tanya Ria karena sedari tadi tidak melihat Bagas dan juga Raka asistennya.
"Apa salah seorang kakak memabalaskan perbuatan orang yang sudah membuat adiknya celakan dan berhasil menhilangkan nyawa keponakan ku yang masih berada di dalam kandungan" tanya Rangga dengan wajah santai.
" Apa maksudmu? siapa yang kau maksud kakak?" tanya Ria yang masih belum mengerti.
" Aku..Aku adalah kakak dari wanita yang kau sakiti beberapa minggu yang lalu" jawab Rangga yang berhasil membuat Diana yang mendengarnya begitu terkejut.
Deg
Tbc.
__ADS_1