La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#124


__ADS_3

Hari hari begitu cepat berlalu, saat ini Reina dan Bagas sedang berada di dalam kamar mereka dan Bagas sedang mengelus perut Reina agar Reina bisa tidur malam.


Semenjak kehamilan ini, Reina begitu susah tidur malam kalau perutnya tidak di elus-elus oleh sang suami, mungkin ini memang sudah bawaan sang bayi yang ada di dalam kandungan Reina.


Berbeda dengan Rangga dan juga ibunya Fitria yang saat ini sedang saling menatap dengan tatapan meminta penjelasan atas apa yang sudah di temukan Rangga saat bekerja di kantor dan menemukan sebuah laporan dan berkas-berkas yang membuat Rangga begitu shock dan saat ini dirinya langsung meminta penjelasan pada sang ibu.


" Kata kan pada Rangga yang sebenarnya Bu, apa maksud isi surat tulisan tangan yang Rangga temukan di berkas Pak Budi ayah nya Reina?" tanya Rangga dengan tatapan tajamnya.


Ibu Fitria hanya bisa terdiam dan menunduk mengalihkan tatapan mata anaknya yang saat ini sudah sangat ingin tahu apa jawabannya.


"Bu tolong jawab pertanyaan ku, apa maksud isi surat ini, siapa Reina sebenarnya? apa benar dia adikku?" tanya Rangga lagi dengan suara yang cukup kuat.


Deg


Apa?? Reina adiknya Rangga? apa yang aku dengar ini tidak salah? kenapa bisa-bisanya Rangga berbicara sepeti itu?, gumam seseorang yang tak senagja mendengar suara Rangga.


" Cukup Rangga, tolong pelan kan suara mu, ini sudah malam, ibu tidak mau semua orang yang ada di rumah mendengar suara mu dan menganggu waktu istirahat mereka" ucap Ibu Fitria.


" Sebaiknya kau sekarang keluar dari kamar ibu, ini sudah sangat larut, ibu juga mau istirahat" usir ibu Fitria yang membuat rahang Rangga mengeras.


" Baiklah, tapi besok aku akan tetap ingin tahu apa jawabanya dan tolong ibu jangan menghindarinya lagi" ucap Rangga kemudian langsung pergi keluar dari kamar bu Fitria dengan wajah yang sulit dibaca.


Seseorang yang berada di balik pintu dan mendengar semuapercakapan antara Rangga dan Ibu Fitria langsung berlari untuk bersembunti agar Rangga tidak mengetahui keberadaan dirinya.


Sementara Ibu Fitria langsung terduduk di atas tempat tidur dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


" Maaf kan ibu nak, ibu belum bisa menceritakan ini semua, belum waktunya kau mengetahui semuanya, ada saat nya kau akan tahu, tapi nanti tidak sekarang" ucap Ibu Fitria.

__ADS_1


Kemudian ia memungut kertas yang di bawa oleh Rangga untuk meminta penjelasan apa maksud dari isi surat itu.


" Maaf kan aku kak, aku berjanji akan menceritakan semuanya pada mereka, tapi nanti kak, tidak sekarang" lanjut Ibu Fitria dan menyimpan kertas tersebut ke dalam laci, kemudian ia langsung keluar dari kamar nya untuk menenangkan fikiran nya untuk menghirup udara malam.


Seseorang yang tadi bersembunyi langsung masuk ke dalam kamar ibu Fitria dan mmebuka laci dimana ibu Fitria menyimpan surat yang di ribut kan oleh ibu dan anaknya tadi.


Dengan tangan bergetar, Bagas membaca isi surat tersebut kemudian ia langsung menerawang dari kejadian kejdian dimana Rangga dan Reina saat bersama dulu, ada kecocokan di antara mereka.


" Jadi Rangga adalah saudara Reina, Rangga adalah kakak Reina yang di katakan meninggal saat di lahir kan dulu, tapi kenapa dia masih hidup sampai sekarang?" ucap Bagas bertanya tanya.


Bagas yang tadinya ingin mengambil air minum ke dapur langsung membatal kan niatnya saat mendengar suara Rangga yang berteriak di kamar ibunya, karena mendengar nama istri tercinta nya di sebut sebut, Ia pun langsung melangkah kan kakinya dan mendengar semua apa yang di katakan oleh Rangga dan ibunya.


Dengan cekatan Bagas langsung memfoto isi surat tersebut kemudian meletakkan kembali isi surat tersebut ke dalam laci, karena Bagas takut kalau-kalau Ibu Fitria kembali ke dalam kamar.


Kini Bagas sudah kembali duduk di atas tempat tidurnya dengan memandangi wajah cantik istrinya dan melihat perut buncit Reina yang sudah memasuki usia 5 bulan.


Sementara di kamar lain, Rangga menerawang jauh kejadian dimana dia pertama kali bertemu denan Reina, jantung yang selalu berdetak kencang saat melihat wajahnya, dan begitu sakit jantungnya saat melihat Reina terluka.


" Jadi selama ini apa yang aku rasakan karena ikatan batin, bukan karena aku yang jatuh cinta pada mu Rein, kalau benar kau adalah adiku ku, kenapa kita harus di pisah kan hingga puluhan tahun lamanya" ucap Rangga dengan menatap bintan di langit malam.


Sementara Ibu Fitria yang saat ini duduk di taman belakang rumah, menatap bintang yang sama yang di tatap oleh Rangga.


Ingatan nya langsung teringat tepat pada saat kelahiran Rangga dan Reina saat itu, dimana Malam itu adalah maam yang begitu mencekam dan trgedi yang begitu tragis yang kalau di ingat akan membuat luka lama akan terbuka kembali.


" Apa aku harus menceritakan semua ini pada mereka, atau aku simpan semuanya sampai aku mati nanti? tapi bagaimana kalau mereka mencari tahu sendiri? apa yang harus aku katakan pada mereka nantinya?" ucap Fitria bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Di dalam kamar Bagas, Bagas yang baru saja terlelap karena lelah dengan pikirannya tiba-tiba langsung terbangun karena mendengar suara teriakan Reina yang barada di dalam pelukannya.

__ADS_1


" Ayah ibu tolong jangan bawa bayi Reina, dia buah hati Reina, tolong jangan bawa anak Reina Yah Bu, dia anak Reina" teriak Reina sambil menggoyang goyang kan kepalanya dan keringat mengucur di dahinya begitu bantak.


" Sayang heii, bangun sayang kamu mimpi apa?" ucap Bagas sambil menempuk pipi Reina dengan pelan.


" Ayah jangaaaaan" teriak Reina dengan nafas ngos-ngosan dan membuka matanya.


" Sayang" ucap Bagas kemudian langsung memeluk Reina dengan erat.


"Mas aku tadi mimpi Ayah dan ibu mau membawa anak kita, aku takut Mas, dan tadi begitu nyata" ucap Reina dan menangis di dalam pelukan Bagas.


" Suuussssst, jangan di pikiri sayang, itu hanya mimpi, tidak akan terjadi apa apa dengan anak kita, percaya lah pada Mas sayang" sahut Bagas sengaja menenagkan Reina.


" Tapi aku takut Mas, aku gak mau Ayah dan ibu membawa anak kita" ucap Reina lagi.


" Tidak akan terjadi apa-apa pada  kamu dan anak kita sayang, percaya lah pada mas sayang, sekarang saat nya kamu tidur lagi ya, ini masih tengah malam, tapi sebelum itu kamu minum dulu biar tenang" ucap Bagas dan menyerahkan air putih pada Reina dan meminumkannya dengan pelan.


Setelah itu dengan sabar Bagas kembali menidur kan Reina sambil mengelus perut buncit Reina, dan tak lama Reina sudah kembali terlelap ke dalam mimpi.


Bagas mencium kening Reina, menatap wajah Reina yang masih terlihat sdikit pucat akibat mimpi malamnya tadi.


" Mas akan menjaga kamu dan anak kita sayang, jangan takut ya" ucap Bagas kemudian langsung merabahkan tubuhnya untuk kembali tidur.


Tbc.


Maaf kan author yang baru sempat Up di sini, Author mohon dong untuk dukungannnya, Like,komen yang positif dan share karya author agar semakin banyak yang baca, plisss.


terima kasih banyak semuanya.

__ADS_1


Love You More.


__ADS_2