
Pagi datang di sertai dengan gerimis, Mendung di luar sana entah kenapa bisa di rasa kan dengan Reina saat itu juga.
Kini diri nya sudah rapi, Reina sudah menuruni tangga sambil membawa koper nya, di tatap nya sekeliling rumah nya yang sudah di tempati nya 21 tahun.
Siska dari ruang tamu memandagi Reina dengan tatapan kasihan sambil tersenyum.
" Selamat jalan anak sial, semoga setelah kepergian mu, aku bisa tenang dengan ibu ku di sini, dan aku bisa menggantikan posisi mu di hati kak Bagas" ucap Siska dengan percaya diri nya.
Ayah Budi yang mendengar ucapan Siska hanya bisa tersenyum kecil dan menatap Siska dngan tatapan tak suka, dia mendekati putri kesayangan nya dan mencium kening Reina dengan lembut.
" Mungkin ini akan menjadi ciuman ayah yang terahkir sayang" ucap Ayah Budi menatap wajah putri nya yang begitu mirip dengan Almarhuma istri nya.
" Kenapa Ayah malah berkata seperti itu, Reina pasti akan bertemu lagi dengan Ayah, Reina pasti akan pulang untuk mengunjungi Ayah" ucap Reina yang kembali memeluk Ayah Budi sambil menangis.
" Sudah sudah jangan menagis lagi, anak Ayah jelek kalau menagis" ucap Ayah Budi menghapus air mata Reina.
Siska yang melihat drama antara anak dan ayah di hadapan nya merasa jengah sendiri.
"Emang dari dulu dia jelek kali, cepat lah kau pergi dari sini, aku sudah males melihat wajah mu" ucap Siska yang langsung di bantah oleh Ayah Bdi.
" Jaga ucapan mu Siska, bukan Reina yang harus pergi dari rumah ini , tapi kau seharus nya yang pergi dari rumah ini sama seperti ibu" ucap Ayah Budi yang sudah tidak tahan dengan sikap Siska pada Reina.
" Kau tau bukan kalau aku bukan Ayah mu, dan perceraian aku dan ibu mu juga sedang di urus di pengadilan, masih baik aku masih mengizin kan mu tinggal di sini karena kau di sini dari kecil" sanbung Ayah Budi yang membuat Siska langsung pergi meninggal kan nya.
" Ayah sudah, jangan marah marah lagi, Reina tidak mau sampai darah tinggi Ayah kambuh" ucap Reina menyabarkan Ayah nya.
Ayah Budi tersenyum mendengar perkataan anak nya yang selalu membuat nya luluh.
" Yasudah ayo Ayah antar kamu ke Bandara" ucap Ayah Budi yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Reina.
Di dalam perjalanan, entah kenapa perasaan Reina semakin tidak enak, dia terus membaca doa agar semua nya baik baik saja.
Bagas dan Raka yang mengikuti mobil Ayah Reina tentu di ikuti para bodyguard yang selalu setia menemani bos nya.
__ADS_1
Saat di jalan yang sepi dan berbelok, sebuah mobil sedan hitam menyerempet mobil Ayah Reina sehingga Ayah Reina oleng dan mobil nya menghantam pohon yang ada di tepi jurang.
" Ayaaaahhhh" tariak Reina saat mobil mereka menabrak pohon besar.
" Siapa mobi itu Yah, kenapa seperti nya mobil itu sengaja ingin mencelaki kita" ucap Reina dengan suara menahan tangis.
" Ayah juga tidak tahu sayang, kamu tidak apa apa kan?" tanya Ayah Budi yang khawatir pada anak nya.
" Tidak yah, Reina tidak apa apa" sahut Reina dengan tubuh bergetar.
Bagas dan Raka yang melihat mobil yang di kenderai Ayah Reina hampir masuk jurang langsung berhenti dan melihat keadaan Reina dan Ayah Budi.
" Reina, Ayaah" panggil Bagas saat Ayah dan Reina sudah keluar dari mobil.
" Kak Bagas" ucap Reina yang terkejut ada Bagas di sini.
Bagas tidak menjawab sapaan Reina, dia langsung memeluk Reina karena wanita yang ada di hadapan nya syukur nya tidak kenapa napa.
" Syukur lah kamu tidak kenapa napa, kakak khawatir sekali dengan mu Rein" ucap Bagas yang masih memeluk Reina.
Tapi belum sempat Raka mengeluar kan ponsel nya, suara tembakan terdengar di sana.
Dooor
Mereka terkejut mendengar suara tembakan dan melihat orang orang dengan berbaju hitam mendatangi mereka.
Para Bodyguard Bagas langsung bersiap melawan musuh yang ada di hadapan mereka.
" Bagas tolong bawa Reina pergi dari sin, ini sangat bahaya buat dia" ucap Ayah Budi memberi perintah.
" Tidak Yah, Reina tidak mungkin meninggal kan Ayah, Reina tidak mau ayah kenapa napa" ucap Reina dengan tangisan nya.
Baku hantam pun sudah terjadi, Raka dengan lihai melawan semua anak buah Diana yang psti nya orang orang suruhan Rudi, Ayah Budi juga melawan dengan sisa kekuatan nya, Bagas dengan terpaksa menarik Reina agar tidak terjadi apa apa pada wanita yang di cintai nya.
__ADS_1
Tapi saat hendak mau masuk ke mobil, tanpa sengaja Raka melihat dari atas bukit mengarah kan tembak ke ayah Budi yang sedang berkelahi dengan anak buah Rudi.
" Om Budi Awaaaaaaas" tariak Raka yang langsung membuat Bagas dan Reina menoleh ke arah suara.
Belum sempat Ayah Budi mengelak, dan Raka membantu tapi suara tembakan sudah berbunyi.
Dooooor
Reina, Bagas dan Raka mematung seketika, para anak buah Rudi yang melihat itu langsung pergi egitu saja setelah sasaran sudah mengenai target.
" Ayo cabut" ajak sang ketua.
Para Bodyguard Bagas langsung berlari menyelamat kan Ayah Budi yang sudah terbaring di jalanan, Raka pun berlari ke arah Ayah Budi di susul Bagas sambil memeluk Reina.
Reina yang melihat ayah nya terbaring dengan bersimbah darah di dada nya tidak bisa menahan tangis nya, air mata nya mengalir begitu saja walau tidak ada suara.
Dia masih mematung melihat Ayah nya yang terbarik sambil memegang dada nya di pangku oleh Bagas.
" Reina anak ku, ketahui lah kalau ayah begitu menyanyagi kamu, maaf ayah telah memebuat mu menderita dari kecil, itu semua karena ayah tidak mau kamu pergi meninggal kan ayah seperti ibu mu meninggal kan ayah, ayah menikahi Diana karena ada alasan nya sayang, nanti setelah dari sini kamu bisa membuka laci lemari ayah, kunci nya ada di mainan kalung yang kamu pakai selama ini sayang, lihat saja kode nya di situ, semua nya akan terjawab setelah kamu membuka nya nanti" ucap Ayah Reina terbata bata.
Reina sama sekali tidak menjawab, dia hanya bisa memegang tangan ayah nya sambil menangis terisak.
Kini tatapan Ayah Budi mengarah ke arah Bagas, " Bagas aku titip kan Reina pada mu, jaga lah dia, dan jangan pernah sakiti dia, dia sudah tidak punya siapa siapa lagi, jjadi ayah mohon sayangi dia sama seperti ayah menyanyi diri nya, dia gadis yang begitu baik, kau akan sangat bersyukur karea kau bisa mendapat kan cinta nya, dan ayah yakin kau juga begitu mencintai nya bukan" ucap Ayah Budi dengan dada semakin sesak.
" Pasti Yah, Bagas pasti akan menjaga Reina walau nyawa Bagas taruhan nya" ucap Bagas menatap wajah Ayah Budi.
" Titip kan ini pada papa mu, dia akan melanjut kan semua nya nanti" ucap Ayah Budi menyerh kan sebuah kalung dengan mainan liontin dan cicin bermata berwarna biru muda.
Tak lama ayah Budi terbatuk mengeluar kandarah, dan tak lama ayah Budi menutup mata nya menhembus kan nafas nya yang terahkir setelah tangan nya menyentuh pipi Reina.
Reina yang melihat ayah nya menutup mata langsung berteriak sambil memeluk Ayah nya dengan kuat.
" Ayaaaaaaaaah....ayah bangun yahh, jangan tinggal kan Reina, bangun Yah, mana janji ayah pada Reina kalau ayah akan selalu menemani Reina, ayah bangun yah" teriak Reina dengan isakan tangis yang begitu sedih.
__ADS_1
Tbc.