La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#59


__ADS_3

Dari dalam rumah, papa Andre melihat Reina dan Rangga berlatih, papa Andre dapat melihat ada kesungguhan dari diri Reina untuk mau belajar bela diri.


" Bagus nak, belajar lah dengan sungguh sungguh, agar orang orang yang mau meyakiti mu tidak dengan mudah melukai mu" ucap papa Andre.


Mama Ridha datang dari dapur membawa kan kopi untuk suami nya dan langsung duduk di sebelah papa Andre.


" Pa bagaimana dengan Reina, apa dia bisa belajar bela diri nya?" tanya mama Ridha.


"Kamu bisa lihat sendiri Ma" tunnjuk papa Andre menujuk kan laptop yang ada di hadapan ke hadapan mama Ridha.


Mama Ridha pun langsung melihat laptop yang ada di hadapan nya, mama Ridha langsung tersenyum saat melihat gerakan tangan dan kaki yang di lakukan oleh Reina.


" Dia wanita yang tangguh Ma, sama seperti mu, dia mempunyai Bakat, kita hanya tinggal mangasah nya saja" ucap Papa Andre yang langsung di angguki kepala oleh mama Ridha.


" Iya benar Pa, nanti mama akan ajar kan Reina ilmu bela diri yang mama punya juga Pa, dan merakit senjata juga pasti nya, agar Reina dapat melindungi diri nya dari para musuh" ucap mama Ridha yang langsung di angguki kepala oleh papa Andre.


 


Di jerman, Bagas sedang melihat proyek yang saat ini di kerja kan, namun saat sedang fokus dengan orang kepercayaan nya yang sedang mejelas kan proyek nya dengan detail, datang lah seorang wanita yang membuat Bagas tak suka memandang nya, dan itu dapat di lihat oleh Raka.


" Selamat siang pak Bagas, selamat datang di Jerman dan selamat untuk proyek nya yang sudah hampir selesai ini" sapa wanita bernama Rosa.


Bagas hanya menatap nya dengan tatapan dingin, dia kembali menyuruh orang kepercayaan nya untuk melanjut kan pekerjaan proyek yang selama ini di pantau oleh orang kepercayaan Bagas, sedang kan Raka mencatat data penting dan sesekali melirik Rosa yang terus memandangi Bagas dengan tatapan berbeda.


" Pak Dicki, nanti setelah selesai menjelas kan pada pak Bagas, kita bisa lanjut kan dengan meeting untuk kerja sama perusahaan ini bukan?" tanya Rosa pada orang kepercayaan Bagas yang bernama Dicki.


" Ahk Iya ibu Rosa, nanti akan saya bahas dahulu pada pak Bagas, karena dia yang mempunyai wewenang untuk melanjut kan kerja sama ini atau tidak dengan perusahaan anda" ucap Dicki dengan sopan.

__ADS_1


" Baik lah, saya akan tunggu kabar dari pak Bagas, kalau begitu saya menunggu di pendopo sana" ucap Rosa yang menatap Bagas.


Setelah kepergian Rosa, Bagas langsung bertanya pada Dicki ada naunagn apa dia dengan ptroyek yang di kerja kan sekarang.


" Apakah perusahaan nya begitu penting untuk kerja sama dengan proyek ini" tanya Bagas.


" Sangat penting menurut saya pak, karena mereka yang akan mendekorasi semua ruangan setelah nanti sudah selesai, dan membuat gedung kita menjadi lebih indah" ucap Dicki memberi tahu.


Raka tolong kamu periksa semua profil perusahaan nya dan peroposal yang kerja sama dengan perushaan kita.


Bagas sedikit curiga dengan wanita yang bernama Rosa, entah kenapa dia bisa melohat kecurigaan saat melihat gerak gerik Rosa saat Rosa dengan berani nya langsung mendekati diri nya.


Di pendopo, Rosa memperhati kan Bagas dari kejuahan, Dia langsung terpesona pada pandangan pertama saat melihat wajah Bagas.


" Tidak salah om Muklis menyuruh ku untuk bekerja sama dengan Bagas, selain aku bisa membantu paman, aku juga bisa mendapat kan hati Bagas dan menajdi kan suami ku" ucap Rosa dengan percaya diri nya.


Muklis sendiri yang sudah mendapat kabar dari Rosa, langsung tersenyum senang, langsung melempar kan panah kecil ke wajah keluarga Kesuma yang ada di dinding kamar rahasia nya.


" Sebentar lagi...sebentar lagi Andre, kau akan menyesal telah berhadapan dengan ku, aku akan merebut apa yang kau punya dan aku akan membuat mu mati dengan perlahan dan atas kemauan mu sendiri" ucap Muklis dengan tertawa seperti iblis.


Anak buah Muklis yang melihat Muklis seperti itu langsung merinding melihat wajah Muklis yang lebi seram dari iblis.


Setelah melihat proyek, Bagas dan Raka langsung kembali ke kantor yang ada di Jerman, Dia mengatakan pada Dicki untuk mempelajari proposal dan profil dari perusahaan yang di pegang Rosa.


Dan Dicki pun menyampai kn kemauan bos nya pada Rosa, awal nya Rosa menolak, karena dia sudah menunggu cukup lama, namun karena dia tidak boleh terlihat berambisi dan menimbul kan kecurigaan, ahkir nya dia mengikuti kemauan Bagas.


" Ka aku melihat kecurigaan di dengan wanita tadi, aku melihat kalau dia bukan wanita baik baik" ucap Bagas yang langsung di angguki kepala oleh Raka, sat mereka sudah berada di dalam ruangan dan hanya berdua.

__ADS_1


Raka langsung berjalan mendekati  Bagas saat dia sudah mendapat kabar dari Rangga dan Boby, setelah dia mengirim kan perusahaan dan data Rosa pada Rangga dan Boby.


" Kau bisa lihat Gas" ucap Raka menujuk kan laptop nya dari data yang dikirim oleh Rangga dan Boby.


" Jadi dia orang suruhan Muklis, dan ini adalah perusahaan Ilegal" tanya Bagas yang langsung di angguki kepala oleh Raka.


" Rangga mengata kan pada ku kalau wanita itu meletak kan micropon kecil di tas kerja mu, sehingga apa yang kau bicara kan bisa terdengar oleh Muklis saat kau dan Rosa sedang berbicara" ucap Raka memberi tahu.


Dengan cepat Bagas membuka tas nya, dan benar saja, dia menemukan micropon kecil yang sudah di selip kan di tas Bagas saat di proyek tadi.


" Sial...dia sudha berani mengelabui ku, ini gak akan aku biar kan?" ucap Bagas dengan tatapan tajam nya.


Raka sendiri yang melihat nya mendadak merinding.


" Hubungi Rangga suruh dia mengirim anak buah nya ke sini, agar bisa langsung terkoneksi kalau ada musuh yang tiba tiba menyerang kita, kalau menunggu kabar dari mereka akan lama" ucap Bagas yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Raka.


Dengan Cepat Raka langsung menghubungi Rangga dan menyuruh orang kepercayaan Rangga yang sama jenius nya dengan Rangga soal It untuk ke Jerman saat itu juga.


Rangga yang mendapat kabar itu pun langsung menyuruh anak buah nya untuk datang ke Jerman dan membantu bos nya.


Setelah memerintah kan anak buah nya, dia pun langsung kembali menatap Reina yang saat itu juga menatap nya karena Reina mendengar kalau Rangga menyebut nama Bagas saat sedang telpon tadi.


Tbc.


 


 

__ADS_1


__ADS_2