
Saat ini Bagas sedang menatap Rangga dengan tajam yang baru saja kembali dari kantor, Rangga menghembuskan nafasnya dengan pelan karena tahu maksud dari tatapan Bagas.
" Bisa kau jelaskan sekarang?" ucap Bagas dengan menatap Rangga dengan mata elangnya.
" Apa kau percaya dengan apa yang di katakan Reina padamu tentang kejadian di kantor tadi' tanya balik Ranga yang membuat Bagas langsung menatapnya dengan begitu tajam.
" jadi kau menuduh istriku berbohong?" ucap Bagas dengan nada sedikit tinggi.
" Bukan berbohong, tapi apa kau percaya mengenai kelakuan ku yang seperti di kataka istrimu tentang diriku" sahut Rangga yang berhasil membuat Bagas terdiam dan berfikir.
Benar juga apa yang dikatakan Rangga, apa karna istriku lagi hamil makanya dia langsung marah-marah saat melihat Rangga. tapi kata Reina dia sedang bercumbu tadi dengan seorang wanita, Batin Bagas menatap wajah Rangga dengan instens.
Tau maksud tatapan Bagas yang meminta penjelan, ahkrnya Rangga duduk di hadapan Bagas sambil membawa minuman dingin yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas di ruangan kerja papa Andre.
" Dia Kirana, sahabat ku saat di London, bukannya kamu mengenal dia juga, saat ini dia sedang ada pekerjaan di Indonesia karna dia baru saja terpilih menjadi duta pariwisata, sebelum dia keliling Indonesia, dia menyempat kan untuk menemui ku terlebih dahulu, namun saat dia baru saja sampai dan memelukku serta mencium bibir ku karena rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan Reina masuk melihat itu semua" ucap Rangga menceritakan.
" Reina langsung marah-marah begitu melihat aku dan Kiranasedang berciuman mesra, di tambah Kirana saat itu sedang memakai pakaian yang cukup seksi dan aku saat itu mmebuka beberapa kancing kemeja ku sebelum kami berciuman, membuat Reina berfikir kalau aku dan Kirana sedang berbuat hal yang tidak-tidak, padahal kau tau sendiri bukan adat di luar negeri kalau masalah itu halĀ biasa" sambung Rangga sambil memijit pangkal hidungnya.
__ADS_1
" Terus saat Reina melihat kau dengan Kirana, apa yang dia lakukan pada kalian, sampai-sampai dia begitu marah dan aku juga kenak imbas nya, begitu juga dengan Raka dan Meta yang sampai saat ini belum kembali mencari permintaan Reina, dan itu gara-gara kau, kau adalah sumber puncak istri ku menjadi sebete ini sampai sekarang" Tanya Bagas dan menceritakan pada Bagas apa yang terjadi pada dirinya dan asistennya setelah kepulangan Reina dari kantor Ayahnya.
" Reina langsung marah-marah saat itu, bahkan Kirana di usir nya dengan tidak hormat, karea Kirana tahu siapa Reina, dia hanya tersenyum dan langsung pergi meninggal kan ku, karena senyuman Kirana, semakin membuat Reina terbakar emosi dan aku di marah-marahnya sampai aku saja tidak bisa berbicaa untuk membela diriku sendiri" Jawab Rangga.
" Aku sempat heran melihat Reina, kenapa dia jadi liar seperti tadi, yang aku kenal selama ini Reina adalah gadis yang bagitu lemah lembut, bukan seperti tadi saat dia begitu gampangnya memakiku" sambung Rangga sambil menhembuskan nafasnya mengingat Reina memakinya saat di kantor tadi.
" Itu mungkin bawaan hormon pada kehamilan Reina" ucap Bagas yang spontan membuat Rangga langsung menatap Bagas tak percaya.
" Reina hamil?" tanya Rangga yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Bagas, serta senyuman yang tak lepas dari wajah tampan Bagas.
" Karena kajadian tadi, aku selalu kenak marah Reina, dan Raka dan Meta juga kena imbasnya, Meta di suruh mencari lontong sayur di siang bolong, dan saat ini Raka dan Meta di suruh mencari pepaya yang tidak mentah dan tidak mateng untuk di buat asinan pepaya" ucap Bagas mmeberitahu.
" Pasti, karena Reina dan calon anak kami adalah nafas dan jantungku saat ini" ucap Bagas dengan mantap.
Raka dan Meta baru saja turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan membawa pepeya mengkal menuju dapur untuk langsung di buat asinan pesanan Reina.
" kau yakin bisa membuatnya?" tanya Raka sedikit tidakpercaya dengan Meta.
__ADS_1
" Hai tuan, kau meragukan kemampuan ku?" tanya balik Meta yang sudah mengupas buah pepaya.
" Aku cuma tidak mau nona Reina keracunan saat memakan asinan itu nantinya dan akan membuat kita semakin terkena masalah" ucap Raka mengingatkan.
" Lebih baik kau cuci bersih buah pepaya ini, kemudian kau potong seperti yang sudah aku contoh kan, aku akan memotong bahan lainnya, dan kau tak perlu khawatir, karena Nona Reina akan begitu menyukai asinan buatan ku" sahut Meta begitu percaya diri.
Tanpa mereka sadari Reina sedang melihat perdebatan mereka dan tersenyum lucu melihat mereka adu mulut, Reina menarik kursi duduk di meja makan sambil melihat Raka dan Meta bekerja membuat asinan pepaya keinginanya.
Bagas dan Rangga datang dari arah ruang kerja dan melihat Reina sedang tersenyum sendiri sambil menciumi buah kiwi di tanggannya.
" Sayang" sapa Bagas yang langsung membuat Reina berbalik.
Namun matanya langsung membulat saat melihat Rangga berada di samping suaminya.
" Diam di situ dan jangan mendekat" ucap Reina yang langsung mengentikan langkah kaki Bagas dan Rangga.
Begitu juga dengan Raka dan Meta yang mendengar suara nona bosnya begitu kuat.
__ADS_1
" Aiiish apa lagi ini" ucap Meta menunggu kelanjutan nona bosnya berbicara.
Tbc,