
Semua sudah berkumpul di ruang ketja Bagas, Raka dan Meta yang awal nya tidak ikut bergabung tapi langsung fi cegah oleh Reina, dan mau tidak mau mereka berdua ikut bergabung untuk mendengarkan cerita yang akan di bicarakan oleh ibu Fitria.
Semua wajah tampak tegang, dada Reina mendadak berdetak lebih kencang, tangan nya langsung terasa dingin seketika, dan rasa gelisah Reina dapat di lihat oleh sang suami.
Bagas langsung menggenggam tangan Reina untuk mengurangi rasa kegelisahaanya, dengan menarik nafas perlahan, rasa gelisah sedikit berkurang dan dia juga ikut menggenggam tangan Bagas sebagai sumber kekuatanya.
"Kebenaran apa yang ingin ibu sampaikan tentang istriku?" tanya Bagas agar ibu Fitria langsung menceritakan rahasia yang masih belum terungkap selama bertahun tahun.
Saat Ibu Fitria ingin membuka suara nya, sedetik kemudian Raka langsung melarangnya untuk berbicara.
"Sebentar Nyonya, tolong jangan bicara terlebih dahulu, fi luar sedang ada mata mata yang juga ikut mendengar percakapan ini" ucap Raka sambil memperlihat kan cctv yang terlihat kalau pelayan yang masih di curigai di rumah besar Kesuma sedang berada tepat di depan pintu, siapa lagi kalau bukan Ria.
"Bukannya ruang kerja mas kedap suara?" tanya Reina.
" Iya sayang, tapi belum di aktifkan" jawab Bagas.
"Raka" panggil Bagas dan dengan cepat mengambil remote dan mrngaktifkan kedap suara di ruang kerja Bos nya.
"Jangan di ulangi lagi Gas, ini sangat bahaya, kalau tadi kita sempat membahas ini diluan dan Raka tidak memperhatikan cctv, maka berita yang akan di sampai kan ibu Fitria akan tersebar" peringatan dari papa Andre.
__ADS_1
"Bagas sengaja Pa, ini memang taktik untuk memancing musuh keluar dari sarangnya" sahut Bagas.
"Maksud kamu?" tanya papa Andre.
"Itu nanti saja di bahas? sekarang yang kita bahas adalah rahasia yang sudah bertahun tahun tidak terprndam" potong Mama Ridha agar ibu Fitria langsung betbicara.
"Sekarang kau ceritakan yang sebenarnya Fit" ucap Mama Ridha dengan wajah serius.
Sebelum berbicara, Ibu Fitria menatap semua orang yang ada di sana satu persatu, dan saat ibu Fitria melihat wajah Reina, Air mata nya langsung menetes seketika.
Wajah keponakan yang begitu mirip dengan abang kandungnya, mengingatkan nya dengan sosok abang nya yang sudah pergi untuk selama lamanya.
Semua hanya diam menatap wajah ibu Fitria, Reina kembali merasakan detak jantung yang begitu cepat, bahkan pasokan untuk tempat oksigen di dadanya begitu terasa sempit.
"Rein" panggil Ibu Fitria dengan suara bergetar.
Reina tidak menjawab, dia hanya menatap wajah ibu Fitria dengan mata yang juga berkaca kaca, dada nya semakin sulit untuk bernafas, pengangan tangan Bagas semakin ia genggam untuk bisa kuat mendengar kan cerita yang akan dia dengar.
"Maaf kan Ibu nak, karna Ibu kau harus menerima semua nya sendiri, karena keegoisan ibu, kamu yang menerima siksaan itu, dan karna ibu juga kamu menjadi tempat pelampiasan kemarahan Muklis dan Diana" ucap ibu Fitria yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Padahal kalau ibu tidak memaksa kehendak ibu di malam itu, kamu masih bisa berjuang bersama dengan saudara mu" lanjut ibu Fitria.
Deg
Semua jantung yang ada di sana langsung berdetak kencang saat mendengar lanjutan ucapan percakapan Ibu Fitria.
Tbc.
Nah makin penasaran kan..??
ikuti terus ya readers tercinta, dan jangan lupa untuk Like,komen dan vote.
Anggap aja bersedekah buat author di bulan puasa.
terima kasih yang uda kasih hadiah juga yaa.
Author doa kan rezekinya berlimpah ruah,aamiin.
Love You more
__ADS_1