La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#86


__ADS_3

Setelah melakukan pengangkatan janis yang ada di kandungan Siska dengan cara operasi cesar karena kandungan Siska sudah memasuki bulan ketiga sehingga tidak bisa di kuret, alhasil Siska di operasi agar tidak membahayakan nyawanya.


Dan dengan operasi plastik dengan membuat wajah yang begitu mirip dengan teman lama Bagas, Diana yakin dengan cara ini maka Bagas tidak akan menjauhi Siska karena Bagas begitu dekat teman lamanya dulu saat masih kuliah di luar negeri.


" Beres, sekarang tinggal menjalankan rencana kita" ucap Diana dengan wajah yang begitu bahagia.


*****


Di kantor Bagas, Bagas yang begitu sibuk dengan setumpuk pekerjaannya merasa lelah dan ingin sekali langsung pulang dan menemui istri tercintanya.


Tapi saat Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya, Bagas terkejut dengan kedatangan Rangga bersama dengan Raka tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.


" Ada yang ingin aku sampaikan" ucap Rangga yang langsung duduk di depan meja Bagas dan membuat Bagas terkejut dan menatap Rangga dan juga Raka dengan tatapan tajamnya.


" Tidak bisa kah kalian mengetuk pintu terlebih dahulu, apa tidak ada sopan santun kalian lagi pada ku" ucap Bagas dengan menatap Rangga dengan mata elangnya.


Rangga hanya bisa menatap Bagas dengan malas, sedangkan Raka sedikit ketakutan dan menundukkan kepalanya melihat bosnya yang sudah naik tanduknya sperti raja iblis.


" Apa yang ingin kau sampaikan? kalau tidak penting bagiku, maka bersiaplah untuk aku melempar kalian ke planet pluto" tanya Bagas menatap Rangga dan Raka secara bergantian.

__ADS_1


" Tadi aku melihat Miranda ada di kota ini" ucap Rangga langsung memberitahu.


Bagas yang mendengar kata Miranda langsung memajukan tubuhnya lebih dekat dengan meja kerjanya.


" Aku gak salah dengarkan? Miranda ada di kota ini? bukannya dia sedang sibuk mengurusi perusahaan keluarganya di Paris?" tanya Bagas pada Rangga.


" Yaah kau benar, Miranda masih mengurusi perusaahaan keluraganya yang ada di Paris, tapi dia datang ke sini untuk mengajak kerja sama dengan perusahaan mu, karena perusahaan mereka sedang dalam masalah" jawab Rangga membaritahu pertanyaan dari Bagas.


" Aku harus segera menemuinya, apa yang terjadi dengannya saat ini" ucap Bagas yang langsung mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Miranda saat itu juga, namun langsung di tahan Rangga.


" Sebaiknya kau urungkan niat mu untuk menghubungi Miranda, dan kau fikirkan bagaimana perasaan Reina kalau kau bertemu dengan Miranda tanpa memberitahu Reina" ucap Rangga yang langsung membuat Bagas menatapnya.


Bagas langsung menarik nafasnya dengan dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan, Ia menatap Raka dan Rangga secara bersama.


" Aku hanya kasian padanya kalau benar benar perusaahn nya ada masalah" ucap Bagas dengan suara sendunya.


" Ck Bagas ada apa dengan mu, tidak bisa kah kau berfikir jernih dan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu" ucap Rangga yang sudah begitu emosi melihat Bagas.


" Apa maksud mu?" tanya Bagas tak mengerti dengan perkataan Rangga.

__ADS_1


Dengan cepat Rangga melempar amplop coklat yang dari tadi di pegangnya, " lihat lah, maka kau akan segera mendapat jawabannya" ucap Rangga yang langsung pergi meninggalkan ruangan Bagas setelah melempar amplop coklat di hadapan Bagas.


Bagas hanya bisa menatap kepergian Rangga, begitu juga dengan Raka, setelah tubuh Rangga menghilang, dengan cepat Bagas membuka amplop yang di lempar Bagas dengan cepat.


Dengan mata yang mmebulat secera sempurna, Bagas melihat isi yang ada di dalam amplop tersebut, setelah itu menatap ke arah Raka.


" Jadi..." tanya Bagas begitu terkejut.


" Benar bos, nona Miranda sudah meninggal dua hari yang lalu karena di bunuh oleh orang suruhan Diana, dan Siska langsung di operasi plastik dan menyerupai wajah Miranda agar bisa dekat dengan bos dan menhancurkan rumah tangga bos dengan nona Reina, dan yang lebih parahnya mereka ingin membunuh nona Reina untuk mengambil darahnya sebagai penawar racun untuk Muklis" ucap Raka memberitahu.


Dengan sekali gerakan tangannya, semua kertas yang ada di tangan Bagas langsung remuk karena remasananya.


Bagaiaman bisa aku tidak tahu apa apa soal ini, dan kenapa lagi lagi Rangga yang mengetahui kabar ini lebih dahulu, batin Bagas terdiam dengan pikirannya.


"Aku akan mengikuti permainan mereka, suruh Rangga untuk mengatur nya, dan ingat biar aku yang melindungi istriku, Rangga cukup memantaunya dari jauh" perintah Bagas yang langsung di angguki kepala oleh Raka, setelah itu Raka langsung keluar dari ruangan bosnya.


" Permainan akan segera di mulai, wanita ****** itu bermain main denganku" ucap Bagas dengan senyum misteriusnya.


 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2