La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#77


__ADS_3

Saat ini seorag wanita cantik baru saja membuka matanya dari tidur panjangnya akibat kelelahan menempuh perjalanan yang cukup panjang, dengan melihat ke kanan dan kek kiri, Reina melihat sekeliling kamar yang saat ini di tempatinya.


Terasa asik bagi Reina, merasa penasaran sedang berada di mana dirinya saat ini, ahkirnya Reina beranjak dari kasuk empuknya dan berjalan ke arah jendela.


Dengan perlahan Reina membuka kain horden yang ada di kamarnya, begitu kain horden terbuka, mata Reina langsung membulat sempurna tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Sebuah pemandangan yang menyejukan mata, dimana ia melihat salju yang sedang turun dan juga pegunungan yang begitu indah di depan matanya.


Belum hilang rasa terkejutnya karena melihat pemandangan yang ada di hadapannya, Ia kembali terkejut dengan pelukan dari belakang yang tiba tiba saja sudah memeluknya.


Aroma tubuh yang sudah begitu hapal di hidung Reina membuat Reina ikut memeluk tangan kekar yang berada di atas perut Reina.


" Apa kamu senang sayang?" tanya Bagas sambil mencium rambut Reina yang begitu wangi bagi Bagas.


Reina tidak menjawab ucapan Bagas, Ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya karena begitu terharu karena bahagia bisa berada di tempat yang begitu indah saat ini.


" Kenapa Mas tidak memberitahu Reina sebelumnya kalau Mas mau membawa Reina ke sini" tanya Reina sambil mengelus punggung tangan Bagas yang masih bertengker di atas perutnya.


Bagas langsung mengangkat kepalanya karena mendengar panggilan Reina yang berbeda saat ini.


" Sayang tadi kamu panggil apa? MAs?" tanya Bagas yang sudah membalik Reina agar menghadap dirinya.


" Apa Mas keberatan?" tanya balik Reina.


Bagas tidak menjawab, ia langsung memeluk Reina begitu erat, rasanya ia begitu bahagia saat ini.


" Mas gak keberatan sayang, malah MAs begitu senang karena panggilan itu" ucap Bagas.

__ADS_1


"Yasudah sebaiknya kita serapan dulu ya, para maid sudah menyiapkan semua makanan untuk kita" ajak Bagas.


"Iya Mas, tapi Reina bersih-bersih dulu ya, masih bau iler" ucap Reina dengan kekehannya.


Bagas hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan Reina langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Bagas sendiri yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi langsung keluar kamar menunggu Reina di ruang santai, saat ia berjalan menuju ruang santai, Bagas melihat Rangga yang sedang berbicara melalui telpon genggamnya.


Setelah Rangga selesai berbicara, Bagas langsung bertanya pada Rangga ada berita apa saat ini.


" Ada apa Ngga? kenapa kau berbicara dengan begitu serius?" tanya Bagas.


Rangga yang mendengar suara Bagas langsung berbalik, ia menatap Bagas yang saat ini juga sedang menatapnya.


" Tadi Raka menghubungiku, katanya Muklis dan anak buahnya mendatangi Om Andre dan Tante Ridha untuk menanyakan dimana keberadaan Reina, dan terjadi keributan saat itu, tapi Om Andre bisa mengatasinya" ucap Rangga memberitahu pada Bagas.


Bagas hanya bisa menarik nafas dengan dalam, ia berfikir kapan mereka bisa tenang dengan gangguan dari iblis iblis itu, ingin rasanya Bagas membunuh mereka satu persatu, tapi belum waktunya untuk saat ini.


Bagas yang melihat kepergian Rangga dengan wajah yang sedikit berbeda dari awalnya ia berbicara langsung mengerutkan alisnya merasa ada yang disembunyikan Rangga darinya.


" Tunggu Rangga" panggil Bagas yang langsung membuat Rangga menghentikan langkah kakinya.


" Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Bagas melihat Rangga yang masih berdiri menbelakangi dirinya.


"Aku tidak menyembunyikan apa apa darimu" jawab Rangga tanpa menatap Bagas dan kembali melanjut kan langkahnya. Namun suara Bagas kembali menhentikan langkah kakinya.


" Tapi aku bisa melihat ada yang kau sembunyikan dariku, aku bisa melihatnya dari tatapan matamu" ucap Bagas.

__ADS_1


Kali ini Rangga berbalik menatap Bagas yang juga menatap dirinya dengan mata elangnya yang begitu tajam, Rangga menarik nafas dalam sebelum menjawab apa yang ada di fikiran Bagas.


" Sebaiknya kau tidak merusak bulan madumu Gas hanya karna kau penasran apa yang aku sembunyikan darimu" ucap Rangga yang membuat Bagas semakin menatap Rangga dengan begitu tajam.


"Aku hanya bisa berpesan agar kau selalu melindungi Reina dan selalu mmebuat dia bahagia" sambung Rangga dengan menatap wajah Bagas.


" Dia istriku, jadi pasti aku akan selalu melindungi dia dan akan selalu membuat dia bahagia, kau tidak perlu khawatir soal istriku" ucap Bagas yang masih menatap Rangga dengan tatapan tajamnya.


" Bagus lah kalau begitu, aku pegang janjimu, kalau tidak maka aku yang akan membuat Reina bahagia" sahut Rangga yang langsung melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan Bagas yang sudah emosi mendengar perkataan Rangga.


Tanpa mereka Bagas sadari, Reina mendengar ucapan suaminya dengan Rangga, Ia yang sudah selesai bersih bersih langsung turun untuk menemui suaminya agar bisa serapan bersama, namun langkahnya langsung terhenti mendengar percakapan antara suaminya dan orang kepercayaan suaminya yang saat ini membantu melindungi dirinya.


"Apa maksud dari perkataan mereka?" ucap Reina pada dirinya sendiri.


" Apa paman masih berusaha mengejarku sampai sini dan ingin merusak kebahagianku bersamamas Bagas" ucap Reina menerka nerka.


" Aku gak akan biarkan ini terjadi, aku harus melakukan sesuatu, aku gak mau berada di sini dengan sia sia, mas Bagas sudah berusaha membawa aku sampai sini agar kebahgaian kami sebagai pengantin baru tidak ada yang menganggu" ucap Reina sambil menatap suaminya yang masih menatap kepergian Rangga.


Dengan langkah perlahan, Reina menuruni anak tangga untuk menghampiri Bagas yang masih berdiri mematung di ujung tangga.


"Mas" panggil Reina dengan suara lembutnya.


Bagas yang mendengar suara istrinya langsung berbalik dan merubah mimik wajahnya yang tadinya begitu seram sekarang begitu manis dan tampan karena senyuman yang di berikan Bagas untuk Reina.


" Sudah selesai sayang" tanya Bagas yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Reina.


" Yasudah ayo kita serapan dulu Mas, Reina juga uda apar banget" ajak Reina sambil merangkul lengan Bagas dengan mesrah dan membuat Bagas tesenyum senang melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


Dan hal itu tak luput dari pandangan Rangga yang melihat Bagas dan Reina tertawa begitu bahagia saat sarapan di meja makan.


Tbc.


__ADS_2