La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#55


__ADS_3

Bagas masuk ke dalam kamar nya dan perasaan kesal karena habis di marahi oleh mama nya, dia teringat dengan Reina yang saat ini pasti sudah malu karena ketahuan bercumbu dengan kedua orang tua nya.


" Mama sama papa menyebal kan sekali, bisa bisa menjewer telinga ku sampai mereh seperi ini, untuk saja tidak lebar seperti telinga gajah" ucap Bagas dengan kesal.


Pintu kamar Bagas terbuka, Bagas melihat Raka masuk ke dalam kamar nya dengan membawa secangkir kopi yang masih setengah di minum nya tadi.


" Ngapain kau masuk ke kamar ku? mau mengejek ku karena aku habis di marahi sama mama" ucap Bagas dengan kesal sambil duduk di sofa di susul Raka.


Raka tidak menjawab, Ia hanya tersenyum melihat bos beserta sahabat nya yang saat ini begitu kesal.


" Maka nya kalau lagi asik jangan lupa kunci pintu, ketahuan kan? uda tahu nyamuk di rumah kita berterbangan kesana kemari" ucap Raka dengan kekehan kecil yang membuat Bagas semakin kesal.


" Aku yakin Reina sekarang tidak bisa tidur karena memikir kan mu karena kamu di marahi oleh mama" sambung Raka lagi yang membuat Bagas memijit pelipis nya.


" Mama tadi memang tiba tiba seperti macan" ucap Bagas.


" Kira kira kalau aku sudah menikah dengan Reina, Reina seperti mama tidak ya kalau lagi marah?" tanya Bagas ada Raka yang membuat Raka tertawa.


" Aku tidak tahu Gas, aku bukan pawang wanita yang mengetahui kapan dia marah atau kesal,cuma yang aku tahu, wanita itu akan sensitif saat mengalami datang bulan" ucap Raka memberi tahu.


" Datang bulan? maksud nya?" tanya Bagas yang kurang paham.


" Entar kamu jalani, dan kamu bakalan tahu, aku mau tidur dulu, besok kita berangkat ke Jerman, kamu juga jangan begadang, perjalanan kita jauh" ucap Raka langsung pergi meninggal kan Bagas yang kesal karena tidak mendapat jawaban dari Raka.


******

__ADS_1


Di Rumah sakit, setelah mendapat donor darah, pagi nya ahkir nya Siska siuman juga, Siska membuka mata nya perlahan, kemudian menatap sekeliling ruangan yang di lihat nya serba putih.


" Dimana aku? apa aku sudah mati? kenapa aku berada di ruangan yang serba putih? apa aku sekarang ada di surga karena?" ucap Siska yang terus melihat sekeliling ruangan tempat Siska di rawat.


" Tapi tunggu, seperti nya aku belum mati, iya aku belum mati, ini di rumah sakit" sambung Siska lagi saat melihat tangan nya di infus dan Siska melihat selang infus yang menggantung di sebelah tempat tidur nya.


Siska diam saja karena tidak ada siapa siapa di dalam kamar nya selain diri nya, tak lama pintu kamar ruangan Siska terbuka dan masuk lah dokter dan suster untuk memeriksa Siska.


" Selamat pagi, anda sudah sadar rupa nya" ucap dokter yang ingin memeriksa Siska.


" Apa yang terjadi dengan saya dok?" tanya Siska saat dokter langsung mengecek tekanan darah Siska.


" Kamu tadi malam pendaharan hebat, sampai begitu banyak kehilangan darah, tapi syukur nya kami bisa menyelamat kan bayi kamu dan kamu dengan tepat waktu" ucap sang dokter dengan tersenyum.


Sedeng kan Siska yang mendengar bayi yang di kandung nya selamat langsung memegang perut nya dan menatap benci pada perut nya.


Dokter keluar diluan untuk visit ke pasien lain, tinggal lah seorang perawat yang sedang mengganti kan botol infus Siska yang sudah mau habis.


" Apa saat aku pendaharan dan pingsan tidak ada yang melihat ku?" tanya Siska pada suster.


" Ada nona, ibu anda datang menjaga nona, tapi setelah nona mendapat donor darah, ibu anda langsung pulang" ucap Suster memberi tahu.


" Siapa yang membawa ke sini sus?" tanya Siska lagi.


" Saya kurang tahu nona, karena para pria bertubuh tegap yang membawa nona ke rumah sakit, setelah itu mereka langsung pergi begitu saja, mungkin mereka yang menolong nona saat nona mengalami pendarahan" ucap Suster memberi tahu.

__ADS_1


Siska diam saja, hati nya begitu saat tahu tidak ada yang perduli dengan nya saat keadaan nya begini, bahkan ibu nya saja tidak mau menunggu nya di rumah sakit.


" Permisi nona" ucap Suster pamit setelah pekerjaan nya selesai.


Siska tidak menjawab, dia hanya menatap perut nya yang masih rata dan memukul mukul nya agar bayi yang ada di dalam kandungan nya bisa mati.


" kenapa kau selamat hahk, aku tidak pernah berharap kau lahir kedunia ini, sebelum kau besar di dalam perut ku, aku akan berusaha mengeluar kan mu" ucap Siska memukul mukul perut nya.


Namun semua itu langsung di hentikan oleh ibu nya yang tiba tiba sudah ada di ruangan Siska entah kapan masuk nya.


" Siska...apa yang kau lakukan?" teriak Diana menghampiri anak nya.


" Untuk apa ibu ke sini, ibu saja tidak perduli pada ku, kenapa ibu biar kan dia masih berada di dalam rahim ku, harus nya biar kan saja dia mati" ucap Siska menatap ibu nya tak suka.


" Apa yang kau kata kan, kalau aku tidak perduli dengan mu, ngapain aku malam malam berusaha mencari donor darah untuk mu, aku bukan menyelamat kan bayi terkutuk itu, tapi aku menyelamat kan nyawa mu" ucap Diana yang sudah emosi.


" Aku gak mau tahu bu, dia harus mati, aku gak mau melahir kan bayi ini" ucap Siska yang sudah menangis.


" Nanti kita fikir kan bagaimana cara nya, lagian dokter bodoh itu sekarang sudah di penjara" ucap Diana dengan wajah kesal nya.


" Ini pasti ada campur tangan keluraga Kesuma bu, karena tadi aku bertanya pada suster, kalau aku di bawa ke sini oleh pria bertubuh tegap, itu pasti anak buah Bagas bu" ucap Siska memberi tahu.


" Tidak salah lagi, mereka pasti biang rusuh nya, aku harus balas dendam, gak akan ku biar kan mereka senang di atas penderitaan ku" ucap Diana dengan tatapan kejam nya.


" Apa yang akan ibu lakukan?" tanya Siska yang menatap wajah ibu nya begitu mengeri kan.

__ADS_1


" Kau tak perlu tahu, kau urus saja kesehatan mu, dan bagaimana cara membunuh bayi yang ada di dalam kandungan mu itu, karena aku juga tidak suka dia lahir ke dunia ini, karena bapak nya saja tidak tahu siapa, di tambah dia anak dari bibit yang tidak istimewa nya sama sekali" ucap Diana langsung pergi meninggal Siska begitu saja.


Tbc.


__ADS_2