La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#126


__ADS_3

Saat akan melangkah kan kakinya menuju dapur, tanpa sengaja Reina menginjak sesuatu dan tiba tiba


Bruaaaaaak


Cetaaaaaaaar


Suara pecahan kaca begitu terdengar di telinga mama Ridha dan ibu Fitria, dengan cepat mama Ridha terdiam beberapa saat kemudian langsung tersadar saat mendengar suara teriakan seseorang.


" Aaaaaahhhkkkk, Ya Allah"


"Reina" teriak mama Ridha dan ibu Fitria bersamaan setelah itu langsung berlari kearah dapur.


" Ya ampun nona Reina apa yang terjadi? kenapa nona bisa sampai terjatuh" ucap Bibi saat melihat keadaan Reina dengan kepala yang terbentur ujung tangga dan berdarah.


" Reina" jerit mama Ridha langsung memangku kepala Reina.


" Kenapa bisa sampai seperti ini Bi?" tanya mama Ridha.


" Saya juga tidak tahu Nya, tadi saya lagi di dapur kotor ingin memasak makan siang, tapi saya mendengar suara teriakan seseorang dan pecahan piring, saat saya melihat nona Reina sudah tidak sadar kan diri seperti ini" ucap Bibi menjelaskan kan.


" Ayo cepat bawa ke rumah sakit" ucap Ibu Fitria yang sudah begitu khawatir.


Dengan cepat para penjaga langsung mengangkat tubuh Reina masuk ke dalam mobil, selama di perjalanan mama Ridha hanya bisa menangis karena takut terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya.


Bahkan untuk menghubungi Bagas dan suaminya saja mama Ridha tidak kepikiran lagi.


Sementara di kantor, Bagas yang ingin meeting entah kenapa perasaan nya tidak enak, jantung nya berdetak begitu cepat, dan saat ingin berdiri, tanpa sengaja Bagas menyenggol album foto dirinya bersama dengan Reina dan terjatuh.


Cetaaaaar


" Ya Allah" ucap Bagas karena terkejut.


" Ada pertanda apa ini ya Allah, semoga Reina baik baik saja" lanjut Bagas kemudian langsung menelpon Reina, tapi karena tidak di angkat Bagas langsung menelpon mamanya.


Dan hasilnya sama saja, ponsel mama Ridha tertinggal di meja saat menonton televisi jadi tidak ada jawaban sama sekali.


" Ya Allah Reina dan mama kemana sih, kenapa gak angkat telpon nya" ucap Bagas dengan wajah yang sudah kalut.


Saat sedang kalut, pintu ruangan Bagas terbuka dan masuk lah papa Andre dengan di temani Raka.

__ADS_1


" Ada apa? kenapa wajah mu begitu pucat?" tanya papa Andre.


" Pa perasaan Bagas gak enak Pa, Bagas takut terjadi sesuatu pada Reina" ucap Bagas.


" Tenang lah, apa kau sudah menelpon Reina atau mama?" tanya papa Andre kembali.


" Sudah Pa, tapi tidak ada jawaban satu pun" jawab papa Andre.


" Bos coba telpon ke rumah saja" ucap Raka memberi saran.


" Ahk iya kenapa tidak kepikiran" ucap Bagas yang langsung menghubungi ke telpon rumah nya.


" Halo Bi tolong sampai kan sama istri saya atau mama kalau saya mau bicara" ucap Bagas langsung saat telpon tersambung.


"......... "


" Apaaa" ucap Bagas yang langsung diam seketika.


Rasa nya jantung nya langsung berhenti berdetak saat itu juga saat mendengar kalau istrinya terjatuh dan mengeluarkan banyak darah dari kepalanya karena terbentur ujung tangga.


" Gas apa yang terjadi?" tanya papa Andre yang sekarang malah ikutan khawatir.


" Tenang lah Gas, semoga tidak terjadi apa-apa pada Reina dan calon anak kalian, sekarang lebih baik kita langsung menyusul ke rumah sakit" ajak papa Andre yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Bagas.


" Raka kau selesai kan semua urusan pekerjaan, kalau ada yang penting hubungi saya" ucap papa Andre sebelum keluar.


" Baik Tuan" jawab Raka dengan tegas.


Mama Ridha dan ibu Fitria menunggu di depan UGD dengan keadaan kacau, baju mama Ridha sudah berlumuran darah karena tadi memeluk kepala Reina.


Saat sedang kalut, mama Ridha di kejut kan dengan kehadiran Bagas.


" Ma apa yang terjadi? kenapa Reina sampai terjatuh Ma, dan bagaimana keadaan Reina dan calon anak kami" tanya Bagas.


" Mama juga belum tau Gas, Reina masih di periksa Dana di dalam, dan tadi Reina jatuh saat dia mau ke dapur untuk mengupas buah kiwi lagi, awal nya mama sudah melarang, tapi Reina menolak dan tiba-tiba saja sudah terjadi seperti ini" ucap mama Ridha menjelaskan.


Bagas langsung menghubungi Meta, saat ini Meta sedang menuju ke rumah sakit setelah mendapat kabar, awal nya tadi Meta sedang berada di supermarket karena persedian kiwi sudah menipis, karena Bagas belum sempat beli, jadi Meta lah yang pergi Beli dan meninggal kan nona nya di rumah bersama mama Ridha dan Ibu Fitria.


"Meta kau cek cctv, aku yakin ada yang tidak beres, kenapa istriku bisa sampai terjatuh" ucap Bagas saat sambungan sudah terhubung.

__ADS_1


Bagas sudah mondar mandir tidak jelas di depan UGD, dan tak lama pintu ruangan terbuka, Dana keluar dengan dokter lainnya yang memeriksa keadaan Reina dan calon bayi mereka.


" Dana gimana keadaan istri dan calon anak ku?" tanya Bagas.


Dana menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Begini Gas, saat ini Reina kekurangan darah karena benturan di kepalanya begitu banyak mengeluarkan darah, jadi kita minta kau cari golongan darah AB untuk istri mu, dan mengenai calon anak kalian" ucap Dana berhenti sejenak.


" Kenapa? kenapa dengan kandungan Reina?" tanya Bagas karena sudah tidak sabar.


" Karena Reina terjatuh dan mengenai pinggang, benturan itu juga berpengaruh pada kandungan Reina, jadi apabila dalam tiga hari Reina belum sadar kan diri, kemungkinan batin kalian akan di keluarkan karena saat ini kondisi nya sangat lemah, karena tidak ada asupan yang masuk janin kalian karena Reina tidak bisa mengkonsumsi makanan untuk janin kalian" ucap Dana yang langsung membuat Bagas terdiam beberapa saat.


" Sebaiknya kau cari darah buat Reina terlebih dahulu Gas, ini sangat membantu agar Reina cepat sadar" lanjut Dana lagi yang langsung membuat Bagas menatap mamanya.


Karena golongan darah Bagas tidak sama dengan istrinya, begitu juga dengan kedua orang tuanya, Bagas terdiam beberapa saat, namun tiba tiba Bagas teringat dengan Rangga, bisa jadi Rangga mempunyai golongan darah yang sama dengan istrinya.


" Bi hubungi Rangga sekarang, aku yakin golongan darah Rangga sama dengan Reina" ucap Bagas pada ibu Fitria.


Ibu Fitria langsung menelan salivanya saat mendengar ucapan Bagas.


" Apa maksud kamu Gas? kenapa kamu mengatakan kalau Rangga dan Reina mempunyai golongan darah yang sama?" tanya mama Ridha.


"Psnjelasan bisa belakangan Ma, Bi Bagas mohon, tolong hubungi Rangga sekarang juga" ucap Bagas lagi.


Dan Ibu Fitria langsung menganggukkan kepalanya dan mengambil ponselnya di saku celananya, dengan cepat ibu Fitria langsung menelpon Rangga dan mengatakan kalau Reina saat ini sedang berada di rumah sakit.


Hampir 20 menit Bagas menunggu Rangga, saat sudah tiba dengan cepat Bagas langsung menarik Rangga ke ruang perawatan dimana para Dokter sudah bersiap untuk mengambil darah Rangga.


" Gas kau mau bawa aku kemana? aku mau melihat keadaan Reina" ucap Rangga menghempas kan tangan Bagas.


" Itu bisa belakangan, yang terpenting saat ini adalah kau harus mau mendonorkan kan darah mu untuk Reina" ucap Bagas.


Rangga menyatukan alis nya kerana merasa bingung, " Apa maksud mu? bahkan kau belum mengetahui golongan darah ku, dan kenapa kau bisa langsung menyuruh ku untuk mendonorkan darah ku untuk Reina?" tanya Rangga menatap Bagas dengan wajah penuh selidik, begitu juga dengan papa Andre, mama Ridha dan ibu Fitria yang sudah begitu degdegan.


"Karena kemungkinan besar kau adalah saudara kembar Reina yang dinyatakan sudah mati dulu" ucap Bagas dengan suara tertahan.


Deg


Semua yang mendengar ucapan Bagas langsung terkejut.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2