
" Bos..." ucap Raka terpotong saat Bagas langsung mengangkat tangan nya.
" Baik lah tidak usah basa basi, tujuan kalian sudah tercapai, anak ku sudah berhasil kalian hancur kan, dan selamat lah untuk kalian, tapi itu semua tidak aku biar kan, semua nya ada balasan nya" ucap Diana melanjut kan ucapan nya.
Diana menunjuk kan remot nya pada semua orang yang ada di hadapan nya.
" Kau tahu ini remot apa Reina?" tanya Diana yang langsung dapat gelengan kepala oleh Reina yang sudah semakin ketakutan.
" Ini adalah remot yang terhubung langsung dengan bom yang ada di tubuh mu" ucap Diana sambil terkekeh kecil.
" Kau ingat bukan saat kau terjatuh waktu masih kecil dulu, aku meminta teman ku untuk merakit bom dan meletak kan di kaki mu" ucap Diana memberi tahu.
" Dan kau tau kenapa selama ini ayah bodoh mu itu tidak pernah menolong mu saat aku dan Siska menyiksa mu, itu karena ayah mu takut kalau aku akan memencet remot bom ini" sambung Diana lagi.
Bagas masih diam dengan tetap memeluk Reina yang sudah ketakutan, sedang kan mama Ridha dan papa Andre sudah mewanti wanti Diana agar bisa merebut remot yang ada di tangan Diana saat ini.
Raka sang asisten hanya bisa memperhatikan gerak gerik Diana saja, karena dia akan bergerak kalau sang bos lh yang memerintah kan nya.
" Silah kan kau berpamitan dengan keluarga baru mu Reina, agar mereka tidak terlalu bersedih saat kau sudah menyusul ibu mu yang bodoh itu" ucap Diana kembali.
Reina hanya bisa menangis sambil menggeleng kan kepala nya, Bagas yang melihat air mata Reina mengalir deras di pipi nya merasa tersayat di hati nya.
" Tenang lah Rein, tidak akan terjadi apa apa dengan mu, percaya lah pada kakak" bisik Bagas tepat di telinga Reina.
" Satu.....Dua....apa kau tidak mau memeluk calon mama mertua mu dahulu Reina Adinda Fatahillah" ucap Diana.
" Kalau memang umur Reina hanya sampai hari ini, Reina ikhlas Bu, tapi Reina mohon Bu, tolong jangan sakiti Ayah" ucap Reina dengan tangisan yang sudah semakin deras.
" Itu urusan ku Reina, tapi aku sudah bosan dengan mu, mungkin kalau kau mati, maka apa yang aku rencana kan dari dulu lebih mudah tercapai, kenapa tidak dari dulu saja aku mmebunuh mu, sehingga hak waris dari harta ibu mu langsung jatuh ke tangan ayah mu, dan aku bisa membunuh ayah mu secara perlahan" ucap Diana.
" Bu taubat lah, harta tidak bisa membawa kita untuk menjadi bahagia, kalau ibu mendapat kan dengan tidak halal Bu" ucap Reina agar Diana sadar.
" Aku tidak butuh ceramah mu, sekarang sudah waktu nya kau akan menyusul ibu mu yang bodoh itu" ucap Diana dan langsung memencet tombol hijau yang ada di remot dalam genggaman Diana dan bersamaan saat AYah Budi datang ke rumah besar Kesuma.
" REINAAAAA ANAK KUU" Teriak Budi saat melihat Diana memencet tombol bom nya.
__ADS_1
" Reinaaaa" teriak mama Ridha bersamaan saat remot di tekat oleh Diana.
Bunyi detik bom akan meledak pun berbunyi, ayah Budi langsung memeluk putri kesayangan nya sambil menetes kan air mata.
" Diana apa yang kau lakukan, ini semua tidak lucu, kau memang peremuan iblis Diana" bentak Ayah Budi.
Diana tidak mau tahu, dia hanya tersenyum mengejek dan melihat detik detik Reina akan mati dengan tubuh hancur berkeping keping.
" Diana aku mohon henti kan bom ini, aku tidak kalau tubuh ptutri ku hancur Diana" ucap Ayah Budi memohon.
Sementara mama Ridha dan papa Ridwan sudah binging bagaimana menghenti kan detik bom yang sudah berbunyi terus dan tinggal menunggu waktu saja.
" Bagas tolong lakukan sesuatu, mama tidak mau calon menantu mama mati hanya karena wanita iblis itu" ucap mama Ridha yang sudah menangis.
Bagas hanya bisa menatap Diana dengan tatapan membunuh, dia hanya bisa memeluk Reina dengan erat agar Reina tidak takut.
" Waktu mu bernafas tinggal 15 detik lagi Reina" ucap Diana dengan senyuman di bibir nya.
" sepuluh...sembilan..delapan..tujuh...enam..lima..empat...tiga...dua...satu...duaaaaaaaaar" ucap Diana yang pura pura menutup telinga nya dan menutup mata nya.
Tapi berbeda dengan yang di lihat oleh ayah BUdi, mama Ridha, papa Andre dan Diana tentu nya.
Diana terheran kenapa Reina tidak meledak, dia masih hidup dan berdiri dengan sempurna di hadapan diri nya.
Melihat Diana yang keheranan, kini Bagas yang bersuara dan membuat Diana terkejut.
" Sudah puas membuat kekacauan di rumah ku, dan kau juga sudah puas dengan ambisi mu" ucap Bagas dengan tatapan membunuh.
" Kau pasti bingung bukan, kenapa bom yang kau tanam di tubub Reina tidak membuat tubub Reina meledak" ucap Bagas.
Diana hanya diam saja sambil memencet remot yang ada di tangan nya tapi sudah tidak berfungsi lagi.
" Itu semua karena aku sudah mengeluar kan bom itu dari tubuh Reina saat aku di beri tahu oleh pak Budi" ucap Bagas memberi tahu
Saat yang bersamaan Reina masuk rumah sakit seminggu yang lalu, maka aku juga menyuruh dokter spesialis bedah dan saraf untuk mengeluar kan rakitan bom yang ada tubuh Reina" sambung Bagas.
__ADS_1
" Dan kenapa aku tadi pura pura terkejut, itu semua karena aku mau melihat wajah bodoh mu setelah kau melihat kalau Reina masih hidup dan berdiri di hadapan mu sekarang" ucap Bagas lagi sambil tersenyum mengejek.
" Sekali dayung dua pulau terlampaui, aku sudah punya bukti tentang kajahatan mu, dan kau sendiri yang membongkar nya, maka siap siap lah untuk tinggal di balik jeruji besi" ucap Bagas kemudian langsung pergi membawa Reina masuk ke dalam rumah.
Di susul oleh mama Ridha, papa Andre dan juga Raka, tapi sebelum pergi, papa Andre langsung menyuruh bodigat papa Andre untuk melempar Diana keluar dari rumah nya, dan menyuruh para pelayan untuk membersih kan bekas pijakan yang di pijak oleh Diana.
" Tolong kalian lempar wanita ini jauh jauh dari rumah ku, dan suruh para pelayan untuk mengepel lantai yang sudh di pijak nya, karena aku tidak mau rumah ku bernajis karena sudah di injak nya" ucap papa Andre dengan tatapan membunuh saat melihat Diana.
" Mari pak Budi kita masuk" ajak papa Andre sebelum melangkah masuk ke dalam.
Ayah Budi belum beranjak dari tempat dia berdiri sekarang, dia masih menatap istri ke dua nya dengan tatapan tajam nya.
" Sekarang kau sudah puas, bukan aku yang membalas kan perbutan mu yang seperti iblis itu, tapi kau sendiri Diana, sekarang tunggu lah saat saat kau berada di balik jeruji besi" ucap Budi langsung pergi meninggal Diana yang masih mematung tak percaya dengan kejadian yang baru di alami nya barusan.
Tbc.
jangan lupa untuk selalu dukung karya Author ya readers tercintaa...
Dengan
Like
Komen yang positif
Dan Vote yang banyak
Dan jangan lupa juga dengan bung dan kopi nya ya readers tercintaa yang banyaaakkkkk
Terima kasih
Love You More
__ADS_1