
Dengan cepat Diana membuka amplop itu dan membaca nya dengan cepat, dengan tangan bergetar dan mata membulat, bak siang bolong di sambar petir, jantung Diana seketika mendadak berhenti saat membaca nya dengan seksama.
" Gak,,,gak mungkin, ini gak mungkin, dari mana mereka bisa melakukan ini semua, ini pasti rekayasa" ucap Diana yang sudah seperti orang gila.
Lagi lagi Diana membaca ulang kertas yang ada di tangannya, dan hasilnya sama.
" Gak, ini pasti salah, gak mungkin, gak mungkin" ucap Diana dengan wajah memucat.
Sementara mama Ridha yang sudah sampai di loby apertemen dimana Diana tinggali menanatp anak buah Diana satu persatu.
" kalian bisa jadi pengikut ku, tapi aku mau kesetian, apabila ada yang berniat mengkhianati kepercayaan keluarga ku, maka kalian tahu apa akibatnya bukan" ucap mama Diana dengan wajah bak ratu iblis menantap anak buah Diana satu persatu yang kini sudah menjadi pengikutnya.
Mama Ridha menatap ke atas dimana kamar Diana yang berada di paling atas gedung apertemen, " semoga kita bertemu lagi Diana, entah itu dirumah sakit jiwa atau aku akan melihat mu di pemakaman mu karena kebodohan mu sendiri" ucap mama Ridha yang langsung measuk ke dalam mobil di ikuti seluruh anak buahnya.
Diana sendiri histeris di dalam kamar, " gak mungkin seluruh harta peninggalan Muklis sekarang sudah beralih atas nama Reina, dari mana mereka memalsukan tanda tangan Muklis, dan seharusnya di sini juga harus ada persetujuan ku, tapi kenapa sekarang semuanya sudah menjadi milik Reina, aku gak terima, ini pasti rekasayasa, aku harus pastikan ke perusahaan langsung, dan bertemu dengan kuasa hukum Muklis" ucap Diana yang langsung pergi meninggal kan apretemennya bertemu kuasa hukum Muklis.
Sampai di loby apertemen, Diana sama sekali tidak melihat anak buahnya, bahkan mobil yang biasa ia pakai juga tidak ada di sana, dengan cepat Diana menelpon salah anak buah kepercayaan.
Tut...tut..tut
" Halo, dimana kau, kenapa satu pun tidak ada yang menjaga di sini, dan kemana mobil ku kalian bawa?" ucap Diana langsung saat sambungan telponnya sudah terjawab.
"Bicara pelan-pelan Nyonya Diana, kami saat ini sedang berada di jalan untuk menuju ke tempat bos kami yang baru, karena kami tahu kau Nynonya sudah tidak sanggup untuk bayar kami lagi, dan kata Bos Ridha mobil yang ada di sana adalah hak nona Reina, jadi Nyonya sudah berhak untuk menggunakan nya kembali" ucap mantan anak buah Diana.
__ADS_1
" Keparat, kau sudah menghianatiku, awas saja kalau aku sudah berhasil mengembalikan harta kekayaan Muklis, kau orang pertama yang akan aku lenyapkan dari dunia ini" bentak Diana begitu geram.
" Aku tunggu kabar itu Nyonya, selamat siang" sahut mantan anak buah Diana kemudian langsung mematikan telponnya begitu saja.
Kini wajah Diana sudah merah padam bak bara api yang lagi marak maraknya, dengancepat dia langsung menyetop taksi di depan gedung apertemennya, agar lebih cepat bertemu dengan kuasa hukum Muklis.
Setelah perjalanan hampir satu jam,kini Diana sudah tiba di perusahaan satu-satunya milik Muklis yang tidak terlalu besar, dengan tampil percaya dirinya Diana masuk ke dalam perusahaan, namun baru beberapa langkah Diana langsung di stop oleh para security.
" Maaf Nyonya, anda tidak boleh masuk" ucap security.
" Tidak boleh masuk? kau lupa siapa aku, aku adalah bos kalian setelah kematian Tuan Muklis" sahut Diana.
" Itu Dulu Nyonya, tapi sudah beberapa hari ini, perusahaan ini milik none Reina, karena saham tuan Muklis sudah di ambil alih tas nama Nona Reina" ucap securuty memberi tahu.
" Sekali tidak bisa tetap tidak bisa Nyonya, silahkan anda angkat kaki dari sini" perintah security sambil mendorong tubuh Diana yang sudah tidak di takuti mereka lagi.
Dari kejauhan Rangga dan Raka tersenyum di dalam mobil, " Kini kau sudah dapat balasannya wanita iblis, tiba saatnya nanti saat Bos Bagas sudah kembali, aku yakin kau akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa saat itu juga" ucap Raka yang di sambut tawa oleh Rangga.
Kemudian mereka langsung melajukan mobilnya menuju rumah besar. Sedangkan Diana sudah begitu marah dan kembali memberhentikan taksi untuk bertemu dengan mama Ridha dan juga papa Andre.
Selama di perjalanan Diana selalu mengupat tidak jelas, dan ketika sampai, Diana langsung melihat seluruh anak buahnya berada di sana, dengan wajah penuh amarah Diana melihat mereka satu persatu.
" Dasar penghianat, akan aku balas penghianatan kalian nanti" ucap Diana yang malah di jawab dengan kekehan oleh seluruh mantan anak buah Diana.
__ADS_1
Dan kedatangan Diana di sambut baik oleh mama Ridha dan juga papa Andre, " Aku kira kita bertemu lagi saat kau sudah menjadi wanita gila atau di pemakaman" ucap mama Ridha dengan tawa mengejek.
" Tidak usah senang dulu Ridha, aku masih tidak percaya dengan surat yang kau berikan padaku, aku yakin ini hanya rekayasa kalian yang sudah memalsukan tanda tangan Muklis" ucap Diana.
" Apa pun itu, intinya kau sekarang wanita kere Diana, apa yang mau kau bangga kan? bahkan sebentar lagi wajah mu itu akan seperti nenek nenek tua karena kau tidak akan mampu membeli skincare mahal mu" lagi-lagi mma Ridha mengejek Diana.
" Jauh sekali beli skincare Ma, bahkan untuk mengisi perut sejangkalnya pun dia tidak akan sanggup" ucap papa Andre menimpali.
" Kau mau pergi kemana pun tidak ada yang mau menampung mu diana, termasuk pacar gelap mu yang hobi merakit bom untuk mu itu" sambung mama Ridha kembali.
Diana hanya diam saja, namun tak lama dia langsung mengeluarkan pistol dari dalam tasnya, dengan begitu cepat Diana menembakkan pistol tersebut ke arah mama Ridha.
Dor
Dor
Dor
" Aaahhhkkk"
Tbc.
Waduuuh mama Ridha ketembak?
__ADS_1
Atau siapa ya yang ketembak?