
" Ahkir nya kau pergi juga Rein, semoga saja sekalian pergi selama lama nya, pesawat yang kau tumpangi jantuh di bawah lautan luas, dan tubuh nya habis di makan hiu, jadi tidak ada yang menghalangi mama ku untuk menhambil alih seluruh harta kekayaan mu, dan aku bisa menganti kan posisi mu untuk tuan Bagas" ucap Siska yang langsung pergi meninggal kan kamar Reina.
Dari balik tembok, Ayah Budi menatap kepergian Siska.
" Sudah ku duga kau pasti akan mencari tahu nya dan mengata kan semua nya pa ibu mu" batin Ayah Budi.
Bagas terus memohon pada Reina agar tidak pergi meninggal kan nya, tapi Reina tidak menanggapi semua ucapan Bagas.
"Sudah lah kak sebaik nya kakak pulang saja, Reina akan pergi kak" ucap Reina pergi meninggal kan Bagas ke arah jendela.
Bagas menghela nafas dalam dalam, di tatap nya wanita yang sudah mengisi hati nya saat ini, entah kenapa rasa sesak di dada Bagas saat melihat Reina tidak mendengar semua ucapan nya.
" Begitu marah nya kah kamu Rein pada kakak? sampai sampai untuk melihat wajah kakak pun kamu tidak mau?" ucap Bagas dengan nada sedih.
Reina tidak menjawab, Ia menutup mata nya agar tidak terpengaruh pada kesedihan Bagas.
Maafkan aku kak, batin Reina tetap berdiri di depan jendela kamar nya membelakangi Bagas.
" Apa kamu sudah tidak mencintai kakak lagi Rein, baru beberapa jam yang lalu kita saling mengungkap kan perasaan kita bukan? kenapa sekarang kamu malah berubah?" tanya Bagas menatap punggung Reina.
" Sebaik nya kakak pulang sekarang, Rein mau istirahat, besok pagi Reina harus berangkat kak" usir Reina agar Bagas tidak membahas masalah hubungan nya.
Ayah Budi mengetuk pintu kamar Reina, Bagas dan Reina langsung melihat ke arah pintu.
" Ayah" ucap Reina masih berdiri di depan jendela.
Ayah Reina tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar, di tepuk nya bahu Bagas dengan lembut.
" Sudah malam, sebaik nya kamu pulang dulu Gas, besok kita bicara kan lagi" ucap Ayah Budi agar Bagas mau pulang.
__ADS_1
" Tapi Yah Reina.." ucapan Bagas langsung di potong ke oleh Ayah Budi.
" Besok kita bahas lagi" ucap Ayah Budi dengan senyuman di wajah nya.
Mau tidak mau Bagas pergi meninggal kan kamar Reina, sebelum Bagas menghilang, Ia melihat berbalik dan melihat Reina, Reina sendiri yang tau di msih di tatap oleh Bagas merasa kan sesak di dada nya, Ia ingin nangis, tapi belum bisa karena Bagas nantik mengetahui nya.
Setelah kepergian Bagas, Reina langsung menumpah kan air mata yang dari tadi di tahan nya.
" Ayah...jujur aku gak sanggup memperlakukan ini pada kak Bagas, aku gak sanggup yah, aku takut justru kak Bagas malah pergi dari Reina dan Reina kehilangan kak Bagas, Reina takut Yah" ucap Reina sambil menangis.
" Sabar sayang, semua nya akan berahkir dengan kebahagian, yang penting kamu harus ingat pesan ayah, sekarang kamu istirahat, besok kamu akan pergi perjalanan lumayan jauh" ucap Ayah Bdi kemudian mencium pucuk kepala Reina dengan lembut.
Bagas yang tidak bisa membujuk Reina agar tidak pergi meninggal kan nya ke Makasar duduk termenung di taman rumah nya yang sudah di tumbuhi bunga bunga yang di tanam Reina dulu saat masih tinggal di rumah nya.
Raka yang selalu setia dengan bos nya menemani nya duduk sambil menatap bunga mawar putih di hadapan nya.
" Aku tidak tahu Gas, bisa iya dan bisa tidak" ucap Raka menjawab pertanyaan Bagas.
" Entah kenapa aku gak bisa jauh dari nya Ka, dia sekarang kehidupan ku" ucap Bagas yang kali ini menatap bintang di lagit.
" Maka kau harus bisa membuat dia meyakini kembali cinta mu untuk nya, agar dia tidak pergi meninggal kan mu" ucap Raka yang langsung membuat Bagas menoleh pada nya.
" Cara nya?" tanya Bagas antusius.
" Itu lah tugas mu sekarang pak bos" ucap Raka menepuk Bahu Bagas dan berdiri dari tempat duduk nya.
" sudah malam bos, angin malam tidak baik buat kesehatan, sebaik nya bos istirahat dulu. besok bos bisa fikir kan kembali cara menyakin kan Reina" ucap Raka yang langsung meninggal kan Bagas sendiri di taman.
Bagas menatap kepergian Raka, " Kenapadia seperti nya yang seperti bos nya di sini, main pergi pergi gitu saja" ucap Bagas yang langsung menyusul Raka ke dalam rumah.
__ADS_1
Di tempat lain, setelah mendapat kabar dari anak nya, Diana malah duduk terdiam sedang memikir kan sesuatu.
" Bagaimana? ada kabar baik?" tanya seorang laki laki yang usia nya di atas Diana sedikit.
" Anak sialan itu malah ingin pergi dari rumah dan menetap ke kampung ibu nya yang bodoh itu" ucap Diana memijit pangkal hidung nya.
" Kau yakin?" tanya orang tersebut.
" Yaahh...Siska yang memberi tahu kan semua nya barusan, bahkan putra tunggal Andre Kesuma tidak bisa menghentikan kepergian nya" ucap Diana dengan wajah kesal nya.
" Aku tahu ada rencana di balik ini semua, kita lihat saja besok" ucap orang tersebut kemudian pergi meninggal kan Diana yang masih pusing memikir kan rencana apa yang membuat agar Reina tidak jadi pergi.
" Ahhk sial...dia lagi lagi merusak rencana ku, sebaik nya aku hubungi Rudi saja, agar dia membantu ku" ucap Diana yang langsung menghubungi Rudi sahabat nya yangselalu membantu nya.
Di kamar yang remang lagi lagi tatapan mata lelaki tersebut begitu tajam menatap foto yang ada di hadapan nya yang sudah di cucuk nya dengan pisau.
" Aku tahu kau punya rencana di balik semua ini Ndre, dari dulu kau memang benar benar licik, tapi kali ini kau tidak bisa menghalangi jalan ku" ucap nya dengan tatapan penuh amarah.
Diana sendiri yang sudah menghubungi Rudi langsung tersenyum puas setelah Rudi dengan senang hati mau membantu nya asal Rudi bisa mendapat kan keuntungan yang setimpal setelah dia berhasil melakukan apa yang di ingin kan Diana.
" Cuma dengan cara ini kau tidak akan jadi pergi anak sialan, mungkin kebatalan keberangkatan mu akan membuat anak ku sedih, tapi itu tidk maslah dengan ku" ucap Diana dengan penuh dendam.
Reina sendiri setelah kepergian Bagas entah kenapa perasaan nya menjadi tidak enak, dia hanya bisa bolak balik di kasur nya yang empuk saja, pikiran nya tertuju pada Bagas dan juga Ayah nya.
" Entah kenapa aku jadi takut sendiri menhgadapi hari esok" ucap Reina sambil menatap langit langit kamar nya.
Tbc.
__ADS_1