
Di kediaman Kesuma, Bagas sedang berada di ruang kerja nya bersama dengan Raka dan papa Andre, wajah Bagas kelihatan tidak bersemangat, dan itu bisa di lihat oleh papa Andre dan Raka.
" Sudah lah Gas, kamu kerja kan saja pekerjaan mu dengan baik selama di sana, soal Reina tidak usah kamu fikir kan, ada papa dan mama yang menjaga nya" ucap papa Andre yang mengerti melihat kondisi anak nya saat ini.
Bagas menarik nafas nya dengan dalam, kemudian dia menatap papa nya yang sedang fokus mengerjakan sesuatu.
" Aku takut Reina kenapa napa Pa, papa tahu sendiri kan kalau dia saat ini dalam bahaya, banyak sekali musuh dan misteri yang aku saja baru mengetahui nya, dan sekarang aku harus meninggal kan dia selama satu bulan, itu waktu yang lama Pa" sahut Bagas sambil melempar berkas ke atas meja kerja nya.
" Tidak usah seperti anak kecil Gas, ingat kamu sudah tua, bahkan kamu sudah membuat anak kecil, papa sudah kata kan bukan Reina aman bersama papa dan mama di sini" ucap papa Andre yang kesal melihat tingkah anak nya.
Raka hanya bisa menjadi pendengar budiman antara anak dan papa itu, terkadang di menggeleng kan kepala nya saat melihat bos nya begitu suntuk karena harus meninggal kan pujaan hati nya.
" Kenapa aku tidak boleh membawa Reina sih Pa, atau pernikahan ku di percepat saja Pa, jadi aku bisa membawa Reina ke Jerman sekalian kita bulan madu, kan setelah pulang dari sana aku membawa kabar bahagia buat papa dan mama kalau Reina hamil" ucap Bagas yang langsung mendapat pelototan mata dari papa Andre.
" Tugas mu di sana bukan untuk bermesraan dengan Reina Gas, tugas mu di sana menjalan kan perusahaan kita, jadi kamu tidak usah macem macem" ucap papa Andre yang lmembuat Bagas langsung menelan saliva nya mendengar ucapan papa nya.
" Semua sudah selesai bos, sekarang waktu nya kita berangkat" ucap Raka menengahi anak dan papa itu.
Bagas hanya bisa mendesah dan mengangguk kan kepala nya, dia menatap papa nya, papa Andre yang di tatap mengerti apa maksud dari tatapan anak nya.
" Pergi lah temui Reina, papa tau kamu pasti ingin mengatakan sesuatu pada nya" ucap Papa Andre yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Bagas.
Melihat kepergian Bagas untuk menemui Reina, papa Andre hanya bisa menggeleng kan kepala nya saja.
" Dulu saja begitu anti dengan wanita, sekarang malah seperti perangko yang tidak bisa lepas sebentar saja" ucap papa Andre yang mendpat kekehan oleh Raka.
__ADS_1
" Kamu gak usah tertawa Ka, bisa jadi kamu lebih para nanti dari Bos kamu itu" ucap papa menyindir Raka yang menertawa kan Bagas.
Di kamar Reina, Bagas masuk namun tetap membuka pintu kamar Reina, ia tidak mau kejadian tadi malam malah membuat mama dan papa nya kembali memarahi nya.
" Rein.." panggil Bagas saat melihat Reina duduk di ats tempat tidur nya sambil.
" Kakak" ucap Reina langsung beranjak dari kasur nya dan memeluk Bagas dengan erat.
" Kenapa hemmm?" tanya Bagas saat melihat Reina menangis.
" Aku sedih kakak akan pergi selama itu, aku takut akan terjadi seperti semalam, apa lagi tidak ada kakak di sini" ucap Reina yang masih memeluk Bagas.
" Dengar kakak, kamu tidak usah takut, ada mama dan papa yang menjaga mu di sini" ucap Bagas menguat kan Reina.
" Rein..selama kakak di Jerman, akan ada seseorang yang datang menjaga mu, dan dia juga akan melatih mu ilmu bela diri, agar kamu bisa melindungi diri mu dari para musuh nanti nya" ucap Bagas memberi tahu.
" Tapi ingat, dia juga pria tampan, kakak gak mau sampai kamu malah jatuh cinta pada nya" ucap Bagas yang malah mendapat cubitan dari Reina di perut Bagas.
" Awwwwwww" ucap Bags yang pura pura merasa kan sakit.
" Kakak tidak perlu takut, hati aku sudah di penuhi nama kakak, walau pun ada pria yang lebih tampan dan kaya dari kakak, aku akan tetap mencintai kakak sampai sisa umur ku habi" ucap Reina membuat Bags tersenyum mendengar nya, namun tiba tiba dia langsung meredup kan senyum nya saat mengingat kata kata Reina yang mengatakan bahawa ada lelaki yang lebih tampan dan kaya dari diri nya.
" Memang nya ada pria yang lebih tampan dan kaya dari kakak?" tanya Bagas dengan nada tidak terima.
" Ada dong? malah banyak" ucap Reina yang malah membuat Reina menjahili Bagas.
__ADS_1
" Kata kan siapa Pria itu?" ucap Bagas menatap wajah Reina dengan tajam.
Reina yang melihat tatapan mata Bagas langsung mendadak takut, Reina pun langsung memegang tangan Bagas dan memeluk Bagas agar Bagas tidak marah.
" Calon putra kita nanti Kak, Rein yakin dia nanti lebih tampan dari kakak" ucap Reina menjawab pertanyaan Bagas.
Bagas yang mendengar langsung tersenyum, " belum menikah saja kamu sudah memikir kan calon putra kita, aku jadi tidak sabar untuk menghalal kan mu" ucap Bagas langsung mencium kening Reina.
" Kakak stop, aku gak mau kalau kakak nanti di jewer lagi sama mama" ucap Reina agar Bagas tidak mencium nya di tempat lain.
" tenang saja, kakak akan menahan nya sampai kita sudah menikah nanti, sekarang antar kakak ke depan ya, dan ingat pesan kakak, kamu harus keluar bersama orang yang akan menjaga mu saat kakak berada di jerman, nanti sore dia datang, dan ingat berlatih yang baik, agar ilmu bela diri mu bisa sempurna" ucap Bagas memberi wedangan sebelum dia berangkat ke Jerman.
Reina yang mendegar nya hanya mengangguk kan kepala nya.
" Kakak hati hati di sana, dan jangan nakal selama tidak ada aku, dan jangan lupa memberi kan ku kabar kalau kakak ada waktu luang, dan yang terlebih jangan lupa makan, aku gak mau sampai kakak sakit nanti nya" ucap Reina memberi perintah.
" Siap calon istri ku" hormat Bagas yang mendapat kekehan dari Reina.
Reina, mama Ridha dan papa Andre pun mengantar Bagas dan Raka sampai di depan rumah, supir yang mengantar kan Bagas dan Raka sampai ke Bandara.
Reina tak kuasa menahan tangis nya, air mata nya mengalir begitu saja saat melihat kepergian Bagas, mama Ridha mengusap lembut bahu Reina agar Reina tidak menangis lagi.
Mobil yang di naiaki Bagas sudah keluar dari pekarangan rumah besar keluarga Kesuma, Bagas menarik nafas di dalam mobil saat sudah tidak melihat Reina lagi.
Begitu pun dengan Reina, Ia langsung memeluk mama Ridha karena Bagas pergi meninggal kan, Tanpa mereka sadari dari ujung jalan besar di simpang rumah besar keluarga Kesuma, sebuah mobil sedang berhenti dan mengetahui kepergian Bagas yang lumayan lama.
__ADS_1
Tbc.