La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#158


__ADS_3

" Aku gak bisa gini terus Ka, hati aku sakit, lebih baik aku pergi dari sini agar aku bisa move on" sahut Meta tanpa sadar.


" Apa move on?" tanya Raka dengan menatap Meta dengan tatapan tajam.


Meta langsung gelagakapan saat mulutnya tidak bisa di rem saat sedang emosi, " Meta jawab pertanyam ku? jangan-jangan kau selama ini menyimpan perasaan dengan tuan Rangga?" tanya Raka.


Deg


Seseorang langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan dari kamar Meta.


" Apa? Meta mempunyai perasaan dengan kak Rangga?" ucap Reina sambil menutup mulutnya tak percaya.


" Jadi ini yang mmebuat dia berbeda dari biasanya, ya ampun kenapa selama ini aku gak tahu" monolog Reina yang masih tetap berdiri di balik pintu untuk mendengarkan permbicaraan antara Raka dan Meta.


" jawab aku sekali lagi Ta? kau benar-benar jatuh cinta dengan Rangga?" tanya Raka dengan menatap Meta dengan tatapan mengintimidasi.


Meta masih belum mau membuka suaranya, namun dia langsung terduduk di sisi tempat tidurnya dengan menutup wajahnya dan tak lama suara isakan yang di dengar oleh Raka.

__ADS_1


Melihat gimana reaksi Meta, Raka langsung menhembuskan nafasnya dengan pelan, dia sudah tahu jawaban apa yang di alami Meta saat ini tanpa Meta menjawabnya.


" Jadi selama ini kau benar-benar ada hati dengan Rangga? aku kira kau hanya merasa kagum saja, tapi ternyata perasaan itu benar" ucap Raka dengan pelan.


" Aku udah berusaha untuk melupakan Rangga Ka, tapi aku gak bisa, hari-hari aku selalu beramanya, melihat ketegasan dia itu yang membuat hatiku semakin dalam padanya, dan saat aku melihat kalau Rangga seeprti punya perasaan dengan polisi wanita itu, hatiku sakit melihatnya Ka" ucap Meta ahkirnya mengeluarkan keluh kesahnya.


Lagi-lagi Raka hanya bisa menghela nafasnya karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatnya sekaligus rekan kerjanya saat ini.


" Aku tidak bisa membantumu Ta, masalahnya ini masalah hati, aku gak bisa memaksakan perasaan orang, apalagi itu Rangga"


" Aku tahu Ka, itu sebabnya aku ingin keluar dari pekerjaan ini, kalau aku tetap di sini yang aa akan membuat hatku semakin sakit" sahut Meta.


" Aku akan tetap menjadi asisten nona Reina, tapi aku gak tinggal di sini, aku akan kembali ke apertemen ku, dan saat nona Reina memerlukan ku, aku akan tetap sedia" jawabnya dengan mantap.


Reina yang masih berada di ujung pintu hanya bisa menghela nafasnya, karena apa yang di katakan oleh Raka benar adanya, hati tidak bisa di paksakan.


" Rein" panggil Rangga yang langsung membuat Reina terkejut.

__ADS_1


" Kakak" sahut Reina sambil memegang dadanya.


" Kakak mengagetkan aku saja" lanjut Reina.


" Kamu ngapai di kamar Meta malam-malam begini? ini kan sudah waktunya tidur" tanya Rangga sambil melihat ke arah kamar Meta yang sedikit terbuka.


" Ahh..emm tadi aku ada urusan dengan Meta sedikit, ini aku mau kembali ke kamar" jawab Reina yang langsung pergi meninggalkan Rangga begitu saja.


Rangga yang aneh melihat tingkah adiknya, kini di buat terkejut dengan keluarnya Raka dan Meta sambil membawa koper.


" Kalian" tanya Rangga yang membuat Raka dan Meta langsung terkejut dan saling pandang melihat Rangga berada di depan kamar Meta.


" Kalian sedang apa? dan ini? kenapa bawa-bawa koper segala?" tanya Rangga sambil menujuk koper yang ada dalam genggaman Meta.


" Saya mau kembali ke apertemen saya tuan, sudah lama tidak di tempati, dan besok pagi-pagi saya sudah datang kembali ke sini untuk nona Reina" jawab Meta tanpa menatap wajah Rangga sama sekali.


" Tidak boleh"

__ADS_1


Tbc.


KIra-kira siapa yang melarang Meta untuk pergi dari rumah besar Kesuma?


__ADS_2