
"Aku tahu apa yang kau rencana kan di balik sakit mu ini wanita iblis, jangan harap kau akan aku bawa keluar dari tempat ini, karena itu hanya mimpi untuk mu" ucap Rangga kemudian langsung duduk dikursi tempat ia dan Bagas biasa nya duduk.
Diana hanya bisa diam saja tanpa menjawab, sudah berbulan bulan dirinya di kurung di penjara bawah tanah dan hanya di beri makan satu kali dalam sehari dan satu gelas untuk minum dalam sehari.
Tapi entah kenapa dirinya masih saja dapat bertahan hidup, walau pun tubuhnya sedikit kurus dan lusuh.
" Lepas kan aku" ucap Diana dengan suara sedikit besar.
Dokter yang akan memeriksa Diana sudah sampai, dengan cepat anak buah Bagas langsung membukanya pintu agar dokter yang memeriksa Diana bisa masuk.
Rangga hanya memperhatikan dari jauh saja, setelah beberapa menit, Dokter yang memeriksa Diana sudah selesai dan langsung menemui Rangga untuk memberitahu hasil yang ia periksa.
" Katakan?" ucap Rangga dengan cepat.
" Wanita itu harus di rawat di rumah sakit, Dia akan mati secara perlahan kalau kalian tetap akan mengurungnya di sini" ucap Dana yang memang dokter keluarga Kesuma.
" Apa tidak ada cara lain, kau tahu sendiri bukan bagiaman liciknya wanita rubah itu, bisa bisa dia akan kabur dari rumah sakit, mengingat liciknya dia" tanya Rangga.
" Cuma ada satu" ucap Dana.
" Katakan" Rangga menatap wajah Dana dengan serius.
" Biar kan saja dia disini sampai au menjemputnya" ucap Dana mmeberitahu yang langsung di sambut senyuman oleh Rangga.
" Tidak semudah itu Dan, urusannya belum selesai" ucap Rangga sambil melihat ke arah Diana yang masih menahan sakit.
__ADS_1
" Apa lagi yang kalian harapkan dari wanita yang sudah tidak berdaya itu, dia bahkan sudah tidak bisa berjalan dengan baik,mana mungkin dia bisa membalas dendam pada Reina" sahut Dana.
" Itu bukan urusan mu, lebih baik kau urus saja pasien pasien mu di rumah sakit atau kau akan kehilangan pekerjaan mu" ucap Rangga yang langsung pergi meninggal kan dana yang diam mematung di tempat.
" Padahal aku memberitahu yang terbaik" ucap Dana yang langsung pergi meninggal kan penjara bawah tanah menyusul Rangga.
Rangga langsung masuk ke dalam kamarnya, sedangkan dana langsung kembali ke rumah sakit milik keluarga Kesuma, Sedang kan Meta sudah tertidur di depan kamar Reina karena belum berhasil membujuk nona bosnya untuk membukakan pintunya untuk Bagas.
Sedangkan Bagas sudah uring uringan gak jelas karena sampai saat ini Reina belum juga membuka pintunya, Raka hanya bisa menemani bosnya sambil berfikir apa lagi yang harus dia lakukan untuk membantu bosnya.
Reina sendiri begitu terkejut karena terbangun dari tidurnya, " Ya Allah aku ketiduran, malah laper banget lagi" ucap Reina sambil mengulung rambutnya dengan asal.
Mata Reina berkeliling mencari dimana suaminya, jam sudah menujukkan pukul 11 malam, " Mas Bagas kemana?" tanya Reina.
Reina berjalan ke arah ruang kerja Bagas, dia merasa aneh kenapa kuncinya malah terkuci, " kenapa pintunya di kunci sih, aneh" lagi lagi Reina lupa diri.
" Mas" panggil Reina dengan lembut dan membuat Bagas yang duduk di kursi kerjanya langsung terkejut dan membalikan badannya.
Raka juga begitu terkejut dengan suara lembut dari nona bosnya.
" Mas kenapa jam segini masih kerja, apa tidak bisa di lanjut besok lagi" ucap Reina yang berjalan ke arah Bagas.
Bagas langsung melirik Raka melihat perubahan Reina yang sudah tidak marah lagi, Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya saja karena dirinya juga tidak tahu sama sekali.
" Ehhhmm sayang ka" ucapan Bagas di potong Reina.
__ADS_1
" Mas Reina lapar" ucap Reina.
" Kamu mau makan apa sayang" tanya Bagas sambil merapikan rambut Reina di balik telinganya.
" Apa aja deh yang penting makan" jawab Reina yang langsung memeluk Bagas karena Reina merindukan aroma tubuh suaminya.
Bagas benar benar terkejut melihat perubahan istrinya, lagi lagi dia melirik Raka kemudian menarik nafas dengan lega.
Ahkirnya selesai juga drama marahnya, bisa tidur nyenyak juga ahkirnya aku mlam ini, batin Bagas.
Secepat itu nona Reina sadarnya, kenapa orang hamil mendadak jadil oon gini ya, kadang tiba tiba marah marah, dan sekarang normal kembali, tapi syukurlah, aku bisa istirahat dengan tenang malam ini, batin Raka.
" Ya sudah ayo kita makan sayang, mas gak mau calon bayi kita kelaparan" ajak Bagas yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Reina.
Namun saat baru berjalan beberapa langkah, Bagas langsung menarik ikatan rambut Reina yang memperlihatkan leher jenjang Reina.
" Sayang plisss, jangan pernah kucir rambut kamu kalau gak di hadapan mas, mas gak mau leher kamu di lihat sama pria lain" ucap Bagas.
" Iya mas" sahut Reina dengan tak begitu semangat karena sudah begitu erasa lapar.
" Raka suruh pelayan mengantar makanan ke kamarku, Reina sepertinya masih sedikit mengantuk, kami biar makan di kamar saja" perintah Bagas.
" Baik bos" jawab Raka yang langsung pergi meninggal kan Bagas dan Reina.
Tbc.
__ADS_1