La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#76


__ADS_3

Dengan susah payah Bagas membujuk Reina agar ikut dengannya, dan ahkirnya dengan kata kata Bagas, ahkirnya Reina mau tidak mau ikut dengan Bagas yang tidak tahu mau di bawa kemana.


Saat ini Reina, Bagas, Raka dan Rangga sudah berada di atas awan dengan menggunakan heli.


Reina hanya bisa duduk dengan diam karena tidak tau harus berbiacara apa, air matanya entah kenapa keluar saja karena meratapi nasibnya yang entah kapan bahagianya.


Padahal seharunya hari ini dirinya jalan jalan dengan tenang dengan suaminya, karena dirinya baru saja menikah, sama seperti pasangan lainnya, setelah menikah pasti selalu tersenyum, tapi tidak dengan reina, yang malah harus pergi ke suatu tempat yang dia pun tidak tahu akan di bawa kemana.


Bagas yang melihat Reina menangis dalam diam langsung memeluknya dari samping.


" Sayang, jangan sedih. Kakak pastikan setelah kita sampai nanti, kamu akan tersenyum dengan bahagia" ucap Bagas.


Bukannya malah diam, Reina malah semakin terisak di dalam pelukan Bagas.


" Harusnya kita saat ini sedang bulan madu seperti pasangan lainnya kak, bukan malah seperti ini, pergi untuk menghindari kejaran dari paman Muklis" ucap Reina.


"Kita pergi memang untuk bulan madu sayang, sekalian menghindari iblis-iblis itu" ucap Bagas yang membuat reina diam seketika.

__ADS_1


Reina mengangkat kepalanya menatap wajah tampan Bagas. Bagas yang di tatap hanya membalas dengan senyuman manis yang keluar dari bibirnya, yang membuat jantung Reina berdetak begitu cepat.


" Kakak akan membuat kamu selalu bahagia sayang, tolong jangan keluarkan air mata mu untuk yang tidak penting, kecuali air mata bahagia dan itu hanya untuk kakak" ucap Bagas menangkup wajah cantik Reina.


Reina hanya bisa menganggukkan kepalanya kemudian kembali memeluk tubuh kekar Bagas, dan hal itu dapat di lihat oleh raka dan Rangga.


Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat keromantisan bos dan nona bosnya, beda dengan Rangga yang merasa sesak seperti kekurangan oksigen.


*****


Di lain tempat Diana dan Muklis sedang adu mulut, karena masalah Siska.


" Itu salah dia sendiri, kenapa dia menjadi wanita bodoh" sahut Muklis enatap Diana dengan tajam.


" Terserah kamu mau bilang apa, aku mau kamu berusaha untuk menyelamat kan Siska, kasian dia di kurung oleh anak buah Ridha dan Andre" ucap Diana dengan tatapan memohon.


" Aku tidak bisa Diana, lagian putri mu berada ditempat yang aman, mereka tidak akan menyakiti putri mu, aku tahu bagaimana sifat mereka" ucap Muklis.

__ADS_1


" Putri kita, dia putri kita Muklis!" ucap Diana membenarkan ucapan Muklis.


"Terserah, aku harus pergi, aku harus melanjutkan rencanaku, sebelum semuanya terlambat" ucap Muklis yang langsung pergi meninggalkan Diana begitu saja.


Diana hanya bisa menjatuhkan tubuhnya di sofa karena di tinggal begitu saja, ia mengingat kiriman rekaman dari Ridha tentang anaknya yang menderita saat di sekap.


Mama Ridha sengaja melakukan itu agar Diana tidak berani berbuat macem macem pada menantunya, karena masih ada Siska di tangannya saat ini.


" Maafkan Ibu Siska, pasti disana kamu begitu menderita" ucap Diana yang kembali melihat rekaman Video yang di kirim Ridha.


****


Sementara Siska yang berada di rumah kecil di kampung yang begitu pelosok terus menagisi dirinya yang ingin segera kembali ke rumahnya.


" Ibu kenapa kau tidak pernah menacri ku, apa kau sudah tidak ingat lagi dengan ku" ucap Siska dengan derai air mata.


Sebenarnya Siska tidak lah di sekap seperti pada umumnya, dia si bebaskan di rumah kecil itu namun tetap di jaga ketat oleh anak buah Ridha dan Andre.

__ADS_1


Hanya saja dia tidak bisa keluar dari dalam rumah itu, dan lagi Siska tetap di beri makanan yang layak, tapi karena Siska sudah merasa hidup enak, sehingga Ia tidak betah tinggal di rumah kecil dan sumpek itu.


Tbc.


__ADS_2