
Papa Andre yang mendapat telpon dari bodyguard yang menjaga rumah nya kalau ada insedin penembakan langsung pulang seketika dan menyerah kan urusan musuh pada Bagas.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, papa Andre sudah sampai di rumah dan langsung di sambut mama Ridha.
" Gimana keadaan Reina Pa? kenapa papa tidak membawa Reina pulang saja, kenapa papa malah biarin Reina bersama Bagas terus" ucap mama Ridha menanyakan kabar Reina pada papa Andre.
" Ma tenang dulu, papa pulang karena mendengar kabar kalau mama di serang, mama tidak apa apa kan?" tanya papa Andre yang masih di landa khawatir setelah mendengar kabar tadi.
" Mama tidak apa apa pa, papa masih meragu kan kemampuan mama, lagian yang membuat rusuh tadi Muklis, dia datang ke sini mencari mama,bukan mencari Reina" ucap mama Ridha yang membuat rahang papa Andre mengeras.
Ternyata kecurigaan ku benar, kalau dalang dari semua ini pasti dia, dia sudah hadir di sini, aku gak bisa diam saja, aku harus beraksi agar dia tidak menyakiti keluarga ku, batin papa Andre.
Sementara di sebuah gudang, anak buah Bagas yang mengikuti Siska di rumah sakit tadi sudah melapor kan semua yang di lihat nya dan di rekam nya pada Bagas dan Raka.
Reina yang sudah mengantuk ahkir nya tidur di sofa yang ada di gudang itu, Boby sendiri masih fokus mencari tahu siapa yang sudah menelpon musuh yang berhasil di tangkap melalui ponsel yang sudah di ambil oleh Boby.
" Kira kira apa kau lihat video yang di tunjuk kan Siska pada dokter itu?" tanya Bagas yang di jawab langsung gelengan kepala oleh anak buah Bagas.
" Saya tidak lihat Bos, namun saya mendengar sedikit percakapan dari rekaman Video itu, mereka mengatakan kalau anak itu akan tetap menjadi anak Budi, dan akan menjadi pewaris keluarga Rindi nanti nya" ucap anak buah Bagas memberi tahu.
Bagas dan Raka langsung terkejut dan saling menatap kemudian menatap Reina yang sudah tertidur di sofa.
__ADS_1
" Syukur lah Reina tertidur Bos, jadi dia tidak mendengar percakapan kita" ucap Raka dan di angguki kepala oleh Bagas.
" Kalian seret dokter ini menghadap saya, dan pasti kan dia masih hidup saat berhadapan dengan ku, urusan wanita ular itu biar kan saja, asal dia tidak mendekati dan menyakiti Reina saja, itu sudah cukup untuk ku" ucap Bagas dengan tegas.
" Baik Bos" sahut semua anak buah Bagas.
" Oiaa satu lagi, segera tangkap Diana dan seret dia ke dalam gudang, aku sudah muak dengan ulah nya" ucap Bagas kembali memerintah yang di jawab anggukan kepala oleh semua anak buah nya.
Boby sendiri sudah angkat tangan karena semua data yang ada di ponsel musuh tidak terbaca.
" Tidak bisa terbaca sama sekali bos, musuh kita kali ini lebih cerdik, kita harus lebih berhati hati" ucap Boby yang langsung membuat Bagas memijit pelipis nya.
" Aku saran kan sebaik nya kita panggil Rangga saja ke sini bos, biar dia yang langsung handle ini, dan aku bisa memantau musuh saat ada serangan" ucap Boby.
Bagas langsung mengangguk kan kepala nya dan menatap Raka, Raka yang paham langsung mengeluar kan ponsel nya dan menghubungi Rangga yang berada di luar negri khusus melatih bodyguard yang akan di kirim ke kota dimana Bagas tinggal.
Bagas langsung menatap Reina yang masih tertidur sambil menyandar di sandaran sofa, lalu tatapan Bagas kembali beralih pada musuh yang sudah terkpar namun masih bernapas, walau pun kondisi tubuh nya sudah 75% tidak berkulit dan di balur darah segar.
" Awasi dia, jangan sampai kita kehilangan nyawa nya sebelum kita mendapat kan kabar dari dia, hanya dia orang satu satu nya yang bisa kita andal kan saat ini, dan cari tahu keluarga nya secepat nya, aku mau malam ini harus sudah ada kabar, agar dia mau membuka mulut nya untuk memberi tahu siapa yang telah menyuruh nya" ucap Bagas dan langsung mengangkat tubuh Reina untuk di bawa pulang.
Raka dengan sigap langsung membuka pintu mobil agar bos dan nona nya bisa cepat masuk, Boby hanya memandang kepergian Bos nya sambil mendesah.
" Bakalan lembur sampai pagi ini, Rangga cepat lah kau sampai, jujur aku tak sanggup mengerjakan ini sendirian" ucap Boby.
__ADS_1
*****
Di dalam mobil, Bagas melihat wajah Reina yang mulus dan cantik seperti bayi yang sedang tidur.
" Ka bagaimana kalau info yang di dapat anak buah kita dari rumah sakit tadi benar? apa mama dan papa akan terima semua ini?" tanya Bagas yang masih menatap wajah Reina.
" Saya rasa tidak ada masalah bos, karena sedari kecil nona juga sudah di urus tuan Budi dan nyonya Rindi, lagian itu masih kabar burung yang belum jelas kebenaran nya" ucap Raka.
Bagas tidak menjawab, dia masih menatap wajah Reina sambil sesekali mengelus pipi mulus Reina dengan ibu jari nya.
Sekitar 30 menit, mobil yang di kenderai Raka sudah sampai di kediaman Kesuma, mama Ridha yang mendengar suara mobil masuk langsung berlari ke depan di susul oleh papa Andre.
" Sayang bagaimana keadaan Reina? apa dia baik baik saja?" tanya mama Ridha langsung memberondong pertanyaan pada Bagas.
" Reina tidak apa apa Ma, dia hanya kelelahan akibat lari lari tadi menghindari musuh, Bagas mau antar Reina ke kamar dulu ya Pa, Ma, nanti setelah itu kita kumpul di ruang keluarga, ada yang mau Bagas cerita kan" ucap Bagas langsung meninggal kan mama dan papa nya.
Mama Ridha langsung menatap Raka yang berdiri di ujung pintu, " Kira kira apa yang mau di cerita kan sama Bagas Ka?" tanya mama Ridha yang sudah penasaran.
" Nanti si bos saja yang cerita kan Nyonya, saya tidak ada wewenang untuk mencerita kan nya pada tuan dan nyonya" ucap Raka yang langsung medapat pelototan mata dari mama Ridha.
Bagas yang sudah meletak kan Reina di atas tempat tidur nya kembali menatap Reina dan mengelus kening Reina dengan lembut.
__ADS_1
" Entah kenapa saat ini aku takut kehilangan kamu Rein, dan sebenar nya aku tidak mau mengatakan ini semua pada mama dan papa, tapi aku takut mama dan papa tau kabar ini dari orang lain, dan membuat mama dan papa malah menjauhi mu nanti nya" ucap Bagas dengan nafas yang sedikit sesak.
Tbc.