La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#81


__ADS_3

Hari ini kepulangan Bagas dan Reina kembali ke tanah kelahiran mereka, Rangga yang setia menemani pasangan pengantin Baru ini hanya bisa duduk diam di atas pesawat dengan sesekali melihat Bagas dan Reina yang sedang bercanda.


Sebenarnya sedari tadi Reina merasakan perasaan yang tidak enak menyelimuti dirinya, namun Ia hilangkan fikiran buruk tersebut dan berusaha tersenyum dan bercanda bersama Bagas.


Sementara di sebuah perkampungan yang tidak begitu banyak penghuninya, Diana sudah sampai dengan beberapa anak buahnya untuk berusaha menyelamatkan Siska.


Dengan petunjuk yang di beri tahukan anak buahnya, ahkirnya Diana menemukan dimana keberadaan Siska putrinya.


Di tatapnya rumah petak kecil ukuran 6x6 meter itu dari kejauhan, ada rasa sakit menyelimuti dirinya saat melihat putrinya tinggal di tempat yang sunmpek, bahkan ukuran kamarnya saja bahkan lebih besar dari rumah yang di tempati oleh Siska saat ini.


" Berani sekali kau menempatkan putriku di tempat seperti ini Ridha, aku akan balas semua ini, kau lihat saja apa yang aku lakukan padamu, kau akan nangis darah dan memohon ampun padaku setelah apa yang kau lakukan putriku saat ini" ucap Diana dengan mata yang sudah hampir keluar dari tempatnya.


Anak buah Diana hanya diam menunggu intruksi dari bosnya apakah sudah bisa beraksi apa belum.


" Cepat kalian keluarkan putriku dari tempat kumuh itu, dan ingat jangan sampai lecet sedekitpun" perintah Diana yang langsung di jawab anggukan oleh anak buahnya.


Diana memantau dari jauh, anak buah keluarga Kesuma saat ini sedang duduk santai di bawah mangga yang ada du depan rumah kecil tersebut, mereka tidak menyadari adanya penyusup masuk untuk membebas kan Siska.


Dengan tampilan yang di ubah layaknya seorang petani, mirip warga kampung yang ada di sana, anak buah keluarga Kesuma tidak menyadari kalau mereka adalah musuh.


Salah satu anak buah Diana berhasil masuk melalui pintu belakang dan menmukan Siska yang sedang duduk termenung menyandar di dipan tempat tidurnya.


Siska ingin berteriak saat melihat ada yang masuk ke dalam kamarnya, namun anak buah Diana langsung membekap mulut Siska agar tidak ketahuan oleh anak buah keluarga Kesuma.


" Tenanglah Nona, aku suruhan Bos Diana, dan saat ini Bos Diana sedang menunggu kita di ujung jalan" ucap anak buah Diana yang membuat Siska terkejut.


"Ehhmmm...ehhmm" Siska berusaha melepaskan dekapan tangan yang ada di mulutnya.


" Ibu ada di sini, Ibu mau menyelamatkan aku" tanya Siska tak percaya.


Anak buah Diana hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, setelah itu ia langsung mengajak Siska keluar dari pintu belakang.


Dengan cepat ia mengajak Siska berlari, namun langkahnya di ketahui oleh anak buah yang berjaga Siska.


" Hei kau mau lari kemana" teriak anak buah Ridha dan langsung mengejutkan teman temannya dan bergegas langsung mengejar Siska yang sudah hampir sampai di mobil dimana Diana sudah menunggunya.


Dengan cepat Diana menarik tangan putrinya untuk masuk ke dalam mobil dan langsung menutup pintunya dengan kencang.

__ADS_1


" Cepat jalan" ucap Diana.


Anak buah Diana langsung melajukan mobilnya begitu kencang, Diana langsung mengambil ponselnya dan menelpon anak buahnya lain.


" Kalian bawa mobil saya pulang dan kecohkan mereka agar tidak mengejar saya dan putri saya" ucap Diana kemudian langsung mematikan sambungan telponnya.


Diana langsung menatap Siska yang melihat kebelakang apakah anak buah Ridha masih mereka atau tidak.


" Kau tidak apa apa?" tanya Diana yang langsung mmebuat Siska mengalihkan pandangannya ke arah sang Ibu.


" Seperti yang ibu lihat" ucap Siska yang langsung menatap ke luar jendela.


"Syukur lah kalau begitu, dan bagaimana kandunganmu?" tanya Diana kembali.


" Aku tidak tahu, aku saja tidak pernah memeriksa nya dan tidak berharap dia lahir kedunia ini" ucap Siska dengan nada acuh.


Diana hanya bisa menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Ia pun hanya bisa diam dan tberniat untuk tidak mengajak Siska berbicara dulu, mungkin Siska begitu marah padanya karena kenapa baru sekarang ibunya membebaskannya dari tempat yang sumpek itu.


Di kediaman Kesuma, Ridha yang sudah mendapat kabar kalau Siska berhasil di bawa pergi oleh anak buah Diana langsung diam memikirkan apa yang harus ia lakukan agar mereka tidak menganggu hubungan Bagas dan reina nnatinya.


Papa Andri yang melihat istrinya seperti sedang melamun langsung memeluk mama Ridha dari belakang.


" Mereka sudah berhasil membawa anaknya Diana, dan mama berfikir mereka pasti sudah merencanakan sesuatu" ucap mama Ridha yang langsung membuat papa Andre melepaskan pelukanya.


" Tidak perlu ada yang di takutkan sayang, Bagas putra kita pasti bisa mengatasinya" ucap  papa Andre.


" Tapi Reina?" tanya mama Ridha dengan wajah cemasnya.


" Ada putramu yang akan menjaganya" sahut papa Andre.


Di bandara pesawat yang di naiki Bagas dan Reina sudah mendarat dengan sempurna, saat Bagas dan Reina akan turun, Rangga dengan cepat langsung menyuruh Bagas dan Reina untuk memakasi jaket anti peluru.


" Bagas, Reina sebelum kalian turun, sebaiknya kalian memakai ini terlebih dahulu" ucap Rangga dan berhasil membuat Bagas menatap Rangga dengan tanda tanya.


Rangga yang di tatap seperti itu oleh Bagas langsung mengerti, " Hanya untuk antisipasi saja, kau tahu bukan musuh kita ada diman mana" ucap Rangga yang langsung membuat Bagas paham dan mengambil jaket yang ada di tangan Rangga.


" Sayang kamu pakai ini dulu yam setelah itu kita turun" ucap Bagas yang membantu Reina memakai jaket anti peluru yang sudah di siapkan Rangga.

__ADS_1


Setelah selesai mereka pun langsung turun dari pesawat dan berjalan untuk keluar dari bandara.


Namun saat ingin keluar pintu, dari kejauhan anak buah Muklis dengan cepat langsung mengarahkan pistol ke arah Reina dan Bagas.


Rangga yang menatap sekeliling Bandara langsung terkejut dan berlari ke arah Bagas dan Reina yang berjarak beberapa meter di depannya.


" Bagas awas" teriak Rangga dengan kuat.


Dor


Dor


Semua orang yang ada dibandara begitu terkejut dan berteriak  ketakutan saat mendengar suara tembakan.


Sementara Reina yang berdiri tepat di samping Bagas langsung terdiam mematung, pegangan tanganya terlepas begitu saja dari tangan Bagas.


Reina Terdiam dengan air mata melihat darah yang sudah terciprat ke baju dan tanganya....


 


Tbc.


Wayoo siapa yang terkena tembakannya?


Bagas kah?


Atau Rangga?


Atau malah Reina?


Ikuti terus ceritanya dan jangan lupa kasih dukungan dengan Like, Komen yang positif yaa, dan vote.


kasih hadiah yang banyak juga yaa readers yang baik hati.


Dukungan kalian lah yang membuat Author semangat buat nulisnya.


Terimakasih banyak readers semua.

__ADS_1


Love you More.


__ADS_2