La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#111


__ADS_3

" Sayang heii mau kemana?" teriak Bagas mengejar Reina.


Saat sudah dekat Bagas langsung menarik tangan Reina sehingga Reina langsung jatuh kepelukan Bagas, dengan cepat Reina langsung mendorong tubuh Bagas agar menjauh darinya.


" Mas bisa di bilangin gak sih? kan uda Rein bilang gak mau dekat-dekat dengan mas Bagas, kenapa ngeyel banget sih" marah Reina yang langsung berbalik pergi meninggal kan Bagas yang schok.


" Ada apa dengan istriku?" tanya Bagas merasa heran.


Reina masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu, rasa kesal di dirinya masih belum hilang saat ia melihat Rangga di kantor Ayah nya, kini dia kembali kesal dengan bau tubuh suaminya.


" Uda tahu bau banget, masih saja dekat-dekat, heran" ucap Reina yang langsung merebahkan dirinya di atas kasur.


Bagas yang sudah menyusul Reina langsung masuk ke kamar dan melihat istrinya sudah rebahan di tempat tidur, karena tidak mau menganggu istrinya, Bagas langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kata Reina bau.


Sekitar 15 menit Bagas sudah keluar dari kamar mandi yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Reina yang melihat itu langsung memaalingkan wajahnya karena terpesona dengan bentuk tubuh suaminya yang gagah.


Bagas langsung tersenyum saat melihat wajah Reina yang malu-malu, dengan cepat Bagas langsung menuju ke ruang pakaian dan memakai pakaian rumahannya, setelah itu Bagas langsung mendekati Reina yang sedang memegang ponselnya.


" Sayang" panggil Bagas.


" Heemm" sahut Reina hanya dengan deheman.


" Gitu banget jawabnya, Mas di sini loh sayang, bukan di layar ponsel kamu, lagi lihat apa sih?" tanya Bagas merasa penasaran.


" Lagi lihat rekaman cctv kantor mas" sahut Reina memberitahu.


Bagas langsung menyatukan alisnya karena bingung, " Kantor siapa sayang?"" tanya Bagas yang masih belum begitu paham.


" Kantor Ayah lah, jadi kantor siapa lagi" ucap Reina dengan cepat.


" Buat apa sayang, apa ada yang kamu curagai di sana?" tanya Bagas.

__ADS_1


" Reina mau lihat kelakuan kak Rangga selama berada di kantor Mas, karena tadi saat Reina kesana, kak Rangga membawa seorang " tiba-tiba ucapan Reina terpotong dan langsung menatap wajah suaminya dengan intens.


Bagas yang dilihat istrinya begitu heran, " Ada sayang? kenapa menatap mas seperti itu?" tanya Bagas.


"Jangan bilang mas sama kak Rangga pernah melakukan hal sama dengan yang Reina lihat di kantor tadi?" tanya Reina penuh dengan curiga.


" melakukan apa sayang, Mas gak ngerti?" tanya Bagas yang pusing lama-lama dengan sikap Reina hari ini.


" Mana rekaman cctv kantor Mas, terutama ruangan kerja mas dan kamar pribadi mas" minta Reina dengan mata yang sudah melotot.


" Buat apa sayang, gak biasanya kamu seperti ini, kamu ini kenapa sih, hari ini aneh banget" ucap Bagas tidak mengubris permintaan istrinya.


"Bener kan, mas gak mau melihatkan rekaman cctv ruangan mas, itu berarti mas sama kak Rangga sama aja tau gak, mas jahat, mas gak setia sama Reina, Reina gak mau melihat wajah mas lagi" ucap Reina yang sudah menagis histeris.


Saat Bagas mau membujuk Reina, pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Tok


Tok


Tok


Reina yang melihat Bags pergi begitu saja tanpa membujuk nya semakin histeris, sementara di depan pintu Meta dan Raka saling pandang saat melihat suara nona bosnya menangis.


" Nona Reina kenapa bos?" tanya Meta penasaran.


" Aku juga tidak tahu, dari tadi dia selalu menyalahkan ku, dan mengatakan aku sama saja dengan Rangga, emang ada apa dengan Rangga sih" ucap Bagas dengan kesal.


Ini pasti gara-gara kejadian di kantor tadi, tapi kenapa bos Bagas yang di salahkan ya, batin Meta.


" Meta kamu dengar saya tidak?" tanya Bagas.

__ADS_1


" Ahhk iyaa dengar bos, Ehhmm ini pesanan nona Reina Bos, coba saja kasih ini dulu, mana tau nanti nona Reina bisa kembali ceria" ucap Meta menyerahkan lontong sayur yang sudah susah payah di carinya.


Bagas langsung mengambil lontong sayur yang sudah di siap kan di piring lengkap dengan minumannya, Bagas langsung masuk ke dalam kamarnya, tapi sebelum menutup pintu Bagas berbalik menatap Raka dan Meta secara bergantian.


" Kalian tunggu di sana, kalau ada apa-apa aku akan panggil kalian" perintah Bagas yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Raka dan Meta.


 Bagas masih melihat istrunya menangis, Bagas menarik nafas dengan kasar kemudian mengeluarnya dengan perlahan, dengan mengucap bismillah Bagas kembali mendekati istrinya.


" Sayang ini pesanan kamu yang kamu minta sama Meta tadi" ucap Bagas menujukkan lontong sayur pesanan istrinya tadi.


Dengan cepat Reina melihat isi piring yang ada di tangan suaminya, air liurnya langsung menetes begitus aja begitu melihat lontong yang sudah bercampur dengan kuah dan sayur, di tambah ada potongan denden dan telur bulat yang sudah di sambal.


Dengan cepat Reina mengambil piring yang ada di tangan suaminya, tangisnya berhenti seketika dan Reina memakan lontong sayur itu dengan begitu lahap.


Bagas yang melihat istrinya makan seperti orang kesetanan hanya bisa bengong, dan dalam sekejap Reina sudah menghabiskan satu porsi lontong sayur tanpa sisa.


" Ini minumnya sayang" ucap Bagas menyerahkan satu gelas air putih pada istrinya dan mengambil alih piring yang sudah kosong dari tangan istrinya.


Setelah selesai makan dan minum, Bagas meletakkan piring dan gelas tersebut di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.


" Enak banget ya lontongnya?" tanya Bagas dengan pelan.


" Eheemm" sahut Reina dengan senyuman manisnya.


" Uda kenyang kan?" tanya Bagas lagi.


" Belum, masih lapar Reina Mas" sahut Reina dengan wajah imutnya.


" Apaaa" ucap Bagas terkejut.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2