La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#90


__ADS_3

Masih di ruang bawah tanah, Raka sudah menyelesaikan tugasnya.


" Beres bos" lapor Bagas yang langsung membuat Bagas tersenyum menyerengai dengan wajah tetap kejam.


" Selamat tidur di jalanan kawan, bahkan semua aset mu sudah beralih atas nama ku" ucap Bagas tersenyum senang.


Raka hanya bisa diam menatap wajah bos nya yang saat ini sudah berhasil mengalahkan musuhnya yang sudah berusaha menganggu ketenangan dirinya.


Saat ini Hendrik langsung menuju apertemen Diana dan juga Miranda memberitahu kan kalau saat ini aset nya sudah tidak ada lagi, semua perusahaan yang di bangun nya sudah hancur dan beralih ada Bagas.


Gubraaak


Hendrik membuka pintu aprertemen Diana begitu kencang, Diana dan Miranda yang saat ini sedang bersantai langsung terkejut dan menatap Hendrik dengan tatapan tanda tanya.


Napas Hendrik masih sedikt ngos-ngosan karna berjalan dengan begitu capat saat menuju ke apertemen Diana.


" Ada apa dengan mu?"tanya Diana menatap rekan kerjanya untuk menghancur kan keluarga Kesuma dan Reina.


" Habis semua, aku sudah tidak punya apa apa" ucap Hendrik yang semakin membuat Diana dan Miranda semakin tidak mengerti.


" Apa maksud mu?" tanya Miranda penasaran.


" Bagas sudah mengetahui rencana kita, dan dia mengakusisi peusahaan ku dan semua aset ku sudah berganti menjadi atas namanya, aku sekarang sudah tidak punya apa apa lagi, dan kalian berdua harus bertanggung jawab atas diriku" ucap Hendrik memberi tahu.


Deg


Miranda langsung terdiam dan sedikit gemetar, ia langsung menatap ibunya yang masih terdiam setelah mendengar apa yang di kata kan Hendrik barusan.


" Bu" ucap Miranda dengan suara bergetar.

__ADS_1


" Permainan dimuali" ucap Diana dengan wajah iblisnya.


" Apa maksud mu?" tanya Hendrik karena melihat wajah Diana yang begitu menyeramkan.


" Karena mereka sudah mengetahuinya, maka permainan akan segera di mulai, nyawa di bayar dengan nyawa dan harta yang di rampas akan kembali ke tangan kita" ucap Diana menatap Hendrik dengan tatapan iblisnya yang membuat Hendrik merinding seketika.


Diana memanggil Hendrik untuk mendekat ke arahnya untuk membisikkan rencana yang akan di kerjakan Hendrik, Hendrik pun mendengar nya dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" bawa pasukan untuk menemani mu bermain main dengan mereka" ucap Diana sebelum Hendrik pergi meninggalkan apertemennya.


Setelah Hendrik pergi, Miranda langsung mendekati ibunya yang masih terdiam dengan tatapan yang begitu penh dengan dendam.


" Apa yang sedang ibu rencanakan?" tanya Miranda.


" Nanti kau akan tau sendiri" jawab Diana yang langsung pergi masuk ke dalam kamar nya dan meninggalkan Miranda yang masih penasaran.


Di Kediaman Kesuma, entah kenapa Reina merasakan firasat yang tidak enak, jantung nya medadak beretak begitu kencang.


Dengan cepat Reina mengambil ponselnya dan langsung menghubungi suaminya, namun sudah berkali kali Reina menghubungi tapi tidak di angkat juga oleh Bagas.


Sementara di Kesuma Group, Bagas sedang mengadakan meeting penting dengan dewan direksi, dan karena terburu buru ponselnya tertinggal di ruangan kerja nya, itu lah kenapa Bagas tidak mengangkat telpon dari Reina.


Rasa khawatir terus menderap di pikiran Reina, ia memutus kan untuk menemui suaminya ke kantor, di lihat nya masih pukul 03.00 sore.


" Mas Bagas pasti masih sibuk, lebih baik aku minta antar Rangga ke sana" ucap Reina dan langsung mengambil tas nya.


namun baru saja Reina sampai di lantai bawah, ponselnya langsung berbunyi dan suaminya lah yang menghubunginya.


" Halo Mas" ucap Reina yang langsung mengankat telpon dari suaminya.

__ADS_1


" Halo sayang, maaf mas tadi sedang meeting sayang, ponsel mas ketinggalan di ruangan, Ada apa sayang?" tanya Bagas dengan lembut sambil berjalan ke arah mobilnya yang di supirin Raka.


" Syukur lah mas tidak apa apa, Reina begitu khawatir mas, gak tau kenapa perasaan Reina tidak enak" ucap reina memberi tahu.


"Tidak terjadi apa apa sayang, ini mas sudah dinjalan mau pulang, kamu ada yang mau di beli sayang, biar sekalian mas beli, mumpung lagi di jalan ini" tanya Bagas.


" Tidak mas, mas langsung pulang saja" sahut Reina.


Mobil yang Raka supirin sudah memasuki jalanan yang cukup terjal dan sedikit sepi, Bagas masih setia bertelponan dengan Reina sambil melihat jalanan kota.


Namun dari arah berlawanan mendadak mobil pikc up menurun kan drum drum yang berisikan bensinke arah mobil yang di naiaki Bagas dan Raka.


Bagas terkejut dan langsung berteriak memberi tahu Raka yang sudah berusaha menghindari drum drum yang hampir mereka tabrak, namun dari arah persimpangan truk molen tiba tiba saja muncul.


" Raka Awaaaaaaaas" teriak Bagas yang masih terdengar Reina.


Bruuuuuuuuuk


Suara hantaman yang begitu besar terdengar di telinga Reina.


Deg.


 


Tbc.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2