La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#159


__ADS_3

" Tidak boleh" ucap Bagas yang sudah berdiri di ujung tangga bersama dengan Reina.


Reina langsung menceritakan masalah Meta dengan Bagas agar Reina tidak keluar dari rumah besar, maka dari itu Bagas langsung turun ke bawah dan sudah melihat Meta keluar dengan membawa kopernya.


"Kau tidak boleh pergi dari rumah ini, bukankah kau tau kalau saat ini istriku sedang mengandung, dan kau harus 24 jam berada di dekat istriku, lagian kita sudah mempunyai kontrak kerja sama bukan, kalau kau melanggarnya maka kau akan di kenakan denda 10 kali lipat dari gaji setiap bulan yang kau terima" lanut Bagas menatap Meta dengan tatapan tajam.


Meta tidak bisa berkata apa-apa, Raka yang melihat Meta hanya bisa menatapnya dengan tatapan Iba, sebagai sahabat dia tidak bisa membantu Meta apa-apa.


" Sebaiknya kau masuk ke dalam dan istrirahatlah" ucap raka dengan pelan.


Tanpa menjawab Meta langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu. Rangga yang melihat dan mendengar kejadian yang ada hadapannya hanya bisa diam karena dia todak mengerti sama sekali aa apa dengan asisten adiknya itu. Dasar Rangganya aja yang gak peka ya.


"Dan kau kakak ipar" ucap Bagas menatap Rangga dengan tajam.


" Tidak usah tebar pesona kalau kau hanya bisa mematahkan hati wanita saja" lanjutnya yang langsung membuat Rangga menyatukan alisnya karena tidak mengerti apa maksud yang di katakan adik iparnya.

__ADS_1


" Apa maksudmu?" tanya Rangga.


" Fikir aja sendiri" jawab Bagas kemudian langsung pergi meninggalkan Raka dan Rangga dengan menarik mesra pinggang Reina menuju kamar mereka.


" Aku rasa hari ini semua orang jadi aneh" ucap Rangga kemudian langsung pergi menuju kamarnya dimana. Begitu pun dengan Raka yang sebelumnya menarik nafas dalam-dalam kemudian langsung mengeluarkannya dengan perlahan.


******


Mobil yang di kendarai oleh Rangga kini berjalan dimana Halikopter milik keluarga Atmaja terparkir sudah sampai. Rangga langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju diaman Helikopter tersebut sudah berbunyi hanya tingga berangkat saja.


" Sudah siap semuanya?" tanya Rangga pada ketua kapolda yang sudah berada di sana bersama dengan Ivo dan beberapa polisi lainnya yang akan mendampingi kepergian Rangga untuk mengantar Diana ke tempat seharusnya dia berada.


" Sudah tuan. Ibu Diana juga sudah berada di dalam di jaga beberapa anggota kita" jawab pak kapolda.


" Dan semua data-data serta bukti ibu Diana sudah berada di tangan Ivo, tuan bisa meminta padanya untuk membaca dengan jelas" lanjut pak kapolda.

__ADS_1


Rangga langsung menatap Ivo yang berdiri tidak jauh dari pak Kapolda, merasa di tatap, Meta langsung mengangkat kepalanya, dan tanpa sengaja mata keduanya bertemu. jantung keduanya langsung mendadak berdetak lebih cepat. Ivo langsung mengalihkan tatapannya karena Ivo merasa tidak baik untuk kesehatan jantungnya kalau terus menatap Rangga.


"Baiklah kalau begitu kami akan berangkat sekarang" ucap Rangga.


" Baik Tuan, dan hati-hati" sahut pak kapolda.


Melihat Ivo yang masih tidak bergerak sama sekali, Rangga langsung membuka kaca matanya dan menatap Ivo dengan tatapan tajam.


" Apa kau ingin tetap berdiri di situ?" tanya Rangga.


" Ehh..tidak tuan, saya menunggu Tuan untuk naik terlebih dahulu" jawab Ivo dengan kesal.


"Wanita itu biasanya harus di diluankan, jadi aku mau kau yang naik diluan" ucap Bagas yang langsung membuat Ivo langsung menaikkan kakinya untuk naik ke helikopter yang siap untuk terbang.


Begitu melihat Ivo sudah naik, Rangga langsung naik menyusul Ivo. begitu semua sudah naik, pintu pun langsung di tutup dan perlahan helikopeter sudah terbaang untuk mengantarkan Diana ke tempat semesetinya berada.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2