La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#102


__ADS_3

" Apa pun itu, intinya kau sekarang wanita kere Diana, apa yang mau kau bangga kan? bahkan sebentar lagi wajah mu itu akan seperti nenek nenek tua karena kau tidak akan mampu membeli skincare mahal mu" lagi-lagi mama Ridha mengejek Diana.


" Jauh sekali beli skincare Ma, bahkan untuk mengisi perut sejangkalnya pun dia tidak akan sanggup" ucap papa Andre menimpali.


" Kau mau pergi kemana pun tidak ada yang mau menampung mu Diana, termasuk pacar gelap mu yang hobi merakit bom untuk mu itu" sambung mama Ridha kembali.


Diana hanya diam saja, namun tak lama dia langsung mengeluarkan pistol dari dalam tasnya, dengan begitu cepat Diana menembakkan pistol tersebut ke arah mama Ridha.


Dor


Dor


Dor


" Aaahhhkkk"


Diana berteriak karena tangannya yang sebelah kanan tertembak dan pistol yang di pegangnya langsung terjatuh kebawah.


Mama Ridha tersenyum dan mendekati Diana yang saat ini sedang mengerang kesakitan di tangannya.


" Sakit kah?" tanya mama Ridha tepat di hadapan Diana saat ini.


Diana tidak menjawab, ia hanya memejamkan matanya karena menahan sakit yang di rasa di tangannya.


" Ilmu mu belum seberapa kalau untuk urusan tembak menembak Diana" sambung mama Ridha lagi dan langsung menendang pistol Diana ke arah anak buahnya.


" Jangan pernah kotori rumah ku dengan kuman seperti mu, mulai detik ini juga, kau di larang keras mendekati rumah ku" ucap mama Ridha lagi kemudian langsung berbalik untuk masuk ke dalam rumah.


Papa Andre tersenyum menatap kemantapan istrinya soal istrinya kalau soal tembak menembak, dengan cepat dia melirik ke anak buahnya untuk menyeret Diana agar keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Dengan paksa Diana langsung di seret layaknya binatang oleh mantan anak buahnya sendiri.


Dari balik jendela, Raka tersenyum melihat Diana yang lagi kesakitan, saat ini dia belum berhak muncul karena dia akan muncul bersama bosnya, siapa lagi kalau bukan Bagas yang saat ini sedang berkeliling dunia.


******


Di belahan dunia, Bagas dan Reina begitu menikmati bulan madu yang sudah terlambat dengan senyum ceria.


Saat ini Bagas dan Reina sedang berada di kamar hotel mereka, dengan wajah cemberut Reina duduk membelakangi Bagas yang malah tersenyum lucu karena tingkah istrinya.


" Sudah dong sayang, jangan cemberut gitu, nanti kita akan ke sini lagi, atau kemana pun kamu  mau, sekarang waktunya kita kembali ke Jakarta, karna masih ada pekerjaan yang harus Mas dan kamu selesaikan sayang" ucap Bagas dengan lembut.


" Ck, Mas, Rein gak mau saat balik ke sana akan ada air mata lagi, Mas tau kan kalau di sana bagaikan neraka yang tiba tiba menyemburkan apinya ke keluarga kecil kita" sahut Reina dengan wajah yang sudah begitu sedih.


Bagas tersenyum kecil mendengar ucapan istrinya, " Tidak akan ada neraka atau pun nenek sihir lagi sayang, percaya lah sama Mas" ucap Bagas yang langsung membuat Reina langsung menatap Bagas tak percaya.


" Bohong" sahut Reina.


" kalau bohong apa hukumannya?" tanya Reina.


Bagas sedikit berfikir sambil memegang dagunya, namun langsung di jawab Reina terlebih dahulu yang berhasil mengangget kan Bagas.


" Tidak ada jatah sampai satu bulan" sambung Reina.


" Whaaaat" teriak Bagas yang melah membuat Reina terkekeh.


Bagas yang merasa di kerjai istrinya pun langsung menggelitiki Reina, Reina merasa geli hanya bisa memohon ampun karena tidak tahan.


*****

__ADS_1


Pesawat yang di tumpangi Bagas dan Reina sudah mendarat tepat di bandara Soeta, Dengan kaca mata hitam yang bertengker di kedua hidung Bagas dan Reina, yang malah membuat Bagas dan Reina begitu memukau saat keluar dari Bandara, semua mata langsung tertuju pada keduanya.


Rangga yang sudah menunggu mereka langsung tersenyum saat melihat sepasang suami istri sedang berjalan sambil berpegangan tangan.


Begitu sudah dekat, Rangga langsung menanyakan oleh-oleh pada keduanya.


" Apa ada oleh-oleh untuk ku" tanya Rangga yang membuat Reina tersenyum, tapi tidak dengan Bagas yang malah malas mendengarnya.


" Kau bukannya menanyakan kabar kami terlebih dahulu, tapi kau malah menanyakan oleh-oleh terlebih dahulu, dasar" umpat Bagas yang malah membuat Bagas tersenyum dan Reina menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya.


" Mas sudah dong, kapan sih kalian akur sebentar saja" ucap Reina sambil mengelus bahu Bagas.


Lagi-lagi Rangga tersenyum mendengar suara lembur Reina, " Ayo, mama sama papa sudah kangen banget sama kalian berdua" ajak Rangga langsung berbalik menuju mobil.


Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar Bagas bersuara.


" Apa kau lupa membawa sesuatu tuan Rangga" ucap Bagas.


Rangga berbalik dan melihat Bagas dengan tanda tanya, " Apa?" tanya Rangga.


" Bawa koper-koper ku dan Reina" perintah Bagas.


Namun Rangga hanya melihat 4 koper yang yang berada tepat di stroler barang.


" Maaf itu bukan tugas ku" tolak Rangga dan langsung berbalik dan menuju mobilnya.


Sedang kan Bagas langsung membulatkan matanya mendengar penolakan Rangga, lain halnya dengan Reina yang malah terkekeh mendengar ucapan Rangga.


" Sudah mas, ayo buruan sorong strler nya, Reina uda pengen cepat-cepat sampai rumah, gerah banget ini Mas" ucap Reina yang langsung meninggal kan Bagas begitu saja menyusul Rangga.

__ADS_1


" Kok malah di tinggal sih, sebenarnya siapa sih bos nya, kenapa jadi aku yang repot" ucap Bagas dengan kesal.


Tbc.


__ADS_2