La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#30


__ADS_3

" Apa aku tidak boleh merasa kan jatuh cinta Raka" tanya Bagas aat tahu kalau raka masuk ke dalam kamar nya.


Raka yang terkejut pun hanya bisa diam saja.


" Ehkk..." ucap Raka terkejut mendengar pertanyaan sang bos.


" Sekarang dia sudah pergi Ka, aku gak bisa menahan langkah kaki nya ,aku gak bisa menahan kepergian nya tadi, bahkan saat dia hampir menagis, aku tidak bisa memeluk nya" ucap Bagas sambil menatap kaluar jendela.


" Kenapa kamu biar kan dia pergi, kalau kamu mencintai nya" ucap Raka yang sudah tidak formal seperti dia kantor.


" Aku tidak bisa menahan nya, entah kenapa tatapan mata nya kalau dia tidak mencintai ku, dia seperti menganggap ku hanya seperti kakak yang hanya bisa melindungi nya saja" sahut Bagas.


" Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu, jangan sama kan arti tatapan dengan hati Gas, itu jelas berbeda, bisa salah paham nanti nya" ucap Raka dengan memberi kan nasehat untuk sang bos.


" Entah lah, tapi aku merasa kalau Reina tidak mencintai ku" ucap Bagas yang sudah naik ke atas ranjang nya dan menutup mata nya dengan tangan kanan nya.


Raka yang melihat bos nya galau hanya bisa menggeleng kan kepala nya dan berlalu ke luar kamar sang Bos.


Di kantor polisi, Diana sudah di masuk kan ke dalam sel khusus, karena Diana harus di tindak lanjuti lagi dengan kasus yang menimpa diri nya.


Siska datang menemui ibu nya karena mendapat kabar kalau sang ibu di tahan di kantor polisi.


" Ibu..." panggil Siska dengan tetesan air mata di pipi nya.


Diana yang baru saja keluar dari pintu sel merasa terkejut karena anak nya sudah berada di kantor polisi.


" Siska..kenapa kau berada di sini, pulang lah, ibu tidak apa apa" ucap Diana sambil duduk kursi tunggu.


" Siska khawatir dengan ibu, bagaimana bisa ibu masuk penjara, apa semua ini karena Bagas" tanya Siska yang bisa menebak.

__ADS_1


" Bukan hanya Bagas nak, tapi anak sialan itu, dia semua dalang dari semua ini" ucap Diana dengan tatapan yang seperti ingin membunuh orang.


" Tapi kau tenang saja, ibu sudah mengabari Om Farhan, lusa pasti ibu sudah keluar dari tempat busuk ini, sekarang tugas mu adalah membalas kan dendam ibu pada anak sialan itu" sambung Diana.


" baik lah bu, aku akan membals kan dendam kibu pada Reina, aku juga ingin sekali menjabak rambut nya yang sudah membuat aku seperti ini" ucap Siska yang sudah kesetanan.


" Sekarang pulang lah, dan temui om Farhan, agar kalian bisa merencana kan sesuatu untuk anak sialan itu dan juga keluarga Kesuma" ucap Diana.


*****


Di kediaman ayah Budi, Reina sudah masuk ke kamar nya dahalu waktu masih kecil, barang barang di sana tidak pernah berubah, masih sama seperti masih ada ibu nya dulu.


memang syarat waktu Diana sudah menikah dengan Budi, Budi meminta kalau kamar Reina tidak boleh di hancur kan karena Budi bisa memasuki nya kalau dia merindukan anak nya, walau pun anak nya masih satu rumah dengan nya.


Dan semua itu di setujui oleh Diana, dan Siska pun juga tidak boleh memasuki kamar itu sama sekali.


" Ibu....andai ibu masih ada di sini, pasti kita akan hidup bahagia" ucap Reina sambil memeluk foto anak nya.


Setelah meletak kan foto keluarga nya kembali, Reina kembali teringat dengan Bagas yang sudah menolong nya dari kematian saat kabur dari rumah dulu.


" Kak Bagas....kenapa aku sudah merindukan mu" ucap Reina.


Reina mengambil ponsel nya yang ada di samping nya, di klik nya nomor Bagas.


Dengan rasa takut, Reina langsung menghubungi nomor Bagas, namun tidak di angkat oleh Bagas karena Bagas sudah terlelap setelah berbicara pada Raka tadi.


Reina langsung lemas karena telpon nya tidak di angkat oleh Bagas.


" Kak Bagas pasti sudah melakukan ku, bukti nya dia sudah tidak mau mengangkat telpon ku, jelas saja kak Bagas tidak mau mengangkat telpon ku, karena kak Bagas pasti mau bebas, tidak mengurusi gadis seperti ku lagi" ucap Reina dengan dada begitu sesak.

__ADS_1


Bagas sendiri yang masih tertidur bermimpi buruk, di mimpi Bagas, Reina berdiri di ujung tebing yang begitu tinggi, Bagas ingin sekali memanggil dan menarik nya dari ujung tebing itu, namun suara Bagas dan langkah kaki nya tidak bisa di gerak kan sama sekali.


Saat Bagas terus berusaha untk menggapai Reina, tiba tiba ada seekor burung elang yang menyambar tubuh Reina sehingga Reina langsung terjatuh dari tebing dan langsung terjun ke dasar jurang yang di bawah nya lautan luas.


" Tidaaaaaaaaak.... Reinaaaaa" teriak Bagas langsung bangun dengan nafas yang ngos ngosan dan keringat membasahi seluruh tubuh nya.


Bagas langsung melihat sekeliling nya, Ia merasa lega saat semua itu hanya lah mimpi, Bagas mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas, mata Bagas langsung membulat sempurna saat melihat satu panggilan tak terjawab dari Reina.


Dengan cepat Bagas langsung menelpon Reina balik, tapi sayang nomor ponsel Rein sudah tidak aktif karena Reina sudah mematikan nya saat Bagas tidak mengangkat telpon nya tadi.


" Aaahhhkk....kenapa malah tidak aktif si, apa jangan jangan terjadi sesuatu dengan Reina?" ucap Bagas yang sudah berfikir negatif.


Bagas dengan cepat langsung menelpon Raka untuk menemani nya ke rumah Reina, Raka pun langsung mengiya kan karena Raka berfikir kalau bos nya ingin mengutara kan perasaan nya.


Tapi saat Bagas sudah tiba di lantai bawah dengan pakaian kaos oblong dan celana ponggol nya, raka langsung menaut kan alis nya melihat penampilan sang Bos.


" Bos kenapa pakaian nya seperti ini? gak salah mau mengungkap kan cinta berpakaian seperti ini? atau ini memang trend tahun 2021?" tanya Raka yang langsung di ambut tawa oleh papa Andre dan mama Ridha.


" Kamu bicara apa Raka...siapa yang mau mengatakan cinta pada Reina, aku mau ke rumah Reina karena ak khawatir dia kenapa napa, tadi dia menelpon ku tapi tidak aku angkat, dan saat aku menelpon nya balik nomor nya sudah tidak aktf lagi" ucap Bagas menjelas kan.


" Reina tidak kenapa napa sayang, mama dan papa barusan telponan dengan ayah nya, raka juga dengar kok, dia sekarang sedang tidur, kamu jangan cari alasan yang tidak masuk akal deh, mengatakan kalau Reina kenapa napa, kalau emang mau mengatakan cinta mama dan papa tidak apa apa, malahan senang, ya kan Pa" ucap mama Ridha sambil membuka buka  majalah yang ada di tangan nya.


 


 


Tbc.


 

__ADS_1


 


__ADS_2