
Kabar berita kematian Muklis sudah terdengar ke telinga Reina dan juga keluarga Kesuma, Reina sebenarnya sedih karena satu satunya keluarganya yang masih ada malah kini meningglaknnya atas kesalahannya sendiri, bahkan pamannya lah yang sebenarnya mau membunuhnya, hanya karena masalah harta dan juga ingin bals dendam untuk keluraga suaminya.
Karena tidak mendapat kan penawar racun yang di tembakkan mama Ridha saat itu, ahkirnya Muklis menghembuskan nafasnya, dan saat ini Muklis sedang di kebumikan di pemakanan umum oleh anak buah Muklis dan juga Diana.
" Aku akan membalskan dendam mu yang belum terbalaskan Muklis, karena kita mempunyai musuh yang sama, dan cintaku juga tidak akan pernah pudar untuk mu, karena Siska adalah buah cinta kita, walaupun kau tidak pernah mengakui dia sebagai anakmu" ucap Diana setelah itu langsung meninggalkan makan Muklis di ikuti anak buahnya dan juga anak buah Muklis yang otomatis menjadi anak buahnya juga.
Di kediaman Kesuma, Bagas dan kedua orang tuanya duduk di ruang keluraga membahas kematian Muklis.
" Apa kau yakin itu adalah jasad Muklis?" tanya papa Andre yang tidak begitu yakin dengan kematian Muklis.
" Iya tuan, saya melihatnya langsung saat Muklis di bawa ke rumah sakit karena tubuhnya sempat tidak sadarkan diri saat itu, namun setelah dokter memeriksa keadaan Muklis, Dokter mengatakan kalau Muklis sudah meninggal saat masih di dalam perjalan menuju rumah sakit" ucap orang suruhan papa Andre.
Papa Andre menatap ke arah Rangga, mendapat tatapan yang begitu mengintimidasi dari bos besarnya, Rangga pun memberikan laporan yang di ketahuinya saat itu.
__ADS_1
" Memang benar Muklis Bos, karena aku sendiri yang masuk ke dalam lubang kuburnya dengan menyamar menjadi anak buahnya agar memastikan kebenarnya" ucap Rangga yang langsung di angguki kepala oleh yang lain.
" Kerja bagus Ngga, jadi kedepannya apa yang akan di lakukan oleh wanita itu" tanya Bagas.
" Balas dendam, pada keluarga Kesuma dan juga nona Reina" ucap Rangga menatap Reina sesaat setelah itu langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
" Tapi saya Rasa mereka beberapa hari ini tidak akan bertindak mengingat begitu terpukulnya Diana saat kepergian Muklis, saya bisa melihat kesedihan di wajahnya saat pemakan tadi" lanjut Rangga lagi.
" Miranda? siapa Miranda mas?" tanya Reina.
Bagas langsung menatap Reina, ia menggenggam tangan Reina dengan lembut, " Nanti Mas ceritakan sayang" ucap Bagas yang langsung di angguki kepala oleh Reina.
" Belum ada kabar apa pun, di karenakan karena mereka masih suasana berduka" ucap Rangga.
__ADS_1
" Yasudah kalau begitu kalian harus pasang telinga kalian untuk berjaga jaga kalau mereka sudah bertindak kembali" ucap Bagas yang langsung berdiri dan menarik tangan Reina untuk iut bersamanya ke kekamarnya.
Papa Andre yang melihat kelakuan anaknya hanya bisa mendengus sebal, " Dasar anak tidak tau sopan santun, orang tua masih mau berbicara dia malah uda nyelonong pergi begitu saja" ucap papa Andre yang langsung mendapat kekehan dari sang istri.
" Buah tak jauh jatuh dari pohonnya Pa, keluakauan putra mu sama persis seperti papa bukan" ucap mama Ridha yang langsung beranjak menyusul Bagas untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat mengingat hari harinya kemarin begitu lelah mengurusi musuhnya dan musuh menantunya, namun sekarang dirinya sudah bisa bersantai karena musuh terberatnya sudah hilang satu, tinggal curut yang tersisa yaitu Diana dan putrinya.
Papa Andre, Rangga dan Raka hanya menatap kepergian bos dan nyonya Bosnya hanya bisa menatap punggung nya saja.
" Sepertinya Bagas tidak mirip dengan ku kan? dia malah lebih mirip dengan mamanya bukan?" tanya papa Andre yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Raka dan Rangga bersamaan.
Tbc.
__ADS_1