La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#54


__ADS_3

Bagas menarik pinggang Reina agar senmakin rapat dengan diri nya, Reina semakin lemas saat Bagas menarik tubuh nya menempel dengan tubuh Bagas, dengan perlahan Bagas mendorong tubuh Reina agar berjalan mundur ke tempat duduk namun Bagas tidak melepas kan ciuman mereka.


Bagas begitu candu dengan bibir Reina yang begitu manis, Reina seperti di mabuk kepayang karena mendapat kan ciuman yang begitu lembut oleh Bagas, entah kenapa saat ini  Bagas ingin lebih dari hanya sekedar ciuman, naun saat Bagas melepas kan ciuman nya dan ingin beralih ke leher jenjang Reina.


Bagas dan Reina di kejut kan dengan deheman suara yang begitu di kenali oleh Bagas dan Reina.


"Eheeeeeem" Suara deheman mama Ridha dan papa Andre.


Bagas dan Reina slangsung menjauh kan tubuh nya karena terkejut mendengar suara mama Ridha dan papa Andre.


Bagas dan Reina melihat ke arah mama Ridha dan papa Andre yang sudah berdiri di pintu Balkon sambil bersedekap tangan nya di atas dada.


Sejak kapan ini orang tua berada di sini, menganggu saja, batin Bagas saat meraa diri nya di ganggu oleh mama Ridha dan papa Andre.


Sedang kan Reina hanya bisa menunduk kan wajah nya dan tidak berani menatap mama Ridha dan papa Andre yang malah melihat diri nya dan Bagas bergantian.


" Mama sama papa sejak kapan di situ?" tanya Bagas yang merasa tidak bersalah namun jantung nya masih berdetak kencang saat di pergoki sedang bercumbu dengan Reina.


" Apa kalian tidak sabar menunggu samapi acara pernikahan kalian di langsung kan?" tanya mama Ridha yang langsung di angguki kepala oleh papa Andre.


" Apa kamu sudah tidak sabar Gas sampai sampai main nyosor begitu pada Reina" kali ini papa andre yang bertanya.


" Mama sama papa seperti tidak pernah muda saja, ini sudah biasa di lakukan pada anak zaman sekarang Ma, Pa, bahkan lebih dari ini malah udah" ucap Bagas dengan santai yang membuat mama Ridha meradang.


" Apa kamu bilang? kamu sama kan mama dan papa seperti kamu iya" ucap mama Ridha yang sudah menjewer Bagas dan menarik nya keluar kamar Reina di ikuti papa Andre.


Reina yang melihat Bagas di jewer dan di seret keluar dari kamar nya merasa  kasihan, naum dia tidak bisa berbuat apa apa.


Mama Ridha berhenti tepat di depan pintu kamar dan berbalik menatap Reina yang berdiri mematung di ujung tempat tidur.

__ADS_1


" Sayang kamu tutup pintu kamar kamu dan jangan lupa kunci, takut nya ada lebah yang datang dan menyengat mu saat mama dan papa tidur nanti" ucap Mama Ridha yang langsung di angguki kepala oleh Reina.


Melihat mama Ridha, papa Andre dan Bagas keluar dari kamar nya, Reina langsung menutup pintu nya dan tak lupa mengunci nya.


Di luar kamar, mama Ridha masih menjewer Bagas dan membawa nya turun ke ruang tamu di ikuti oleh papa Andre yang setia dengan istri nya.


Raka yang sedang duduk sambil menyeruput kopi nya terkejut dengan teriakan bos nya saat sudah mama Ridha, papa Andre dan Bagas sudah berada di lantai satu.


" Dasar anak tidak tahu malu, belum apa apa sudah main nyosor aja, sudah seperti soang kamu tahu" ucap mama ridha yang langsung melepas telinga Bagas yang sudah berubah warna menjadi warna merah.


Raka yang tidak tahu apa apa hanya bisa menatap bos dan nyonya nya dengan tatapan bingung.


" Ada apa ini?" tanya Raka ahkir nya ingin tahu.


" Kamu tanya kan saja pada bos mu itu, yang bibir nya sudah mirip seperti soang, main nyosor anak orang aja" ucap mama Ridha menatap Bagas.


" Bagas gak senagaj Ma, kelepasan tadi" ucap Bagas sambil mengelus telingan nya yang masih terasa panas akibat jeweran dari mama nya.


Bagas menatap Raka dengan tatapan tajam nya, " Jangan sok pura pura tidak tahu kau, aku poong gaji mu bari tahu rasa kau" ucap Bagas yang langsung pergi dari ruang tamu menuju kamar nya.


Raka hanya terkekeh mendengar kemarahan bos nya.


" Lihat itu kelakuan anak kamu Pa, benar benar memalukan, kelaman negjomblo gitu" ucap mama Ridha sambil melihat Bagas yang berjalan naik ke atas.


" Anak kamu juga kali Ma" jawab papa Andre.


" Yang buat kan kamu Pa, lihat saja wajah nya begitu mirip dengan mu, hanya kulit nya saja yang mirip dengan mama" ucap mama Ridha.


" Kita sama sama buat nya Ma?" ucap papa Andre lagi yang tidak mau di salah kan.

__ADS_1


" Tapi bibit nya kan dari kamu Pa, gak mau ngaku juga" ucap mama Ridha yang sudah kesal.


" Tapi kan kita sama sama menikmati dan sama sama mendesah saat buat Bagas Ma, jadi dia anak mu dan anak ku" ucap papa Andre yang tidak mau kalah.


Tanpa mereka sadari Raka yang masih berada di sana mendengar semua perdebatan yang mereka ribut kan.


Sial banget sih hidup gue, malah ngedengarin pembeciraan yang tidak berfaedah sama sekali, batin Raka yang langsung berdiri meninggal kan ruang tamu sambil membawa kopi yang msih tersisa di gelas nya.


Mama Ridha dan papa Andre saling pandang saat melihat Raka berjalan meninggal kan mereka dan naik ke lantai dua.


" Jadi dari tadi Raka mendengar kan pembicaraan kita Pa?" tanya Mama Ridha.


Papa Andre hanya mengangguk kan kepala nya sambil menatap Raka yang sudah hapir sampai di lantai dua.


" Haiiiiis...benar benar memalukan" ucap mama Ridha yang langsung meninggal kan suami nya.


*****


Di rumah sakit, Muklis sudah selesai mendonor kan darah nya untuk anak yang selama initidak di akui nya, Diana bisa bernafas lega karena Siska sudah lewat dari masa kritis nya.


Walau pun Diana merasa kecewa kenapa bayi yang ada di kandungan anak nya tidak mati saja saat itu.


" Itu lah anak didikan mu, hamil di luar nikah dan tidak tahu siapa ayah yang di kandung nya, ternyata buah tidak jauh jatuh dari pohon nya" ucap Muklis saat mendengar kalau Siska ternyata hamil dan melakukan aborsi.


" Kau jangan hanya menyalah kan ku saja, apa kau pernah melihat anak mu, bahkan untuk membeli kan nya mainan saja kau tidak pernah" ucap Diana yang tidak mau di salah kan.


" Kau urus putri mu itu, tugas ku sudah selesai, dan jangan ganggu aku, soal biaya rumah sakit kau tidak perlu takut, aku sdah membayar nya sampai Siska benar benar pulih" ucap Muklis langsung meninggal kan Diana.


Diana menatap kepergian Muklis yang tidak mau melihat keadaan Siska sedikit pun, ada rasa kasihan di diri Diana saat melihat anak nya tidak mendapat kasih sayang seorang Ayah sedari kecil.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2