La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#80


__ADS_3

Setelah menahan hasratnya yang di tahan Bagas sedari tadi, ahkirnya dengan pelan Bags bisa melepaskan pelukan Reina dari tubuhnya, dan dengan segera Bagas langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk berendam air dingin karena tidak mungkin Bagas harus main solo atau pun bertempur kembali dengan Reina karena istrinya saat ini masih kelihatan kelelahan.


" Haaahhk, sial banget nasib mu tong, baru saja kenak sentuh kulitnya dan hembusan nafas nya sudah membuat kamu bangun tong, masa iya main solo, punya binik juga" ucap Bagas saat mengguyur tubuhnya dengan air dingin menggunakan shower.


Reina sendiri yang mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi langsung menggeliatkan tubuhnya, Ia mengumpulkan ingatannya dan langsung tersenyum mengingat malam panas yang di lakukan suaminya padanya, Reina merasa senang ahirnya bisa menyerahkan kesuciannya untuk suaminya.


Ceklek


Bunyi pintu kamar mandi terdengar di buka, Reina langsung melihat ke arah kamar mandi dan nampak lah Bagas yang keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya dan menggosokkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Reina terpana melihat tubuh kekar sang suami, ingin rasanya ia kembali menyenuh dada bidang itu lagi seperti tadi malam yang ia lakukan, Bagas yang melihat istrinya sudah bangun langsung tersenyum dan berjalan ke arah Reina yang melamun sambil menatap ke arah dirinya.


" Fuuuuh" Bagas meniup wajah Reina dan membuat Reina malu dan menudukkan wajahnya.


" Sedang malamunkan apa hemm" tanya Bagas yang gemas karena melihat wajah Reina yang sudah merona.


" Apa istri Mas yang cantik ini sedang melamunkan kejadian tadi malam, kalau Ia mas mau kok bertempur kembali, yaahh walau pun sudah mandi, tapi gak masalah kalau harus mandi lagi" ucap Bagas dengan senyuman mesumnya yang langsung mendapat cubitan kecil di lengan Bagas.


" Jangan ngaco mas, ini saja masih begitu perih" sahut Reina dengan wajah cemberut.


Bagas terkekeh melihat wajah cemberut Reina, dengan sayang Bagas mencium bibir Reina sekilas.


Cup


" Buruan mandi, setelah itu kita makan siang, pasti kamu sudah lapar kan" ucap Bagas yang membuat reina terkejut mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


dengan cepat Reina melihat ke arah jam yang menempel di dinding kamar mereka, mata Reina langsung membulat sempurna saat melihat saat ini sudah pukul 11 lewat.


" Mas kenapa tidak bangunkan Reina, kita bahkan tidak sholat subuh, ya Allah ampuni dosa hambamu ini" ucap Reina yang tanpa sadar langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya ingin beranjak ke kamar mandi.


Bagas yang melihat tubuh polos istrinya langsung melototkan matanya, ia menelan salivanya melihat tubuh polos Reina yang putih mulus dan begitu banyak stempel hasil karya Bagas tadi malam.


Namun baru saja Reina ingin menggerakkan kakinya, rasa pedih bercampur ngilu langsung Ia rasakan di bagian sensitivnya, hingga Reina langsung meringis dan tanpa sadar langsung menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan melihat suaminya yang terdiam dengan mata membulat menatap dirinya.


" Mas" panggil Reina dengan suara lembut nya.


" Ya sayang" sahut Bagas menormalkan jantung nya melihat pemandangan indah di hadapannya barusan.


" Ehhmm..Mas akan bantu kamu ke kamar mandi" ucap Bagas langsung memutuskan menggendong Reina.


Reina hanya pasrah, Ia mengalungkan tangannya di leher Bagas dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.


" Huuuffft, tahan Gas, tahan, benar benar cobaan hidup" ucap Bagas mengelus dada nya dan langsung memakai baju nya untuk segera keluar dari dalam kamar.


Reina sendiri sengaja berendam untuk mengurasi rasa pedih dan ngilu di are kewanitaannya sambil bermain air hangat yang di penuhi oleh busa sabun.


Bagas turun ke bawah dan menemui Rangga yang duduk di ruang tamu sambil menyesap rokoknya untuk mengurangi hawa dingin.


" Ada info terbaru" tanya Bagas sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


Rangga hanya melihat Bagas sesaat, kemudian melanjutkan lagi menyesap rokoknya sebelum menjawanb pertanyaan Bagas.

__ADS_1


" Muklis murka karena belum mendapat kabar dimana kebaradaan Reina" ucap Rangga tanpa melihat wajah Bagas.


Bagas yang sudah selesai minum langsung meletakkan gelas nya di atas meja dengan suara yang cukup keras, sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Rangga hanya melirik sekilas, setelah itu kembali menyesap rokoknya.


" Apa rencananya mu setelah ini?" tanya Rangga karena melihat Bagas diam saja dengan wajah dinginnya.


" Mempertahankan apa yang pantas untuk di pertahankan, karena itu semua milik istriku" ucap Bagas dengan tatapan tajamnya menatap Rangga.


" Aku akan mengurusnya" sahut Rangga dengan santai.


" Yaah kau harus mengurusnya dengan cepat, aku tahu Reina tidak menginginkan itu semua, karena harta ku saja tidak akan pernah habis bahkan sampai tujuh turunan sekaligus, tapi yang namanya hak, maka itu akan aku pertahankan, bagaimana pun caranya" ucap Bagas.


" Setelah peresmian penggabungan dua perusahaan besar milik mertua ku, kau harus singkir kan tikus tikus itu, aku yakin mereka tidak tinggl diam" sambung Bagas lagi.


Rangga hanya diam saja, Ia tidak menyahut apa yang di ucapkan Bagas, yang di fikir kan bagaimana dengan keselamat Reina nantinya.


Perusahaan peninggalan Ibu dan Ayah Reina yang sudah di gabungkan, hanya tinggal di resmikan membuat Muklis begitu murka, dan ingin segera melenyapkan Reina. Rangga yang saat itu menemani Reina untuk mendatangi perusahaan nya langsung di bantai oleh anak buah Muklis sehingga menyebabkan Rangga dan Reina terdampar di hutan selama berhari hari.


Dan saat ini itulah yang ada di pikiran Rangga, cara agar Reina tetap selamat dan memebuat Muklis dan tikus tikusnya sirna dengan seketika, dan reina bisa bahagia dengan kehidupannya kelak.


Tbc.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2