La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#160


__ADS_3

Kini helikopter yang di naiki Rangga dan juga para anggota kepolisian sudah di tempat tujuan. Diana langsung di bawa masuk ke dalam sel dimana tempat yang paling khusus untuk dirinya. saat sudah berada di dalam sel, tatapan mata Diana menatap Rangga begitu tajam, dan itu bisa di lihat oleh Rangganya langsung.


"Ahkirnya kau berada di tempat yang layak untuk dirimu, setelah apa yang kau lakukan pada keluargaku" ucap Rangga sambil menatap Diana dengan tatapan tajam.


Diana tidak menjawab sama sekali, kini dia hidupnya sudah pasrah berada di dalam jeruji besi di tempat yang jauh dari kota dan berada di tengah-tengah laut.


Ivo sendiri memberikan berkas-berkas kejahatan Diana pada anggota Brimop yang khusus menjaga tempat tersebut.


" Kini tugasku sudah aku serahkan pada kalian semua, dan saya mau kalian menjaga wanita itu dengan baik, karena di tahanan yang tidak bisa di sepelekan" ucap Ivo yang langsung di jawab anggukan kepala oleh anggota brimop.


Setelah selesai, Ivo langsung keluar dari ruangan dimana dia bertemu dengan anggota Brimop, dan tanpa sengaja Ivo dan Rangga bertemu di depan pintu keluar, lagi-lagi mata mereka saling bertatapan, entah kenapa ada rasa  canggung di antara keduanya saat ini.


Rangga langsung melanjutkan langkahnya untuk menduluanin Ivo, begitu Rangga keluar, Ivo pun langsung menyusul Rangga dari  belakang.


" Apa kita akan langsung pulang?" tanya Ivo saat melihat Rangga yang berdiri menatap lautan lepas di hadapannya.

__ADS_1


Bukannya menjawab Rangga malah menatap Ivo dengan tatapan yang berbeda, entah kenapa melihat wajah Ivo jantungnya selalu berdetak lebih cepat.


" Apa kau tidak keberatan kalau kita di sini sebentar, aku ingin menikmati keindahan laut di hadapan ku saat ini" jawab Rangga.


Ivo hanya menganggukkan kepalanya. kemudian dia melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan, dengan perlahan Ivo melepas sepatunya dan kembali malanjutkan langkahnya sampai kakinya menyentuh air laut.


"Apa masa kecilmu suram, sehingga sudah besar begini kau masih main air?" tanya Rangga mendekati Ivo.


Entah kenapa kali ini Ivo tidak kesal sama sekali dengan perkataan Rangg, dia malah tersenyum sambil merentangkan tangannya.


Rangga yang tertarik dengan jawaban Ivo langsung berjalan mendekati Ivo. kini mereka sudah berada saling berdampingan, Rangga diam-diam memperhatikan Ivo yang menutup matanya menikmati angin laut.


Rambut yang pendek sebahu berantakan dan mengenai wajah Ivo, Rangga hanya bisa menghela nafasnya untuk menghilangkan kegugupannya.


" Kenapa kau memilih menjadi polisi? biasanya seorang wanita inginnya menjadi model" tanya Rangga.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan seperti itu, Ivo langsung membuka matanya, namun matanya tetap memandangi laut lepas di hadapannya.


" Ada alasan kenapa aku mengambil polisi, yang jelas alasan ku itulah yang membuat aku kuat sampai saat ini" jawab Ivo.


" Apa kau tidak takut panas-panasan di luar saat sedang bekerja, dan apa kau tidak takut tertembak saat kau sedang mengkap penjahat, kau sendiri bukan kalau dunia kejahatan itu sangat mengerikan" lagi lagi Rangga bertanya karena masih merasa penasaran dengan wanita yang ada di sampingnya.


Sebelum menjawab Ivo tertawa sejenak, " jangan kan dengan panasnya matahari, panasnya bara api juga akan aku lawan, karena aku mau menjadi seorang polisi yang memang di butuhkan oleh masyarakat, bukan hanya dengan pamor bahwan aku adalah seorang polwan yang malah di takuti oleh masyarakat" jawab Ivo yang membuat Rangga terkejut.


Menarik, dia benar-benar menarik, aku harus bisa mendekatinya dan mendapatkannya,batin Rangga.


" Sudah sore, sebaiknya kita pulang sekarang, masih banyak urusan yang akan saya selesaikan" ucap Rangga yang langsung melangkah dimana helikopter terparkir.


Ivo pun mengikuti langkah kaki Rangga untuk segera naik ke dalam helikoper sebelum IVo mendengar suara Rangga yang sudah mencacinya diluan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2