La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#39


__ADS_3

Tak lama ayah Budi terbatuk mengeluar kandarah, dan tak lama ayah Budi menutup mata nya menhembus kan nafas nya yang terahkir setelah tangan nya menyentuh pipi Reina.


Reina yang melihat ayah nya menutup mata langsung berteriak sambil memeluk Ayah nya dengan kuat.


" Ayaaaaaaaaah....ayah bangun yahh, jangan tinggal kan Reina, bangun Yah, mana janji ayah pada Reina kalau ayah akan selalu menemani Reina, ayah bangun yah" teriak Reina dengan isakan tangis yang begitu sedih.


Bagas yang melihat Reina histeris langsung memeluk nya dengan kuat, Raka sendiri langsung menyuruh para bodyguard nya untuk membantu para perawat mengangkat tubuh Ayah Budi ke ambulance yang kebetulan sudah datang tepat ayah budi menhembus kan nafa nya yang terahkir.


" Jangan bawa ayah ku, dia msih hidup, dia hanya pingsan, aku yakin ayah msih hidup" teriak Reina saat jenazah ayah nya di bawa masuk ke dalam ambulance.


" Rein sabar Reina, ayah udah tenang di sana, ayah sudah bertemu dengan ibu mu di surga sana" ucap Bagas berusaha menenagkan Reina.


" LEPAS...aku mau sama ayah, ayah pasti masih hidup, ayah gak mungkin ninggalin aku, ayah udah janji akan selalu menemani ku" teriak Reina setelah itu Reina langsung tak sadar kan diri.


Bagas dengan cepat langsung mengangat Reina ke dalam mobil, Raka dengan lihai langsung mengambil alih kemudi menyusul ambulance melaju ke kediaman Yah Budi.


Berita meninggal nya ayah Budi sudah terdengar di telinga Diana, dia tersenyum puas saat mendengar kabar bahagia itu dari Rudi.


Sementara Papa Andre terkejut mendengar kabar duka kalau Ayah Budi calon besan nya sudah tidak ada, mama Ridha menangis memikir kan bagaimana perasaan dan kondisi Reina saat ini.


" Kita kalah cepat Ma, mereka bertindak lebih dulu" ucap papa Andre sambil memijit pangkal hidung nya.


" Kenapa gak dari kemarin kemarin saja papa buat rencana ini, dan papa bisa kerja sama Bagas, tapi ini malah Bagas tidak kalian beri tahu" ucap mama Reina dengan isak tangis nya.

__ADS_1


Kini Jenazah Ayah Budi sudah berbaring di ruang keluarga, Reina yang belum sadar kan diri mash terbaring di kamar di temani oleh mama Ridha.


Siska duduk di depan menyalami para pelayat yang datang, dia tidak mungkin tidak berada di sana, mengingat para tetangga dan rekan kerja ayah Budi mengetahui kalau Siska juga anak nya Ayah Budi.


Tak lama Diana datang dengan tangisan pura pura nya, para pelayan menyabar kan Diana, Bagas dan lain nya yang melihat akting Diana dan Siska benar benar seperti artis sinetron menatap nya dengan tatapan tak suka.


Sementara Reina yang sudah sadar menatap sekililing kamar nya, kepala nya masih terasa pusing, dan tiba tiba ingatan nya kembali pada kejadian beberapa jam sebelum nya, samar samar di dengar nya suara tahlilan di lantai bawah.


" Ayaah...gak gak, ini gak mungkin, aku pasti lagi mimpi, iyaa akulagi mimpi, ayah gak mungkin pergi ninggalin aku, ayah pasti sudah menunggu di bawah, karena mau mengantar kan aku ke bandara" ucap Reina berbicara sendiri.


Tapi saat baru mau turun, pintu kamar Reina terbuka dan melihat mama Ridha masuk sambil membawa nampan dengan pakaian serba hitam.


" Reina kamu sudah sadar sayang?" tanya mama Ridha yang tidak di jawab sama sekali oleh Reina.


" Ayah" ucap Reina dengan suara tercekat di tenggorokan.


Mama Ridha yang mendegar suara Reina langsung memeluk Reina setelah meletak kan nampan yang ia bawa tadi di atas meja.


" Sayang kamu harus kuat, ayah kamu sudah tenang di sana, ayah kamu sudah berkumpul dengan ibu mu, kamu masih punya kami sayang, kamu gak sendiri" ucap mama Ridha dengan lembut.


" Gak...mama bohong, ayah masih hidup ma, ayah belum pergi, ayah gak mungkin ninggalin Reina" teriak Reina hingga suara nya sampai terdengar dilantai bawah.


Bagas langsung berlari ke lantai atas untuk melihat Reina, sementara mama Ridha berusaha menenang kan reina agar tidak histeris dan kembali pingsan.

__ADS_1


" Mama" panggil Bagas saat melihat Reina kembali histeris.


" Sayang...Reina kembali histeris" ucap mama Ridha yang langsung menyerah kan Reina yang menangis sambil memanggil ayah nya.


" Rein tenang lah, kamu tidak boleh seperti ini, kasian ayah mu melihat mu dari atas sana, dia pasti sedih melihat kamu seperti ini" ucap Bagas yang langsung membuat Reina terdiam seketika.


Kini Reina terdiam tapi air mata nya mengalir begitu deras, dia menatap ksosng ke depan.


" Ikhlas kan ayah Rein, ayah uda tenang di sana, kamu gakusah takut, aku akan selalu ada di samping mu, jangan seperti ini ku mohon, aku gak sanggup lihat kamu seperti ini" ucap Bagas yang sudah duduk di hadapan Reina sambil memegang tangan Reina.


Mama Ridha tak kuasa menahan air mata nya melihat Reina dan putra nya yang sakit melihat keadaan Reina yang sudah berantakan.


" Aku udah gak punya siapa siapa lagi kak, semua nya uda pergi, ayah yang dulu berjanji yidak akan meninggal kan ku, tapi sekarang nyata nya ayah juga meninggal kan ku" ucap Reina dengan air mata yang terus membasahi wajah nya.


" Ciuman yang ayah berikan tadi pagi adalah ciuman terahkir, benar kata ayah, kalau itu ciuman ayah yang terahkir" ucap Reina mengingat ciuman yang di berikan ayah nya tadi pagi.


" Tidak ada yang akan mninggal kan mu Rein, kakak akan selalu bersama mu, sampai maut yang memisah kan kita, bahkan maut pun tak bisa memisah kan kita, kamuuda di takdir kan akan hidup bersama kakak, kamu adalah tulang rusuk kakak, kakak mohon jangan seperti ini, hati kakak sakit lhat kamu seperti ini, ikhlas kan ayah ya, jangan bersedih kakak ada bersama mu" ucap Bagas memeluk Reina dengan erat.


Reina hanya bisa menangis di dalam pelukan Reina, dia masih belum bisa melepas kepergian ayah nya, orang yang selalu diam diam menolong nya dulu saat ibu tiri dan saudara tiri nya selalu menyiksa nya.


Ayah tidak berani menolong nya karena ayah tidak mau kalau Reina semakin di siksa, kejadian kejadian dulu mengingat di memori otak nya dan membuat Reina kembali terisak.


Reina selalu berfikir apa memang tidak ada kebahagian untuk diri nya, kenapa selalu kesedihan yang selalu hadir di hidup nya, Reina berfikir kenapa bukan diri nya saja tadi yang tertembak, kenapa bukan diri nya saja yang pergi lebih dahulu, agar Reina tidak merasa kan kesedihan yang begitu berat seperti yang di rasa kan nya saat ini.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2