La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#140


__ADS_3

Mata Bagas juga membulat melihat sang istri di ujung balkon, dengan cepat Bagas berlari sekuatnya agar tidak terjadi sesuatu pada sang istri.


Meta dan seluruh anak buahnya begitu panik melihat atraksi Reina, mereka berdoa agar Reina tidak terjatuh ke bawah.


Kaki Reina terus melangkah dengan bayangan yang mengisi memori otakknya, dan di langkah terahkir Reina tiba-tiba dirinya tersadar karena dia tidak lagi merasakan hawa panas dari lantai yang di pijaknya.


" AAaaaaaaaahkkkk" teriak Reina karena tersadar dari apa yang di pikirkan nya tadi.


" SAYAAAAAAAANG"


"NONAAAAAAAA"


Dan sedetik kemudian


Greeeeeeeeb


Bagas berjasil menangkap tangan Reina. Reina langsung melihat ke arah Bagas yang berusaha memegang tangan istrinya sekuat tenaganya.


" Mas aku takut" ucap Reina dengan wajah yang sudah begitu pucat.


" Pegang tangan Mas kuat sayang, dan percayalah kalau kamu tidak akan terjatuh, angkat tubuh kamu, mas akan menariknya dari sini, ayo sayang" sahut Bagas.


Dengan susah payah Bagas menarik Reina, Dan Reina juga berusaha naik, namun karen tangan mereka yang licin karena keringat, tiba-tiba saja pegangan tangan Reina merosot.


" MAAAAAS" teriak Reina dengan menutup matanya.


Namun tiba-tiba satu tangan lagi sudah memegang tangan Reina dan membuat Bagas terkejut melihat Rangga sudah berada di sampingnya.


" Ayo cepat aku bantu" ucap Rangga dan di jawab angguki kepala oleh Bagas.


Dengan usaha suami dan kakak Reina, ahkirnya Reina bisa terangkat dari maut yang hampir saja menjemputnya.


Dengan gerakan cepat Reina langsung masuk ke dalam pelukan Bagas dengan tangisan yang langsung pecah, Bagas memeluk tubuh Reina erat-erat bersykur karena tidak terjadi sesuatu apa punpada istrinya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lalukan dek? apa kamu susah gila Hah" bentak Rangga yang langsung membuat Bagas menatapnya dengan tajam.


" Kali ini aku melarang mu untuk membela Reina Gas, dia sudah seperti anak kecil yang baru saja ingin mencelakai dirinya, kalau saja kau dan aku tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi padanya, belum tentu dia mati kalau terjatuh dari sini" sambung Rangga yang sudah begitu emsoi.


" Tutup mulut mu Rangga" Bagas balik membentak Rangga karena tak suka mendengar ucapan Rangga terhadap istrinya.


" Aku tahu Reina ku tidak melakukan hal bodoh seperti ini kalau tidak ada sebabnya, kau salah menilai istriku" ucap Bagas yang langsung membuat Rangga merasa bersalah denan ucapannya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Reina sendiri masih menangis di dalam pelukan Bagas, " Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bagas mengurai pelukan nya.


Meta dan semua anak buah Bagas sudah keluar dan bersyukur tidak terjadi sesuatu pada nona bosnya, kepala pelayan membawakan minuman agar nonaya bisa sedikit tenang.


Setelah meminum air yang di berikan kepala pelayan, kini Reina merasa sedikit tenang, di tatapnya suami dan kakanya dengan bergantian, dan air mata kembali mengalir di pipinya.


" Apa yang terjadi padamu sayang? gak mungkin kan kamu melakukan seperti tadi karena mas dan kakak kamu cueki" tanya Bagas dengan lembut sambil mengelus kepala sang istri.


Reina kembali menatap Bagas dan Rangga bergantian, kemudian dia membuang muka dan melihat ke arah taman yang ada di belakang, nafasnya kembali memburu mengingat apa yang sudah membuatnya sudah seperti orang gila dan hampir saja membuat dirinya membahayakan nyawanya.


" Kalau kamu belum siap untuk bicara, tidak apa-apa sayang, tapi sekarang kamu harus istrihata dulu," ucap Bagas namun Reina langsung menggelengkan kepalanya .


Dengan cepat Reina menarik tangan Bagas untuk duduk bergabung dengan Rangga.Reina mngingat sebentar bayangan kejadian itu, lalu ia menarik nafas sesaat sebelum menceritakanya pada suami dan kakanya.


Dengan perlahan Reina membuka mulutnya untuk menceritakan semua apa yang di ingatnya pada suami dan kakaknya, sambil menangis Reina begitu serius menceritkan nya. Bagas dan Rangga langsung mengepal kan tangannya begitu mendengar apa yang di ceritakan Reina pada meraka,. dan kalau saja mereka tidak terlambat bisa jadi saat ini Reina sudah celaka.


" Kamu tenang saja sayang, mas san kakak kamu akan membereskan ini semua, dan ini sudah seperti apa yang kami fikirkan kalau dia lah dalang dari semua ini" ucap Bagas.


" Soal anak kita yang sudah tenang di surga sana, kamu jangan sedih lagi, Mas yakin kita akan segera di beri momongan oleh Allah dalam waktu dekat ini sayang" sambung Bagas lalu membawa Reina ke dalam pelukannya.


Rangga yang melihat itu merasa jengah dan langsung berdiri dari tempat duduknya, dan itu langsung membuat Bagas melihat ke arahnya.


" Mau kemana kau?" tanya Bagas.


" Kamar, males banget aku lihat keromantisan kalian yang buat perut ku mendadak mules" jawab Rangga yang langsung membuat Reina tertawa.

__ADS_1


Bagas senang ahkirnya istrinya sudah bisa tersenyum lagi dan bisa melupaka kejadian yang baru saja di alaminya. Rangga sendiri langsung ingin mencari cara agar bisa mmebalas perbuatan Ria dengan cantik dan membuat sang empunya menyesal karena sudah berhasil mencelakai adik dancalon keponakannya.


"Sebaiknya kamu siap-siap sayang, Mas mau menebus kejadian di kantor tadi karena suah mencueki kami" ucap Bagas yang langsung mendapat cubitan dari Reina.


"Kamu jangan banget Mas, sama kak Rangga juga. Tapi karena kalian memperlakukan aku seperti tadi, dan dengan kesalnya perasaan aku, saat aku melihat wajahnya tiba-tiba bayangan itu mendadak hadil di pikiran ku" sahut Reina.


" Ternyata ada gunanya juga ya kami cuaki kamu sayang" ucap Bagas dengan kekehan dan langsung di sambut cubitan oleh reina di perut sixpack Bagas.


Malam ini Bagas begitu tampan dengan setelan texudo yang melekat di tubuhnya, begitu juga dengan Reina yang begitu cantik dengan gaun yang sudah di siapkan oleh Meta dan juga Raka tentunya.


Bagas membuka pintu mobil saat mobil yang di supirin oleh Raka berhenti di hotel bintang lima. Dengan mengulur tangannya pada sang istri, Reina menyambutnya dengan senyuman yang melekat di bibir tipisnya.


Mata Reina membulat saat melihat ruangan yang sudah di slulap begitu indah, Reina sendiri sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata, dirinya hanya bisa menutup matanya karena merasa begitu takjum.


Lampu menyala dari arah dirinya sebelah kanan, dan mata Reina kembali membulat saat melihat fhoto dirinya dan suaminya saat bulan madu yang terpanmpang begitu besar di hadapannya.


"Kamu suka sayang?" tanya Bagas memeluk Reina dari belakang.


Reina hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Mas gak bisa hidup tanpa kamu sayang, di hati mas cuma hanya ada kamu, kamu adalah wanita yang sudah berhasil membuat mas begitu mencintai kamu, tolong selamanya berada di samping mas sayang, berada di sisi mas" ucap Bagas menatap mata Reina begitu dalam.


Reina terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, di rabanya pipi sang suami dengan begitu mesra.


"Ketika aku melihat wajahmu, kamu sudah mengisi nama mu di hati ini mas, dan aku sendiri tidak bisa hidup tanpa dirimu, kalau kau bisa meminta sama Allah, aku yang akan meminta di ambil terlebih dahulu agar aku tida seperti orang gila karena di tinggal pergi oleh mu" sahut Reina yang langsung membuat Bagas menutup mulut Reina dengan jarinya dan menggelengkan kepalanya tanpa tidak suka dengan ucapan sang istri.


" Jangan bicara seperti sayang, diri kita sudah ada ikatan cinta yang begitu kuat, dan kita selamanya akan selalu bersama. I LLove You" ucap Bagas.


Reina tersenyum mendengar ucapan Bagas, " I Love You to Mas" kemudian Reina langsung masuk ke dalam pelukan Bagas dan Bags membalas nya dengan erat.


Tbc.


hampir saja Reina jatuh, kalau tadi sampai jatuh bisa semaput Ria di buat daging cincang oleh Bagas dan Rangga.

__ADS_1


__ADS_2