La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#40


__ADS_3

Ayah tidak berani menolong nya karena ayah tidak mau kalau Reina semakin di siksa, kejadian kejadian dulu mengingat di memori otak nya dan membuat Reina kembali terisak.


Reina selalu berfikir apa memang tidak ada kebahagian untuk diri nya, kenapa selalu kesedihan yang selalu hadir di hidup nya, Reina berfikir kenapa bukan diri nya saja tadi yang tertembak, kenapa bukan diri nya saja yang pergi lebih dahulu, agar Reina tidak merasa kan kesedihan yang begitu berat seperti yang di rasa kan nya saat ini.


" Rein mau ke bawah kak, mau bersama ayah" ucap Reina yang langsung dijawab anggukan oleh Bagas.


Kini Reina di peluk dari samping sambil berjalan ke bawah dengan Bagas, Bagas tidka mau mengambil resiko kslau Reina kembali pingsan dan Bagas tidak ada di samping nya.


Namun saat baru menuruni anak tangga, Reina berhenti melihat ibu tiri dan siska ingin membuka penutup wajah ayah Budi.


" Jauh kan tangan kalian dari jenazah Ayah ku" teriak Reina yang masih berdiri d atas tangga.


Semua pelayat yang ada di bawah sekita melihat ke arah Reina, Bagas yang ada di samping Reina pun terejut mendengar teriakan Reina.


Reina langsung berlari ke bawah untuk mendekati jenazah ayah nya yang sudah berbaring di keliling para pelayat.


" Sedang apa kalian di sini? belum puas kalian semua setelah melakukan ini pad ayah ku?" ucap Reina sambil menggeser tubuh Siska dan Diana.


Semua pelayat langsung melihat ke arah Diana dan Siska bergantian, Diana yang sadar saat ini sedang di perhatiakan para pelayat langsung mendekati Reina untuk memeluk nya.


" Reina...ibu tahu kamu begitu terpukul dengan kepergian ayah mu, tapi kamu jangan seperti ini ya, ikhlas kan ayah mu" ucap Diana yang ingin memeluk Reina namun langsung di tepis Reina.


" Jauh kan tangan kotor mu itu dari tubuh ku, kalian fikir aku tidak tahu apa rencana kalian hahk, aku tahu semua nya, kalian pembunuh, kalian yang membunuh ayah ku, aku yakin" teriak Reina yang langsung di peluk Bagas.


" Rein kakak mohon tenang kan lah diri mu, masih aada jenajah ayah di sini" ucap Bagas yang membuat seketika Reina menatap jenazah ayah nya.


Di dekati nya ayah nya, di buka nya kain yang menutupi wajah ayah nya, air mata nya kembali menetes membasahi pipi nya.

__ADS_1


" Ayah....kenapa ayah pergi meninggal kan Reina sendiri, Ayah tahu sendiri bukan kalau cuma Ayah yang Reina punya sekarang" ucap Reina dengan isakan tangis nya.


" Reina gak butuh semua peninggalan ayah dan ibu yah, Reina butuh kalian di sini, siap yang akan menjaga Reina nanti nya, siapa yang menegur Reina kalau Reina salah nanti nya, bangun Yah,,,bangun" isak Reina.


Semua pelayat yang melihat Reina begitu terpukul juga ikut menetes kan air mata, Diana dan Siska yang melihat semua pelayan simpati pada Reina , ingin sekali menjambak rambut Reina dengan kuat, tapi saat ini mereka berdua harus berpura pura sabar dan ikutan menangis.


" Ayah...bukan nya semalam ayah berjanji untuk menjadi wali kan saat Rein mau menikah, bangun yah, mana janji ayah" ucap Reina sambil menghapus air mata nya yang begitu banyak jath di pipi nya.


Mama Ridha tak kuasa menangis melihat calon menantu nya begitu terpukul, ia pun berjalan mendekati Reina dan langsung memeluk Reina dari samping.


" Sayang sudah jangan seperti ini, ayah kamu pasti sedih melihat kamu seperti ini, masih ada mama dan papa sayang, yang akan menjaga kamu dan menegur kamu kalau kamu melakukan kesalahan" ucap mama Ridha sambil mengelus kepala Reina.


" Masih ada Bagas yang akan menjaga kamu sayang, melindungi kamu dari orang orang yang ingin menghancur kan hidup mu, dan masih ada Bagas yang begitu mencintai kamu" lanjut mama Ridha lagi yang langsung menatap Bagas yang ada di samping kanan nya.


Dengan mata sembab, dia ingat terahkir kali nya pesan ayah nya kalau Bagas lah yang akan terahkir kali nya menjaga Bagas saat ayah nya menghembus kan nafas nya untuk terahir kali nya.


Bagas pun membalas pelukan Reina begitu kuat, " Jangan menangis lagi Rein, hati kakak sakit melihat kamu seperti ini" ucap Bagas sambil memeluk Reina.


******


Setelah menyelesai kan fardu kifayah, ahkir nya Ayah budi sudah saat nya di berangkat kan kan ke tempat peristirahatan yng terahkir nya.


Reina dengan setia mengantar kan ayah nya ke pemakaman dimana ayah nya akan di kebumi kan, Bagas juga dengan setia berada di samping Reina.


Reina berjalan sambil memegang foto ayah nya, saat jenazah ayah nya di masuk kan ke dalam liang lahat, dan di tutup oleh tanah, air mata Reina tak henti henti nya mengalir di pipi nya.


Bagas pun dengan setia memeluk Reina takut Reina pingsan saat sudah bisa melihat ayah nya lagi, namun perkiraan Bagas salah, Reina kuat berdiri dan sudah tegar walau pun air mata nya terus membasahi pipi nya.

__ADS_1


Setelah semua nya selesai, dengan  rapi Reina menabur kan bunga mawar di atas makam ayah nya.


" Ayah....semoga ayah tenang di sana, dan bahagia bersama ibu" ucap Reina yang melihat makam ibu nya tepat di sebelah ayah nya.


" Kalian tenang saja, Reina akan akan menjadi anak yang mandiri dan akan menerus kan peninggalan kalian, Reina berjanji tidak akan ada yang berani merebut semua peninggalan kalian walau pun hanya secuil " ucap Reina sambil melirik ke arah Diana.


Diana langsung menatap Reina dengan tatapan tajam nya, namun Reina tidak perduli dengan tatapan Reina malah memeluk batu nisan Ayah dan ibu nya secara bergantian, setelah itu dia pergi tapi sebelum itu dia pamit pada ayah dan ibu nya.


" Reina balik dulu ya Yah, Bu, besok Reina kembali lagi" ucap Reina kemudian berbalik dan berjalan meninggal makam ayah dan ibu nya di susul oleh Bagas dan juga Raka.


Kini di makam itu tinggal mama Ridha, Papa Andre, Diana da juga Siska, dengan langkah pasti mama Ridha mendekati Diana yang menatap nya dengan tatapan tajam.


" Kau kira kau sudah menang setelah kau membunuh Pak Budi, ddasar wanita tidak tahu malu, sudah di beri kehidupan yang layak saat anak mu masih kecil, tapi kau malah membunuh nya dengan menyuruh orang suruhan mu" ucap mama Ridha menatap DIana.


" Apa maksud mu? kenapa kau bicara seperti itu pada ku, kau tidak ada hak untuk menilai ku seperti itu" sahut Diana tidak terima.


Mama Ridha tertawa meremeh kan Diana yang saat ini berada di hadapan nya.


" Kau kira aku tidak tahu semua rencana jahat mu itu, kau tunggu saja kehancuran mu dan juga putri mu" ucap mama Ridha langsung menyambar tangan suami nya dan pergi meninggal kan Diana dan Siska begitu saja.


 


Tbc.


 


 

__ADS_1


__ADS_2