La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#79


__ADS_3

Suara ******* memenuhi kamar yang di tempati oleh Bagas dan Reina, setelah pulang dari jalan jalan dengan bermain salju, Bagas langsung meminta haknya sebagai suami pada Reina, dan terjadilah malam panjang untuk Bagas dan Reina malam itu, di temani dengan turunnya salju yang membuat mereka menghangatkan tubuh mereka dari hawa dinginnya salju di luar villa.


"Aahhhhhh" ******* panjang Bagas dan Reina  saat menyemburkan lahar panas ke dalam rahim Reina.


Reina hanya bisa memegang seprai begitu kuat karena pelepasan yang di buat oleh sang suami, begitu juga dengan Bagas yang langsung tumbang di samping tubuh Reina dengan nafas yang terasa seperti lari maraton.


" Terima kasih sayang, kamu sudah menjaga kesucian kamu untuk Mas" ucap Bagas sambil menciumi kening dan pipi Reina dengan gemas.


Reina hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa menjawab, rasa lelah yang Reina rasakan di tubuhnya seakan tulang tulangnya remuk seperti ayam yang sudah di presto.


Bagas masih asik menciumi Reina hingga ke curuk leher Reina yang sudah bercampur dengan keringat, menurut Bagas aroma Reina yang sudah bercampur keringat begitu terasa nyaman di penciumannya, sehingga membuat Bagas menjadi candu dan ingin selalu menciumi Reina.


Karena belum memakai pakaian sehelai pun, sentuhan kulit Bagas ke kulit Reina, membuat adik Bagas kembali bangun, dan Reina bisa merasakannya karena terasa di kulit paha Reina.


Dengan menelan salivanya, Reina menatap Bagas yang sudah tersenyum menatapnya dengan tatapan gairah, dengan langkah cepat Bagas pun langsung mengukung tubuh Reina kembali, maka terjadilah apa yang diinginkan Bagas, dan Reina hanya bisa pasrah melayani kewajibannya sebagai istri hingga tanpa mereka sadari, mereka melakukan hingga waktu hampir subuh, kalau saja Bagas tidak melihat Reina yang sudah hampir pingsan karena ulahnya yang tidak mau berhenti mengeskplor tubuh Reina malam itu.


*****


Pagi hari dengan sinar matahari yang cerah, Bagas terbangun karena suara ponselnya menganggu tidurnya yang baru beberapa jam memejamkan mata setelah pertempurannya dengan Reina, Ia melihat Reina yang masih  tertidur dengan nyenayak nya.


Dengan malas Bagas mengambil ponsel yang masih berdering di atas nakas samping ranjangnya, di lihatnya mamanya yang menelpon melalui video call, dengan cepat Bagas langsung mengscrol tombol hijau di layar ponselnya.


" Assalamualaikum Ma" ucap Bagas saat sudah melihat wajah sang mama dari layar ponselnya.

__ADS_1


" Walaikumsalam sayang" sahut mama Ridha.


" Apa kamu masih ingat dengan mama dan papa kamu? kenapa kamu tidak memberikan kabar dari kamu sampai di sana, hingga mama mencari kabar kamu dan menantu mama dari Rangga." sindir mama Ridha pada putra satu satunya itu.


Bagas hanya bisa menampilkan wajam tampannya saat mamanya berkata seperti padanya.


"Maaf Ma, kemarin saat baru sampai kita langsung jalan jalan karena Reina begitu senang dan Bagas langsung mengajaknya untuk bermain salju, sampai kami lupa waktu Ma" ucap Bagas memberitahu.


Mama Ridha hanya menatap wajah anaknya dengan malas.


" Terus kenapa kamu tidak mengabari mama dan papa setelah pulang jalan jalan, dan ini kenapa kamu kenapa sepertinya baru bangun tidur, bukannya di sana ini sudah hampir siang ya?" tanya mama Ridha dengan beruntun.


" Ma satu satu dong bertanya nya, Bagas bingung mau jawab yang mana dulu" jawab Bagas sambil sedikit menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Reina karena belum memakai pakaian sehelai pun, gak mungkin kan saat mamanya menanyakan kebaradaan istrinya, Bagas melihat kan bahu Reina pada mamanya.


" Apa kamu baru bangun, ya ampun Gas, launcing si launcing, tapi jangan lupa sholat juga dong, kesal mama sama kamu" ucap mama Ridha dengan wajah kesalnya.


" Maaf Ma, janji gak gitu lagi, habis kita hampir subuh baru selesai Ma, jadi Bagas gak kedengaran kalau adzan subuh dari ponsel" sahut Bagas.


Mama Ridha semakin melototkan matanya mendengar ucapan anaknya kalau mereka bermain sampai subuh.


" Kamu bisa bunuh anak orang Gas, kasian menantuku, sekarang dimana menantu kesayangan mama" tanya mama Ridha.


Bagas dengan segera mengarahkan ponselnya ke arah Reina, mama Ridha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat wajah Reina yang sedikit pucat dengan kantung mata yang terlihat begitu jelas walau pun Reina masih tertidur dan terlihat begitu lelah.

__ADS_1


" Kasian banget menantu mama, mama gak yakin kalau Reina bangun nanti akan bisa berjalan" ucap mama Ridha yang membuat Bagas menatap istrinya yang masih telelap.


" Maaf Ma, habis bikin nagih Ma, enak banget" ucap Bagas dengan kekehan.


" Awas saja kamu kalau sudah balik ke sini, mama gak akan segan segan jewer telinga kamu Gas" ucap mama Ridha dan langsung menutup ponselnya tanpa mengucap salam karena kesal mendengar perkataan anaknya.


" Yaah dimatikan begitu saja, walaikumsalam mamaku sayang" ucap Bagas dengan kekehan melihat mamanya yang merepet tak jelas.


Bagas memandangi wajah istrinya, di usapnya wajah Reina dengan lembut sehingga membuat Reina terusik dengan tidurnya, namun bukannya bangun, Reina malah memeluk bagas dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bagas membuat Bagas kembali menahan hansratnya karena kulit mereka kembali tersentuh.


" Ya Allah berikan lah hamba kekuatan menghadapi cobaan ini" ucap Bagas karena menahan hasratnya karena sentuhan kulit Reina bersentuhan dengan kulitnya di tambahan henbusan nafas Reina tepat di kulit dadanya, membuat Bagas langsung merinding seketika.


****


Di kota kelahiran Reina, Muklis yang sudah berusaha melacak dimana keponakannya namun sampai sekarag Ia tidak tahu dimana keberadaan Reina begitu murka.


" Aahkkkk, aku gak bisa begini terus, aku harus bermain cantik agar Reina bisa keluar dari persembunyiannya, dan menghancurkan keluarga Kesuma" ucap Muklis dengan wajah begitu seram melebihi wajah iblis yang ada di neraka. Anak buah Muklis hanya bisa menundukkan kepala mereka saja karena tidak berani menatap wajah bos mereka.


Sementara Diana saat ini sedang mengemudikan mobilnya menuju pedesaan dimana Siska di sekap, Ia sudah mengetahui dimana keberadaan anaknya, setelah orang suruhannya memberitahu keberadaan Siska, dengan langkah cepat Diana langsung melajukan mobilnya untuk menjemput Siska.


" Maaf kan ibu nak, ibu sudah membiarkan kamu begitu saja, ibu janji apapun akan ibu lakakukan agar kamu bisa lepas dari sekapan Ridha" ucap Diana yang semakin malaju kan mobilnya menuju pedesaan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2