La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#131


__ADS_3

Tengah malam Reina menggerakkan jari-jarinya, dan tak lama mata Reina terbuka, yang pertama ia rasa kan saat ini adalah kepalanya yang begitu nyeri akibat benturan saat ia terjatuh.


Di tatapnya sekeliling, Ia tahu kalau saat ini dirinya tidak berada di kamarnya, dan Reina langsung melihat ke arah samping dimana suaminya sedang tertidur sambil memegang tangannya yang satunya.


" Mas" panggil Reina dengan suara yang begitu pelan.


Bagas yang memang baru saja tertidur tidak mendengar suara Reina karena tubuhnya juga terasa lelah, Reina mengangkat tangannya yang ada jarum impusnya.


Di raba nya kepala sang suami, Bagas yang merasa kepalanya seperti ada yang mengelus langsung mengangkat kepalanya, mata Bagas yang masih sedikit kabur, samar-samar melihat istrinya yang sudah tersadar.


" Sayang kamu sudah sadar? mas gak lagi mimpi kan?" tanya Bagas sambil mengucek matanya.


Reina hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bagas, Bagas pun langsung bangkit karena ia memang melihat Reina sudah membuka matanya.


" Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, Mas begitu khawatir dengan kamu" ucap Bagas mencium wajah Reina berubi-tubi.


" Kenapa aku bisa ada di sini Mas? apa yang terjadi?" tanya Reina yang masih terasa sedikit pusing di kepalanya.


" Kamu kemarin terjatuh sayang, dan kepala mu membentur ujung tangga, tapi tidak ada msalah lagi, kamu sudah tidak kenapa-napa sayang" jawab Bagas.


" Mas aku haus" ucap Reina yang merasa tenggorokan begitu tandus.

__ADS_1


" Sebentar sayang" sahut Bagas yang langsung mengambil air menirel yang ada di atas nakas.


" Masih tengah malam, sebaiknya kamu tidur lagi, biar kamu cepat pulihnya" ucap Bagas sambil mengelus pipi Reina yang masih terlihat pucat.


Reina menggelengkan kepalanya, " Tidak Mas, Reina ingin ke kamar mandi" ucap Reina yang berusha untuk bangkit, Bagas ingin melarang tapi Reina sudah keburu setenagh duduk, dan tiba-tiba Reina merasa nyeri di bagian pangkal perutnya.


" SSshhttt" desis Reina.


" Sayang kamu kenapa?" tanya Bagas yang langsung merasa khawatir.


" Mas kenapa ujung perut Reina sakit banget" ucap Reina sambil meraba perutnya.


Deg


" Mas kenapa perut ku rata? apa terjadi sesuatu dengan ku saat aku terjatuh?" tanya Reina ahkirnya bersauara.


Deg


Jantung Bagas berdetak kencang mendengar pertanyaan Reina, sebenar nya Bagas ingin memberitahu kan pada Reina kalau Reina sudah sedikit segaran agar Reina bisa menerima nya dengan lapang dada.


" Mas kenapa kamu diam saja, apa yang terjadi dengan ku dan anak kita Mas, kamu bilang tadi aku sudah tidak kenapa-napa? tapi kenapa perut ku sekarang rata, dimana anak kita Mas" ucap Reina dengan air mata yang sudah menetes sambil mengocang tubuh Bagas yang hanya diam mematung di sampingnya.

__ADS_1


Rasa nyeri karena pergerakan bekas operasi Reina pun tidak di rasakan nya karena Reina ingin segera mendengar jawaban yang keluar dari suaminya.


" Mas jawab pertanyaan aku Mas" tanya Reina sekali lagi yang sudah terisak.


Bagas tidak mampu menjawab, Ia hanya bisa memeluk tubuh Reina yang begitu rapuh saat ini, hatinya begitu sakit melihat tangisan yang keluar dari mata Reina.


" Apa mimpi ku itu benar Mas, ayah dan ibu membawa anak kita Mas, sekarang dimana anak kita Mas" tanya Reina sekali lagi.


"Sabar sayang, anak kita sudah tenang di surga, kamu harus bisa mengikhlas kan nya" ucap Bagas ahkirnya bersuara.


" Gak Mas, aku gak mau, bahkan dia belum cukup umur untuk di keluar kan dari dalam rahim ku, kenapa kalian tidak menunggu aku sadar untuk mengeluar kan nya dari dalam perut ku, akan kita pasti masih hidup Mas, Ayah dan ibu ku hanya mengambil nya sebentar" ucap Reina.


Bagas yang melihat istrinya histeris langsung menekan tombol darurat, tak lama para dokter langsung berdatangan dan melihat kondisi Reina yang sudah tidak stabil, dengan cepat dokter menyuntik kan obat penenag agar Reina tidak begitu terguncang.


Selang beberapa detik Reina langsung tak sadar kan diri kembali tepat di pelukan Bagas, Bagas tidak sampai hati melihat keadaan istrinya, hati begitu sakit saat melihat Reina di suntik obat penenang.


Perlahan Bagas menidur kan Reina dan mencium pucuk kepalanya, di hapus nya sisa air mata yang masih mengalir dari ujung matanya.


"Kondisi nona Reina saat ini begitu terguncang tuan, saya berharap Tuan bisa membuat nona Reina bisa menerima keadaan ini, kalau tidak akan berakibat fatal pada mental nona Reina" ucap dokter yang baru saja menyuntikkan obat penenang untuk Reina.


Bagas hanya diam saja tidak menjawab ucapan sang dokter, dia hanya bisa menatap wajah istrinya yang begitu sedih.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi tuan, kalau ada apa-apa segera panggil kami kembali" pamit sang dokter yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Bagas.


Tbc.


__ADS_2