La Tahzan, Jangan Bersedih

La Tahzan, Jangan Bersedih
#110


__ADS_3

Meta yang mendengar bosnya ingin ke perusahaan istrinya langsung mecegahnya, dan membuat Bagas dan Raka langsung menghentikan langkahnya.


" Bos nona Reina sat ini tidak ada di sana, tapi di rumah Bos" teriak Meta dan langsung membuat Bagas dan Raka menghentikan langkah kaki mereka.


" APA" ucap Bagas berbalik badan dan melihat Meta.


" Jadi istriku sudah di rumah?" tanya Bagas kembali.


Meta langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, " Iya bos, Nona sudah dari dua jam lalu di rumah bos" ucap Meta kembali mengatakan kalau nona bosnya sudah di rumah.


" Kenapa kau tidak bilang dari tadi, untung saja aku belum kesana" ucap Bagas dengan kesal.


" Gimana saya mau kasih tahu bos, orang bos dari tadi bicara terus gak ngasih saya kesempatan bicara" sahut Meta.


" Jadi kau menyalahkan aku, ingat ya, bos itu selalu benar, paham kau" ucap Bagas yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Meta dengan lemah.


" Kalau istriku sudah di rumah, lantas kau sedang apa di sini?" tanya Bagas dengan wajah penuh selidik.


" Naaah itu bos, saya sudah dari tadi keliling keliling muter muter kota dan kampung cuma nyari pesanan nona Reina yang begitu sulit bos" ucap Meta memberitahu kenapa dia berada di pinggir jalan saat ini.


" Permintaan? emang Reina minta di belikan apa?" tanya Bagas.


" Lontong sayur bos" ucap Meta memberi tahu yang membuat Bagas dan Raka langsung saling pandang.


" Kamu serius istriku meminta makanan yang sering di buat saat lebaran itu?" tanya Bagas memastikan.


" Iya bos, saya juga sudah keliling keliling buat nyari pesanan nona Reina, tapi sampai sekarang belum ketemu" ujar Meta memberitahu.

__ADS_1


" Aneh, kenapa tiba-tiba Reina minta makanan seperti itu, dan kenapa dia tidak meminta kiko di rumah yang memasaknya" gumam Bagas yang masih bisa di dengar Meta dan Raka.


" Raka kau pergi sama Meta cari pesanan istriku, biar aku pulang sendiri membawa mobil istriku, ingat jangan pulang kalau belum mendapatkan apa yang di inginkan istriku" perintah Bagas yang langsung masuk ke dalam mobil istrinya dan melajukan mobilnya begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Raka dan Meta.


" Kenapa jadi aku sih yang ketiban sialnya, padahal setelah sampai di rumah mau selonjoran" ucap Raka sambil melihat mobil bosnya sudah pergi jauh.


" Ayo tunggu apa lagi, mau bos marah karena kelamaan menunggu pesanan nya" teriak Meta yang sudah berada di samping mobil yang di supirin Raka.


Raka yang mendengar teriakan Meta langsung berdecak kesal dan menatap Meta dengan wajah dinginnya.


" Coba kita ke jalan Iskandar muda saja, tadi aku meliat dari aplikasi kalau ada yang jual makanan itu di sana" perintah Meta.


" Hemmm" sahut Raka hanya dengan dehaman.


Meta yang mendegar sahutan Raka begitu kesal, " Irit banget sih ngomongnya, untung ganteng" gumam Meta melirik Raka yang fokus pada jalanan.


Bagas yang sudah sampai di rumah langsung masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamarnya untuk menemui istrinya, tapi saat sudah sampai di kamar, Bagas tak menemukan istrinya di sana.


Bagas kembali turun ke bawah dan mencari Reina di setiap ruangan, namun lagi-lagi ia tidak menemukan dimana istrinya.


Bagas langsung menanyakan pada pelayan yang kebetulan lewat di depannya, " Apa kau melihat dimana istriku?" tanya Bagas dengan suara berat dan dinginya.


" Nona Reina berada di kolam renang Tuan, sedang bersantai" ucap sang pelayan memberitahu.


Bagas langsung berjalan ke samping ruamhnya untuk melihat dimana istri, dan benar saja, Reina sedang bersantai di kursi santai dengan tangannya memegang ponsel sambil mengunyah roti bakar.


Dari kejauhan Bagas yang melihat istrinya makan dengan begitu lahap langsung menyatukan alisnya, " Tumben banget istriku ngemil sampai sebegitunya, biasanya juga gak pernah" ucap Bagas dengan bertanya-tanya.

__ADS_1


" Sayang" panggil Bagas yang langsung membuat Reina langsung menoleh ke asal suara.


Reina tidak menyahut ucapan Bagas, ia kembali melihat layar ponsel yang ada di hadapanya, dan lagi-lagi Bagas dibuat aneh dengan tingkah istrinya.


" Sayang kok Mas panggil diam aja sih?" tanya Bagas yang sudah duduk di hadapan Reina.


" Reina lagi gak mau di ganggu" ucap Reina dengan wajah dinginnya.


Bagas langsung terkejut mendengar suara dingin istrinya, " Sayang kamu kenapa?" tanya Bagas langsung dan memegang tangan Reina, namun langsung di tepis Reina dengan kasar.


" Uda Reina bilang jangan ganggu, kenapa malah pegang-pegang sih, mending Mas mandi dulu sana, bau banget tau" ucap Reina dengan wajah dingin dan mengusir Bagas.


" Apaa? Mas bau, yang benar saja kamu sayang, bahkan Mas tidak mandi berhari-hari pun gak Bau" sahut Bagas membantah ucapan istrinya.


" Tapi kamu sekarang benar-benar Bau Mas" ucap Reina yang benar-benar merasa eneg dekat dengan suaminya.


Dengan langkah pasti Reina langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggal kan Bagas begitu saja, Bagas pun merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.


Dengan langkah pasti Bagas mengejar Reina untuk bertanya kembali, namun yang di dapat Bagas adalah amukan Reina pada dirinya.


" Sayang heii mau kemana?" teriak Bagas mengejar Reina.


Saat sudah dekat Bagas langsung menarik tangan Reina sehingga Reina langsung jatuh kepelukan Bagas, dengan cepat Reina langsung mendorong tubuh Bagas agar menjauh darinya.


" Mas bisa di bilangin gak sih? kan uda Rein bilang gak mau dekat-dekat dengan mas Bagas, kenapa ngeyel banget sih" marah Reina yang langsung berbalik pergi meninggal kan Bagas yang schok.


" Ada apa dengan istriku?" tanya Bagas merasa heran.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2