
Langkah kaki Nara tampak begitu meragu. Rasa nya ruangan melati yang berada dilantai atas terasa begitu jauh untuk ditempuh olehnya. Dia begitu takut jika bertemu dengan Reynand, bagaimana jika Reynand marah dan benar benar mencampakkan nya karena telah berani menemui ibu dan adiknya? Sungguh, Nara belum siap untuk kehilangan sekarang.
"Nona, ayo. Itu dia kamar nya" Zelina membuyarkan lamunan Nara, dan semakin menambah ketakutan nya. Apalagi ruang kamar itu sudah ada didepan matanya sekarang. Sepi, tidak ada orang sama sekali yang lewat disini
"Aku mengantar kamu sampai disini saja ya" kata Nara akhirnya. Dia sungguh tidak bisa masuk kedalam
"Nona, ayolah, saya ingin memperkenalkan anda pada mama. Dia pasti senang bertemu dengan orang baik seperti anda" Nara tidak bisa bilang apapun lagi ketika lengan nya langsung ditarik oleh Zelina masuk kedalam. Matanya memejam sekilas dan menarik nafas dalam dalam saat Zelina membuka pintu itu.
Sepi?
"Mama" panggil Zelina yang langsung berlari menuju ranjang dimana seorang wanita paruh baya dengan pakaian rumah sakit nya terbaring lemah disana. Hanya ada seorang pelayan dan suster didalam sini. Kemana Reynand? Kemana ayah mereka? Berbagai pertanyaan langsung memenuhi fikiran Nara. Kenapa wanita ini dibiarkan sendiri, apa Reynand tidak tahu jika ibunya sakit?
"Mama kenapa bisa seperti ini?" tanya Zelina yang terlihat menangis sedih mengusap lengan ibunya.
Nara terdiam, berdiri dibelakang Zelina dengan pandangan mata yang fokus pada wanita itu. Wanita yang merupakan ibu mertuanya. Ibu dari suami sirihnya. Ada rasa sedih yang menggelayut dihati melihat keadaan wanita ini. Dia begitu lemah dengan selang yang tertanam dilengan dan dihidung nya, serta perban yang membalut kepala nya.
"Kamu dari mana Ze?" suara nya terdengar lirih memanggil Zelina
"Zelina cari kakak. Tapi Zelina malah nyasar. Sorry ma" jawab Zelina
"Apa ponselnya belum bisa dihubungi?" tanya wanita itu lagi. Zelina langsung menggeleng sedih.
Mencari Reynand. Berarti Reynand tidak pulang malam tadi, lalu dia kemana? Apa kerumah Cloe. Ibunya sakit dan Zelina terjebak hujan karena mencarinya, apa Reynand memang senang membuat hati semua orang menderita?
Nara terkesiap, saat tiba tiba pandangan sendu milik wanita itu beralih menatap nya. Memperhatikan nya dengan lekat, mungkin wanita itu sedang bertanya tanya dalam hati tentang siapa Nara
"Dia nona Nara ma. Nona Nara yang menolong Ze dan mengantar Ze kemari" ungkap Zelina.
Senyum teduh dan begitu menenangkan langsung terpancar diwajah sendu itu, membuat hati Nara seketika berdesir
"Terimakasih sudah berbaik hati nak" ucap wanita itu. Dan Nara hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis
"Apa papa tahu mama sakit?' tanya Zelina. Wanita itu langsung menggeleng pelan dengan senyum tipis nya, namun terasa begitu getir
"Tidak, papa tidak perlu tahu" jawab nya. Seketika, jantung Nara terasa seperti terhantam sesuatu. Kenapa wanita ini berkata seperti itu? Kenapa dia tidak ingin suami nya tahu? Mereka bukan menjalani hubungan yang rumit seperti Nara bukan.
"Ma, papa berhak tahu. Ze sudah mencari kak Rey, tapi tidak ketemu. Dan jika mama tidak memberitahu papa, Ze takut terjadi sesuatu hal yang buruk" ungkap Zelina terdengar sedih
Tangan Nara saling menggenggam dengan erat, ada semburat emosi yang tidak bisa dia tahan. Apalagi melihat dua wanita ini seperti kehilangan arah. Meskipun tidak diakui, namun ini adalah ibu mertuanya, dan Zelina adalah benar adik iparnya. Setidak nya, jika Reynand marah, dia harus tahu keadaan ibunya. Hanya Nara yang tahu dimana keberadaan nya saat ini.
"Mama hanya ingin bertemu Reynand. Dia sudah dua minggu tidak pulang, mama merindukannya" gumam wanita itu. Air mata menetes diwajah nya. Terlihat sedih dan penuh rindu. Sungguh, Nara tidak bisa diam saja
"Maaf menyela, apa anak anda bernama Reynand Adiputra?" tanya Nara. Memberanikan diri bertanya untuk memastikan semua nya
Wanita itu langsung menoleh pada Nara
"Kamu mengenalnya nak?" tanya nya penuh harap.
Nara mengangguk dan mencoba tersenyum tipis
"Kebetulan hari ini perusahaan saya ada meeting dengan perusahaan tuan Reynand. Saya akan memberitahukan nya tentang keadaan anda" kata Nara. Dan dapat Nara lihat, senyum bahagia dan penuh harap langsung terpancar jelas diwajah itu
"Tolong, tolong beri tahu dia, jika saya ingin dia pulang" pinta wanita itu.
Tanpa sadar mata Nara langsung berkaca kaca, dia sungguh tidak tega melihat seorang ibu yang harus menangis seperti ini karena seorang anak yang membuat nya kecewa. Reynand benar benar keterlaluan, dia bahkan jarang berada dirumah Nara, tapi dia juga jarang pulang kerumah orang tua nya.
Tidak punya orang tua itu menyakitkan, tidak ada sandaran ataupun tempat untuk berkeluh kesah. Tapi kenapa Reynand bisa dengan tega pada ibunya. Entah apa yang terjadi, seperti nya hari ini, dia harus berani untuk menemui Reynand ditempat itu.
__ADS_1
.....
Hari sudah beranjak sore saat ini. Namun matahari baru keluar untuk menghangatkan bumi dari beberapa sisi. Ya, lumayan dari pada tidak sama sekali. Kemunculan nya yang terlambat ini juga sudah bisa membuat Nara merasa sedikit terbantu untuk menghangatkan tubuh nya yang sejak semalam kedinginan.
Didepan sebuah rumah mewah bernuansa eropa, Nara berdiri mematung dengan pandangan datar dan dingin nya. Dia benci jika harus menginjakkan kaki dirumah ini, tapi dia juga tidak punya pilihan lain.
Nara pergi sendirian, karena Arya harus tetap tinggal diperusahaan. Bahkan dia masih ingat gerutuan Arya yang melarang nya untuk pergi mencari Reynand. Tapi mau bagaimana lagi, Nara sudah bertekad.
Beberapa orang penjaga gerbang langsung membuka pagar besi yang menjulang tinggi, mereka langsung mengizinkan Nara masuk, karena mereka juga sudah mengenal Nara sejak dulu. Seseorang yang pernah menjadi teman dekat nona mereka, Cleo.
Nara menatap sekilas depan rumah itu, dia menarik nafas nya dalam dalam dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam teras dan berdiri didepan pintu besar.
Dulu, sudah sangat lama, dia sering ketempat ini. Bercengkrama dengan pemiliknya dan saling berbagi cerita satu sama lain sejak kuliah ditempat yang sama.
Namun karena suatu hal, mereka terpecah. Bahkan saling memusuhi hanya karena perkara lelaki. Dan itu terjadi hingga kini. Nara tersenyum miris, mereka pernah sedekat itu, saling melengkapi dan berbagi, namun sekarang, mereka sama sama saling ingin menyakiti dan menguliti.
Nara memencet bel yang terpasang disamping pintu. Menunggu dengan jantung yang tidak beraturan. Bukan saja karena ingin mengunjungi teman lama, tapi juga mengunjungi kekasih suaminya. Sungguh lelucon yang menyakitkan.
Lama Nara berdiri dan menunggu, hingga beberapa menit kemudian seseorang membuka pintu dan tampak terkejut melihat keberadaan Nara.
"Mau apa kamu?" tanya gadis itu dengan begitu dingin dan tajam
Nara memperhatikan tubuh Cleo dengan baik, sehat dan masih segar. Apa nya yang sakit?
"Dimana Reynand?" tanya Nara
Cleo tampak mendengus senyum sinis. Melipat tangan nya didepan dada, dan memandang rendah Nara yang terlihat menyedihkan
"Kamu mencari suami mu? Tidak salah. Apa kamu sudah merindukan dia?" tanya Cleo begitu menghina
"Sebentar lagi dia akan menceraikan kamu. Jadi kamu sudah harus terbiasa mulai dari sekarang. Lihat tubuhmu ini, sudah layu dan menjijikkan. Bahkan Reynand saja sudah tidak ingin lagi menemuimu, apalagi menyentuhmu" remeh Cleo.
Nara menarik nafas nya dalam dalam, jangan sampai dia terbawa emosi. Dia kemari untuk mencari Reynand bukan untuk meladeni perkataan Cleo
"Aku tidak perduli, jika dia menceraikan aku, maka dia juga tidak akan bersamamu" ucap Nara begitu tajam. Mata Cleo tampak mengkilat sadis. Pandangan mata yang biasa nya selalu teduh dan indah itu langsung terasa begitu menghunus jantung Nara
"Kamu tidak akan bisa merebutnya dari ku Anara. Dari dulu sampai sekarang, bahkan saat dia sudah menikahimu pun kamu tetap tidak bisa memiliki semua nya" hina Cleo begitu menusuk
Anara memejamkan matanya sesaat, dan membalas tatapan itu dengan berani
"Katakan dimana Reynand" kata Nara
"Tidak perlu kamu tahu!" jawab Cleo
"Cleo" bentak Nara. Namun Cleo langsung tertawa sinis
"Kamu tidak berhak tahu, pergi!" usir Cleo mendorong tubuh Nara, tidak memerlukan tenaga namun Nara sudah jatuh terduduk dengan ringisan diwajah nya, dan itu menunjukan jika tubuhnya memang tidak baik baik saja
"Lihatlah, kamu sudah melemah dan hampir mati bukan. Lalu untuk apa lagi mengharapkan Reynand. Reynand itu milikku, dan kamu hanya sampah yang tidak berguna" kata Cleo begitu kejam
Nara berdiri melawan rasa sakit dipinggang nya, menatap Cleo dengan kebencian yang begitu mendalam.
"Kamu memang membuat ku hampir mati Cleo, tapi kamu juga harus ingat kamu hidup dari darahku" ucap Nara dengan rasa sakit yang tak terbendung. Bukan hanya sakit fisik namun juga hatinya
"Darahmu, darahmu yang tidak berguna itu. Heh, percaya diri sekali" gumam Cleo
Mata Nara melebar sempurna
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Nara
Cleo hanya mengendikkan bahu nya dan menatap Nara masih dengan pandangan sinis
"Kamu tahu, sejak saat itu perang diantara kita sudah dimulai, dan peperangan ini akan aku mulai dengan cara apapun untuk mengalahkan lawanku" jawab Cleo
Nara diam, dia tidak mengerti apa yang diucapkan Cleo, dia memang tahu jika Cleo licik, tapi apa maksud perkataannya?
Sudahlah, masa bodoh dengan itu, saat ini Nara hanya harus mencari Reynand.
"Reynand!" panggil Nara mencoba menerobos masuk kedalam rumah namun Cleo langsung menahan nya
"Jangan coba coba menginjak rumah ku ******!!" bentak Cleo begitu kejam
"Aku ingin bertemu Reynand Cleo" sahut Nara
"Tidak boleh, pergi kau" bentak Cleo lagi
Nara ingin masuk kembali, namun entah apa yang terjadi, tiba tiba Cleo jatuh terduduk dengan wajah yang seperti menahan sakit. Nara yang berdiri dihadapan nya tampak mengernyit bingung. Ada apalagi dengan Cleo, padahal dia hanya mendorong sedikit tubuh nya.
"Apa yang kau lakukan Nara!!!!!" sebuah teriakan menggelegar langsung membuat tubuh Nara menegang. Nara berbalik badan dan menatap Reynand yang sudah berdiri dihadapan nya dengan wajah memerah dan begitu marah
"Rey, sakit" ucap Cleo memegangi perut nya
Reynand langsung mendorong tubuh Nara dengan kuat hingga Nara jatuh dan terbentur dinding. Mata Nara menyelis sedih saat melihat Reynand dengan begitu lembut memeriksa tubuh Cleo yang bahkan tidak terluka sedikitpun.
Hatinya lagi lagi harus diterkam kesakitan, dia tahu ini akan terjadi. Tapi selalu saja tidak bisa tertahan sakitnya.
"Mau apa kau kemari ha" bentak Reynand, dia masih merangkul tubuh Cleo yang bersandar padanya
"Aku ingin kau pulang" pinta Nara menahan sakit yang begitu menggigit. Wajah nya bahkan sudah pucat karena menahan sakit, namun Reynand seolah tidak perduli, yang dia perdulikan hanya Cleo
"Kau tidak dengar perkataan ku semalam ha?" tanya Reynand lagi
"Rey, kumohon" pinta Nara dengan wajah memelas. Lagi lagi dia menjatuhkan harga dirinya
"Rey, aku membutuhkan mu. Tolong jangan pergi" ucap Cleo pula. Sungguh Nara begitu jijik melihat sandiwara Cleo, ingin rasanya dia mencabik wajah cantik yang penuh kepalsuan itu
"Pergi Nara!" usir Reynand
Nara menggeleng pelan dan berusaha untuk bangun dengan kepayahan
"pergi!" bentak Reynand lagi
"Rey, jika tidak untukku, tapi pulang lah untuk ibumu" kata Nara saat Reynand ingin membawa Cleo masuk kedalam rumah
Langkah kaki Reynand tertahan, dia menoleh pada Nara dengan kilatan mata yang tajam
"Ibumu masuk rumah sakit pagi tadi. Dia ingin bertemu dengan mu" kata Nara lagi
"Kamu berbohong" sahut Cleo
"Kamu bisa menghubungi orang dirumah mu Rey. Aku kemari hanya untuk memberitahu itu. Aku sudah berjanji tidak akan menganggumu, tapi aku tidak bisa membiarkan seorang ibu merindukan anak lelakinya" ucap Nara.
Dengan kepayahan dan mata yang mulai mengabur, Nara beranjak pergi meninggalkan Reynand yang tampak terdiam ditempat nya. Bahkan Nara masih mendengar perkataan Cleo yang mencoba mempengaruhi otak Reynand.
Sakit sekali rasanya, dan Nara tidak bisa bertahan lebih lama disana. Dia tidak ingin Reynand dan Cleo tahu jika dia hampir mati merasakan kesakitan ini
__ADS_1