
Reynand dan Nara memandangi surat kuasa dan aset kepemilikan Adidaksa. Mata tajam Reynand begitu serius memandangi surat surat itu. Sejak tadi mereka sudah berada disuatu ruangan rahasia milik kakek Reynand. Dan memang, sejak dulu hanya Reynand lah yang tahu kode ruangan itu dan brangkas nya.
Arya memandangi kedua orang itu dengan bosan. Pasalnya sudah sejak tadi mereka hanya duduk bersebelahan dan membaca surat itu. Isinya tidak mungkin berubah kan? Lalu kenapa masih saja ingin dipandangi? Aneh sekali.
Karena bosan, Arya langsung beralih dan melihat brangkas kecil itu. Cukup unik, desain nya simple namun sangat rumit untuk membuka nya. Mungkin dulu kakek Reynand menyimpan uang didalam sini, atau emas batangan seperti harta tersimpan yang pernah dikatakan oleh Guntur.
Tangan usil Arya mulai membongkar bongkar surat yang ada disana, sesekali dia melirik kearah Reynand yang masih serius dengan surat ditangan nya.
Tidak ada lagi yang penting didalam sana, hanya surat surat kepemilikan properti dan yang lain.
Namun ada satu yang menarik perhatian Arya. Sebuah amplop surat yang terselip diantara berkas berkas itu. Apa itu surat cinta kakek Reynand???
Karena penasaran, Arya membuka nya, masih di lem dengan rekat. Sepertinya, sejak ditulis, belum pernah lagi terbuka. Bahkan Arya membuka nya dengan sangat hati hati agar amplop itu tidak rusak dan juga robek.
Mata Arya mengernyit saat mendapati sebuah foto dua orang lelaki muda yang wajahnya sangat mirip, bahkan jika diperhatikan semua nya nampak sama.
"Hei tuan muda. Apa ini tuan besar dan saudara nya?" Arya akhirnya beranjak dan mendekat kearah Reynand.
Reynand langsung menoleh pada Arya dan melihat sebuah foto yang diserahkan oleh Arya.
"Dapat dari mana kamu?" tanya Reynand seraya menilik foto tersebut.
"Terselip dibrankas. Ada surat nya juga" jawab Arya seraya menyerahkan amplop yang berisi selembar kertas kehadapan Reynand.
Reynand langsung meraih kertas itu dan membuka nya perlahan. Mata tajam nya tiba tiba memicing saat membaca setiap tulisan manual yang ditulis dengan tinta merah. Nara dan Arya yang penasaran langsung mendekat kearahnya dan ikut membaca surat itu.
'Aku merindukan putraku yang cerdas namun kejam. Dan sekarang sepertinya dia telah kembali. Namun kembali dalam keadaan yang berbeda. Jika waktu bisa diulang lagi, aku tidak akan mengulangi kesalahan ku terdahulu yang akhirnya menjadikan nya seperti manusia yang tidak memiliki welas asih seperti sekarang.
Kini dia datang dan menuntut balas,
membuatku tidak berdaya dan akhirnya menyerah.
Untuk anak dan cucuku,
semoga kalian bisa berdamai kembali.
Maafkan pria tua ini'
feb,19
Reynand meletakkan surat itu diatas meja dengan wajah yang memucat. Tangan nya bergetar dan saling menggenggam dengan erat. Dia tahu ini adalah tulisan tangan asli kakek nya. Dan februari adalah bulan dimana kakek nya pergi. Apa mungkin kakek Reynand telah mengetahui jika yang ada bersama mereka adalah paman nya, tuan Agas???
"Bukan kah itu itu empat tahun yang lalu Rey?" tanya Nara memandang Reynand dengan lekat.
"Ya, itu adalah bulan dimana kakek pergi. Berarti dia sudah mengetahui jika paman Agas ada bersama kami. Dan kemungkinan besar jika papa lah yang mereka sekap Nara" jawab Reynand dengan nafas yang mulai memburu.
"Apa mungkin tuan Agas bekerja sama dengan tante Guzel untuk menghancurkan keluarga kalian?" gumam Nara.
"Bisa jadi. mereka mempunyai tujuan yang sama, jadi untuk menyempurnakan misi, mereka bergabung" sahut Arya pula.
__ADS_1
"Jika itu benar paman, kenapa dia bisa begitu tega" gumam Reynand tidak habis fikir.
"Dari isi surat ini sudah jelas Rey, jika paman mu menyimpan dendam karena suatu alasan" ungkap Nara.
Reynand terdiam sejenak, namun beberapa detik kemudian dia langsung beranjak dari duduk nya.
"Kita kerumah itu sekarang Nara" ajak Reynand.
Nara langsung mengangguk dan berdiri menyusul Reynand. Namun sebelum pergi, Reynand lebih dulu menyimpan kembali apa yang dia temukan hari ini kedalam brankas dan mengunci nya kembali. Jangan sampai aset penting ini ditemukan oleh paman nya. Ya, Reynand masih tidak menyangka jika yang ada bersama mereka selama ini adalah paman Agas. Lalu dimana mereka menyembunyikan ayahnya???
"Hei, kita tidak jadi makan dulu???" tanya Arya seraya mengikuti langkah kaki Reynand dan Nara.
"Nanti Yo" sahut Nara
....
Hampir dua jam kemudian, Nara dan Reynand sudah berada didepan sebuah rumah besar, namun terlihat begitu menyeramkan. Bahkan semak belukar sudah menumbuhi disekitar rumah itu. Sepertinya rumah ini sudah tidak lagi terawat setelah paman Reynand dipenjara waktu itu.
Arya bahkan sampai bergidik ngerih memandang nya.
"Kita masuk?" ajak Nara sedikit ragu. Apa lagi melihat wajah Reynand yang sudah nampak lain. Sepertinya meski dia mencoba untuk melawan rasa traumanya, namun itu tetap tidak berlaku.
Reynand menarik nafas nya dalam dalam dan mengangguk pelan.
"Aku tunggu disini saja" ucap Arya dengan cepat. Dia benar benar takut untuk masuk kedalam sana. Dari luar saja penampakan rumah ini sudah menyeramkan, sudah seperti rumah hantu yang begitu angker, bagaimana lagi keadaan didalam nya.
Arya nampak kelabakan dan meringis memandang Nara, dia menggeleng dengan kuat namun saat melihat kode dari Nara yang melirik Reynand dengan kedipan mata, Arya mau tidak mau mengalah dan akhirnya mengangguk pasrah.
Yah, tuang angkuh ini tidak akan berkutik jika sudah menyangkut trauma nya. Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi, sewaktu melihat darah Nara saja dia sudah hampir mati dulu, apalagi ini yang melihat tempat itu langsung. Apa dia tidak akan benar benar mati??? oh my god. Jangan sampai. Jika iya rumah ini akan benar benar berhantu.
Dan akhirnya, mereka mulai berjalan masuk dengan tangan yang sudah memegang ponsel masing masing. Arya membuka pintu itu dan mendorong nya dengan kuat. Bunyi engsel yang sudah berkarat dan juga pintu yang sudah lapuk benar benar memekakkan telinga. Pintu nya sudah tidak lagi terkunci, mungkin karena sudah begitu tua.
Saat kaki mulai melangkah masuk, aura pekat langsung meraba tubuh mereka hingga seluruh bulu kuduk langsung meremang. Arya bahkan sudah mendekat kearah Nara yang kini ada ditengah tengah mereka.
"Gila, seram banget" gumam Arya dengan tubuh yang mulai bergetar takut. Apalagi didalam sangat gelap, hanya pencahayaan sinar ponsel mereka yang ada didalam sana. Barang barang antik dan juga patung patung manusia dan kepala binatang menambah kesan horor didalam rumah itu.
Nara memandang wajah Reynand yang nampak tegang, lelaki ini hanya diam saja sejak masuk tadi. Nara tahu, jika Reynand bukan takut dengan suasana rumah ini, melainkan dia takut dengan rasa trauma nya.
"Nara, pulang aja yuk" ajak Arya yang kini malah merangkul lengan Nara. Namun Nara langsung menepis nya dan memandang Arya dengan kesal. Bukan nya menenangkan Arya alah menambah suasana menjadi buruk. Sepertinya hanya dia yang masih waras disini.
"Jangan gitu dong Yo, kamu laki tapi penakut banget. Ini bukan cerita horor, gak akan ada hantu disini" kata Nara begitu kesal.
"Gak ada embahmu, tempat seseram gini dibilang gak ada. Mana udah lama gak ditinggali lagi" gerutu Arya seraya terus berjalan mengiringi langkah kaki Nara dan Reynand. Tangan nya terus mengarahkan senter ponselnya kesegala arah. Dan disetiap senter itu menangkap bayangan bayangan aneh dari patung patung yang ada disana, Arya langsung mengalihkan nya dengan cepat.
Sedangkan Nara kembali menoleh pada Reynand, yang entah kenapa dia merasa tubuh lelaki ini begitu tegang.
"Rey" panggil Nara
Reynand menoleh kearah Nara dan mencoba tersenyum, namun Nara tahu jika wajahnya sudah memucat dan nafasnya mulai bergemuruh.
__ADS_1
Nara tersenyum dan langsung merangkul lengan Reynand dengan lembut.
"Kamu pasti bisa, ada aku" ucap Nara.
"Ya" jawab Reynand dengan helaan nafas yang cukup berat. Karena memang, dia benar benar sudah tidak bisa menetralkan perasaan nya ini. Entah kenapa, rasa takut, sakit dan semua yang pernah dilihatnya dulu kini kembali terngiang dengan jelas diotaknya, dan itu sungguh membuat Reynand tidak berdaya. Dia benar benar membenci perasaan ini.
Namun rangkulan hangat dari Nara dan senyum tulusnya membuat Reynand bisa sedikit lebih tenang. Berulang kali dia menarik nafasnya dalam dalam mencoba untuk melawan rasa trauma nya. Meski sungguh, ini benar benar berat.
Reynand membawa Nara dan Arya untuk menyelusuri ruangan demi ruangan yang ada dirumah itu. Dan memang benar, jika rumah ini sudah pernah terjamah oleh seseorang dalam waktu dekat. Reynand sungguh berharap jika ayahnya masih hidup dan dia tidak terlambat untuk menolong nya. Reynand benar benar menyesal tidak pernah menyadari perubahan besar dalam sifat ayahnya. Yang dia kira orang yang ada bersama mereka adalah ayahnya yang telah berkhianat, namun nyatanya, itu adalah pamannya sendiri.
Satu persatu ruangan sudah mereka geledah, namun tidak ada apapun yang mereka temui. Bahkan dikamar paman Agas juga tidak ada apapun. Hanya ruangan kosong yang sudah sangat berdebu dan tua.
Saat ini mereka sudah berada dibagian belakang rumah, dimana semak belukar sudah menutupi halaman belakang itu. Bahkan puing puing sisa kandang kuda dan peliharaan pamannya dulu sudah tidak lagi nampak sisinya.
"Tidak ada apapun disini, sebaik nya kita pulang saja. Aku benar benar sudah tidak tahan" ucap Arya seraya mengusap keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Begitu pula dengan Nara. Berada didalam rumah yang sudah tidak lagi berpenghuni selama belasan tahun membuat mereka benar benar sesak nafas. Belum lagi rasa takut dan juga was was dengan aura rumah yang benar benar menyeramkan.
Nara memandang kearah Reynand, mata lelaki itu memandang halaman belakang rumah itu dengan lekat. Hari sudah hampir senja, dan matahari juga sudah mulai meredup hingga membuat suasana disana semakin bertambah horor saja.
"Kalian lihat disemak itu seperti ada bekas jalan yang pernah dilewati" Reynand berucap seraya matanya masih terus memandang kearah sana. Tangan nya mengepal kuat mengingat apa yang pernah terjadi hampir sebelas tahun silam dikolam penuh darah itu.
Nara dan Arya langsung memandang dan menelisik kedepan, dan memang benar disana seperti sebuah jalan yang pernah dilewati karena rumput nya yang rebah dan membentuk sebuah jalan setapak.
"Apa ada sesuatu disana? Bagaimana kalau anda pingsan tuan muda. Saya tidak ingin membawa anda pulang" ucap Arya begitu tega.
Nara langsung menyikut lengan Arya dan memandang nya dengan kesal.
"Disana tempat dia menyembunyikan sesuatu" kata Reynand yang sama sekali tidak menghiraukan perkataan Arya.
"Kamu yakin akan melihat kesana, kalau kamu tidak kuat, biar kami saja Rey" ujar Nara. Namun Arya langsung menggeleng dengan wajah frustasi nya.
"Hanya aku yang tahu tempat itu. Lagipula aku rasa tempat itu juga sudah tertutup dengan semak. Tidak apa apa, hari sudah mulai senja, kita harus cepat" jawab Reynand.
Nara mengangguk dan kembali memandang kearah Arya.
"Ayo" ajak Nara.
Arya mendengus kesal dan mau tidak mau akhirnya dia mengikuti Nara dan Reynand. Hari sudah mulai gelap dan mereka masih ada dirumah angker ini. Astaga, sepertinya Arya memang harus menyiapkan hatinya untuk lebih kuat. Apalagi melihat Reynand yang mulai berbeda.
Reynand berhenti sejenak seraya menarik nafasnya dalam dalam, keringat dingin mulai merembes membasahi dahi dan tubuhnya. Wajahnya semakin memucat dan itu membuat Nara menjadi semakin cemas.
"Rey.." panggil Nara yang berjalan agak sedikit dibelakang Reynand.
Reynand menoleh kearah Nara dan langsung meraih tangan Nara. Menggenggam nya dengan erat seolah mencari kekuatan disana. Sungguh, dia benar benar lelaki yang begitu lemah saat ini.
"Bantu aku ya" pinta Reynand. Bahkan nada suara nya terdengar begitu bergetar. Tangan Reynand bahkan juga sudah sangat dingin.
Nara membalas genggaman tangan itu dan tersenyum memandang Reynand.
"Kamu kuat, ayo. Kamu bisa pasti melawan nya. Demi papa kamu" ujar Nara.
__ADS_1