
Siang ini Nara dan Reynand sudah berada didalam perjalanan menuju komplek perumahan asing yang pernah didatangi Nara waktu itu. Mereka pergi bersama Arya, karena Reynand takut jika terjadi sesuatu tidak ada yang melindungi Nara. Dia benar benar tidak berguna untuk sekarang, melindungi diri sendiri saja belum mampu, bagaimana bisa melindungi Nara. Kejadian semalam sore masih membuat mereka was was sebenarnya, namun jika masalah ini tidak sedera diselidiki maka mereka takut jika akan semakin rumit. Guntur sudah banyak membantu, dan sepertinya asisten Adidaksa itu ingin mereka berbagi tugas, meski sampai saat ini semua masih menjadi misteri.
Awal februari ini cuaca cukup cerah sehingga setelah mengurus perusahaan sebentar pagi tadi mereka langsung bergerak untuk mendatangi perumahan ini.
Saat mobil memasuki area komplek perumahan asing ini, mereka lagi lagi dibuat heran karena sama sekali ini seperti komplek perumahan yang sudah tidak lagi berpenghuni. Bahkan aura nya juga terasa menakutkan karena rumah rumah asing yang sudah tua dan tidak lagi terawat.
"Sebenarnya apa yang kita cari disini?' tanya Arya. Dia mulai melambankan laju mobilnya.
"Jalan saja sampai rumah paling ujung Yo" ujar Nara.
"Aku bahkan baru tahu jika ada komplek perumahan seperti ini di kota ini" gumam Reynand yang duduk disebelah Nara, matanya masih memandangi rumah rumah tua itu. Sangat estetik sebenarnya, bentuk bangunan khas jaman Eropa. Namun karena sudah usang dan tua semua jadi terlihat menyeramkan.
"Tempat ini memang cukup jauh dari pusat kota" jawab Nara.
"Tapi jika dihidupkan lagi, sepertinya ini bagus tuan" sahut Arya dari depan.
"Kamu benar, aku juga berfikir seperti itu. Tinggal hanya direnovasi sedikit, aku yakin banyak yang berminat" jawab Reynand.
Nara langsung mendengus gerah mendengar itu.
"Bisakah untuk tidak membicarakan bisnis disaat seperti ini. Lagi pula siapa yang mau membeli, tempatnya saja sudah seperti rumah keramat begini karena terlalu lama ditinggalkan" ungkap Nara.
Reynand dan Arya langsung tertawa kecil mendengar itu.
"Hanya berandai andai saja" ucap Reynand.
"Ya, dari pada takut jika tidak ada yang dibahas. Kamu tidak lihat ini bulu rambut ku sudah merinding semua, tempat ini pasti berhantu" ungkap Arya pula.
"Berisik Yo, itu sebelah kanan rumah nya" Nara langsung menunjuk rumah sebelah kanan yang ada dipaling ujung komplek perumahan itu.
"Gak ada orang" gumam Arya.
"Kita lihat saja, mudah mudahan memang tidak ada orang nya supaya kita bisa mencari petunjuk didalam sana" ujar Reynand.
Arya mengangguk dan langsung memutar setir mobil nya memasuki pelataran rumah asing itu.
Setelah mobil berhenti Nara turun lebih dulu disusul oleh Arya dan juga Reynand. Mereka memandangi rumah tua itu yang sepertinya memang sudah tidak berpenghuni lagi. Pintu rumah itu terlihat terkunci dari luar. Tapi dapat mereka lihat jika tapak sepatu masih membekas jelas diteras rumah yang kotor itu. Sepertinya saat hujan semalam ada yang datang kerumah ini.
Nara dan Reynand langsung naik keteras dan memandangi pintu yang terkunci.
"Yo, coba kamu bobol saja, sepertinya ini tidak terlalu kencang karena gembok nya juga sudah berkarat" ujar Reynand.
"Ck, sudah seperti maling saja" gerutu Arya yang langsung kembali kemobil untuk mengambil sesuatu.
"Kamu yakin kita masuk Rey?" tanya Nara.
Reynand langsung mengangguk yakin.
"Kalau kamu takut, kamu bisa menunggu diluar Nara, biar aku saja yang masuk. Sepertinya didalam memang tidak ada orang, aku hanya ingin menemukan sebuah petunjuk atau bekas peninggalan mereka disini" ujar Reynand.
"Tidak, aku akan menemani mu. Biar Arya saja yang berjaga diluar" kata Nara.
"Baiklah" jawab Reynand.
__ADS_1
Arya datang dengan membawa kunci dongkrak mobil, dan dia langsung saja mendekat kearah pintu. Memukul dengan kuat gembok besar yang merantai pintu besar itu. Sepertinya knop pintu sudah tidak lagi berfungsi, maka orang orang itu menggembok dan merantai pintu besar ini.
Klang....
Dengan sekali pukul saja, gembok dan rantai itu langsung jatuh kelantai. Reynand langsung mendorong kuat pintu itu hingga menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga. Pintunya sudah sangat tua dan berkarat hingga suara yang ditimbulkan begitu berisik, atau karena suasana yang terlalu sunyi??
"Kamu tunggu disini Yo, kalau ada apa apa panggil kami" ujar Nara.
Arya terkejut mendengar itu.
"Lah aku ditinggal sendirian disini, kalau aku diculik gimana???" tanya Arya dengan wajah menyebalkan nya itu.
Reynand dan Nara langsung mendengus gerah mendengar perkataan Arya.
"Siapa yang mau menculik kamu, tidak laku dijual. Sudah lah, jangan kemana mana" kata Nara yang langsung masuk menyusul Reynand kedalam.
Arya langsung mencebikkan bibirnya dengan kesal. Dia kembali memandang area rumah itu, yang walaupun siang tapi entah kenapa begitu menyeramkan. Arya bahkan menjadi takut sekarang.
"Sialan memang mereka, mau nya berdua duaan saja" gerutu nya seorang diri.
...
Didalam rumah, Nara dan Reynand memperhatikan lekat lekat isi didalam rumah itu. Sama seperti rumah mewah pada umumnya, namun semua barang barang nya sudah ditutupi oleh kain putih. Ruang tengah itu nampak begitu gelap karena lampu yang tidak dihidupkan atau memang sudah rusak.
Mereka berjalan perlahan untuk masuk lebih dalam keruangan selanjutnya. Ruangan yang nampak berdebu dan benar benar tidak terawat.
"Kalau mengitari satu rumah aku yakin akan memakan waktu lama Rey" gumam Nara seraya membuka sebuah pintu yang mereka lewati, tidak ada apa apa, kosong, hanya tinggal pajangan guci yang sudah pecah.
"Tidak apa apa, aku yakin ada sesuatu disini. Mereka pasti baru datang semalam, jejak kaki basah masih ada didepan tadi. Kita hanya harus melihat dimana mereka duduk atau bahkan melakukan sesuatu" ujar Reyanand.
Satu persatu ruangan dan kamar mereka buka, tidak ada yang dikunci sama sekali. Entah dimana tempat orang orang itu bertemu, tidak ada jejak sama sekali sampai saat ini. Bahkan mereka kini sudah berada diruang dapur.
"Apa dilantai atas Rey?" tanya Nara
Reynand langsung memandang kelantai atas dimana anak tangga yang tidak terlalu tinggi menuju kesana.
"Kalau kamu tidak bisa, biar aku yang melihat" tawar Nara, namun Reynand langsung menggeleng.
"Tidak, aku bisa. Ayo" ajak Reynand. Mana mungkin dia membiarkan Nara sendirian keatas, yang benar saja.
"Kamu yakin?" tanya Nara
Reynand tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, kaki ku sudah cukup kuat. Tapi... bisakah kamu merangkul lengan ku" pinta Reynand memandang Nara dengan lekat.
Nara mendengus senyum dan menggeleng pelan.
"Kamu mau modus kan" ucap Nara.
Reynand tertawa dan menggeleng, seraya mereka yang berjalan menuju tangga dirumah itu.
"Tangan kiri ku memegang ponsel, jadi aku tidak bisa berpegangan, bagaimana jika aku jatuh" ucap Reynand.
__ADS_1
" Ya tidak apa apa, yang sakit kan kamu, bukan aku" jawab Nara dengan senyum lucunya, apalagi melihat wajah terkejut Reynand.
"Nara...." panggil Reynand dengan gemas.
Nara tertawa tertahan dan langsung merangkul lengan Reynand dengan erat.
"Aku bercanda" ucap Nara
"Aku tahu" balas Reynand.
Mereka langsung tertawa bersama dan mulai melangkahkan kaki menaiki anak tangga itu satu persatu. Tanpa tahu didepan Arya sedang ketakutan karena ada seseorang yang datang dengan wajah datarnya.
Cukup lama Nara dan Reynand menapaki anak tangga itu karena kaki Reynand yang masih berdenyut, ditambah dengan pencahayaan yang gelap dan hanya menggunakan sinar ponsel saja. Jadi mereka harus lebih berhati hati.
Dan setelah sekian lama, akhirnya kaki mereka menapak keatas lantai dua. Dan mereka langsung disuguhkan dengan tiga ruangan yang saling berjajar. Tapi ada satu ruangan yang langsung menjadi perhatian mereka. Sebuah ruangan yang tampak terang, sepertinya lampu memang dihidupkan dikamar itu. Tidak seterang lampu biasanya, mungkin hanya lampu tidur saja.
"Kita kesana?" ajak Nara.
"Ya" jawab Reynand.
Mereka langsung berjalan perlahan mendekati ruangan itu, entah kenapa semakin mendekat kekamar itu jantung mereka semakin berdetak tidak beraturan. Apa dikamar itu ada orang nya?? Atau itu kamar yang biasa mereka tempati untuk berbuat......???? Astaga, entah lah.
Nara mencoba membuka kamar itu dengan ragu, namun memang tidak dikunci. Dan lagi lagi suara deritan pintu terdengar begitu nyaring.
Reynand langsung masuk kedalam mendahului Nara, matanya memicing saat melihat itu hanya sebuah kamar biasa dengan ranjang ditengah tengah nya. Tidak ada yang spesial, bahkan hanya sebuah ranjang yang mengisi kamar itu. Tapi kenapa hanya lampu dikamar ini yang hidup? Apa memang benar jika disini adalah tempat mereka memadu kasih???
Tangan Reynand langsung menggenggam tongkat nya dengan erat, bahkan hanya dengan membayangkan nya saja dia sudah benar benar jijik. Reynand benar benar semakin membenci tua bangka itu sekarang. Bisa bisa nya menyediakan tempat seperti ini hanya untuk berduaan dengaan wanita itu. Sialan memang!
"Rey" panggilan Nara membuat Reynand sedikit terkesiap. Dia langsung memandang kearah Nara yang berada didekat sebuah dinding dan memandangi dinding itu dengan lekat.
"Ada apa?" tanya Reynand.
"Ini seperti sekat, aku yakin dinding ini bisa bergeser atau terbuka" ungkap Nara
Reynand meraba dinding itu dan mengetuk nya perlahan lahan, dan memang suara nya terasa nyaring seperti ada ruang didalam sana.
Nara dan Reynand mulai mencari tombol atau apapun yang bisa membuka dinding ini. Bahkan mereka sampai harus mengitari satu kamar itu untuk mencari sesuatu. Hingga Reynand mencoba memencet saklar lampu dan membuat dinding itu langsung bergeser sedikit.
"Nara terbuka" ucap Reynand, Nara segera mendekat kearah nya.
Mereka menarik dinding itu bersama hingga bisa terbuka sedikit, sepertinya fungsi nya sudah macet karena sudah lama. Lagi lagi didalam begitu gelap hingga Reynand harus menghidupkan senter ponsel nya. Mereka masuk bergantian hingga saat tiba didalam, mata mereka langsung melebar sempurna.
Bagaimana tidak, jika yang ada disana adalah tempat bekas memasung orang yang sudah terbengkalai. Bahkan kayu dan rantai nya sudah tergeletak begitu saja.
"Ya Tuhan, apa mereka memang masih menyekap orang itu?" gumam Nara begitu lemas
"Siapa yang mereka sekap disini?" kata Reynand pula. Sungguh ini benar benar membingungkan.
Hingga suara pintu kamar yang terbuka dengan paksa membuat mereka berdua benar benar terkejut.
"Rey, siapa itu" bisik Nara yang langsung merapat kearah Reynand. Dia jadi takut sekarang.
Reynand langsung berjalan kearah pintu masuk untuk mengintip siapa yang datang. Kaki nya berjalan perlahan, namun detak jantung nya yang terdengar begitu bergemuruh. Jangan sampai mereka tertangkap basah disini, jika tidak, maka habislah sudah.
__ADS_1
Nara mengikuti langkah Reynand perlahan, bahkan dia memegangi kemeja Reynand sangking takut nya. Dan saat mengintip keluar, mereka langsung dikejutkan dengan seseorang yang berdiri memandang mereka dengan lekat, ditangan nya membawa sebuah kapak berukuran sedang yang terlihat sudah berdarah.
"Sedang apa kalian disini??????" tanya lelaki itu.