
Senja telah berganti malam, sinar matahari yang hari ini cerah juga sudah berganti dengan gelap nya langit yang tampak berbintang. Sangat indah untuk oktober yang seminggu ini sudah selalu dirundung hujan dan gerimis. Semesta bahkan tahu jika saat ini ada hati yang sedang berdamai kembali, ada hati yang sedang mencoba menerima kembali takdir dan menjemput kebahagiaan nya.
Siapa yang menyangka jika cinta yang dikira hanya selalu membuat luka, namun kini terasa mulai bersemi kembali. Roda selalu berputar, sekuat apapun untuk mengendalikan nya, jika sudah waktunya dia berputar, maka semua nya pasti bisa berubah.
Sakit yang selalu dirasa juga tidak akan selama nya ada, meski kebahagiaan tidak bisa diraih dengan mudah. Masih ada banyak batu terjal yang mesti dilewati untuk mencapai kebahagiaan seperti yang ada didalam setiap doa.
Oktober kali ini, adalah oktober pertama bagi Nara dan Reynand setelah dua belas tahun yang lalu. Oktober pertama dimana tidak ada rasa benci dan kesalahpahaman yang mendera. Ini adalah oktober pertama mereka untuk memulai semuanya kembali.
Senyum Nara adalah keindahan bagi Reynand. Sedangkan senyum Reynand adalah kebahagiaan bagi Nara. Hal yang harus selalu mereka satukan jika ingin bersatu kembali.
"Aku merindukan madeleine mu" ucap Reynand.
Nara tersenyum memandang Reynand. Saat ini mereka sudah berada dihalaman belakang rumah Reynand. Duduk berdua memandangi langit malam yang cukup cerah, ditemani oleh secangkir teh hangat buatan mama. Mereka baru saja selesai makan malam bersama bertiga, sedangkan Zelina belum pulang bekerja.
"Besok aku akan membuatkan nya" kata Nara
"Benarkah?" tanya Reynand. Nara mengangguk dan tersenyum.
Reynand memalingkan wajahnya dan memandang keatas dimana begitu banyak bintang membentuk sebuah rasi yang indah.
"Andai waktu bisa di ulang, mungkin cerita kita tidak akan seperti ini bukan" ungkap Reynand tiba tiba.
Nara menghela nafas dan kembali memandang Reynand.
"Sampai kapan kamu akan mengandalkan kata kata 'andai' itu Rey??" tanya Nara
Reynand tersenyum dan menoleh pada Nara.
"Sampai aku bisa menebus semua kesalahan ku padamu" jawab Reynand
"Kamu sudah menebusnya" jawab Nara. Namun Reynand langsung menggeleng.
"Tidak, sedikitpun belum. Yang ku lakukan hanyalah memperbaiki apa sudah yang aku rusak dan aku hancurkan. Tapi sampai saat ini aku belum menebus kesalahan ku padamu sedikitpun" jawab Reynand.
Nara masih diam dan memandang Reynand dengan lekat.
"Jika aku sudah bisa membahagiakan mu, mungkin rasa bersalah ini akan bisa sedikit berkurang" kata Reynand lagi.
Reynand kembali memandang jauh kedepan dan menarik nafasnya dalam dalam.
"Apa kamu mau mendengar cerita ku?" tanya Reynand
"Tentang Cleo?" tebak Nara.
Reynand mendengus senyum dan mengangguk.
"Empat tahun yang lalu, mungkin lebih jika dihitung sekarang, disebuah club malam, tempat itu adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan Cleo" Reynand mulai membuka cerita nya. Sedangkan Nara masih diam dan menunggu cerita selanjutnya, sedangkan otak nya langsung tahu dimana club malam yang dimaksud oleh Reynand itu. Club itu adalah club malam milik sahabat ibu Cleo.
"Kakek yang baru meninggal karena kecelakaan membuat aku begitu sedih dan terpukul, karena sejak aku kecil aku lebih sering tinggal bersama kakek, apalagi sejak aku tamat SMA, hidupku hanya bersama kakek." Reynand menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia kembali memandang Nara dan tersenyum tipis
__ADS_1
"Waktu itu aku mabuk parah, dan itu adalah kali pertama aku mabuk seorang diri tanpa ditemani siapapun. Aku tidak bisa pulang karena tubuhku yang tidak lagi sanggup menahan kepala ku yang terasa berat. Dan disaat itu, Cleo lah yang menolongku. Dia membawaku ke apartemen nya bersama seorang pria. Tapi..." Reynand tampak menghentikan ceritanya, membuat Nara semakin penasaran, namun fikiran nya sudah memikirkan hal yang tidak tidak sekarang.
"Tapi... ketika terbangun aku sudah menemukan tubuh kami tanpa sehelai pakaian pun." ungkapan Reynand membuat Nara tertegun. Namun dia tidak terkejut, karena apa yang dia fikirkan pasti sudah pernah terjadi selama ini.
Reynand memandang Nara dengan pandangan bersalah.
"Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, tapi sejak saat itu Cleo meminta ku untuk bertanggung jawab. Dia tidak meminta aku menikahinya, dia hanya memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku bingung, tapi karena dia juga tidak pernah menunjukkan hal yang aneh,maka sejak saat itu kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Sikap nya yang menghibur dan cukup hangat membuat hati dan mataku buta, aku terbuai dan menjadi terbiasa dengan kehadiran nya dihidupku. Apalagi masa masa itu aku sedang dalam keadaan terpuruk. Tanggung jawab yang semakin besar karena tiba tiba papa meminta ku untuk mengurus perusahaan seorang diri. Dan Cleo dia selalu ada menemaniku, hingga akhirnya aku terbiasa dan tidak melihat kehadiranmu, ditambah dengan dia yang mengaku menderita penyakit mematikan membuatku menjadi iba dan merasa bersalah" ungkap Reynand.
Nara tertunduk dengan hati yang kembali mendung. Dia kembali membayangkan bagaimana hari yang Reynand lalui bersama Cleo dibelakang nya.
"Nara...." panggil Reynand seraya meraih dan menggenggam tangan Nara dengan lembut.
"Apa kamu percaya jika aku bilang aku tidak pernah melakukan hal itu dengan Cleo???" pertanyaan Reynand membuat Nara langsung mengernyit heran. Bukankah itu hal yang mustahil??
"Aku tahu kamu pasti tidak percaya. Tapi begitulah kenyataan nya. Aku brengsek dan kejam padamu, tapi sungguh demi Tuhan, selama kita menikah, tidak sedikitpun aku menyentuh Cleo meski aku sering bersamanya" ungkap Reynand.
Nara masih mematung memandang Reynand.
"Awalnya aku tidak ingin menyentuhmu juga, karena aku tahu aku menikahimu karena terpaksa. Tapi... aku ingin membuktikan suatu hal" ungkap Reynand kembali. Nara masih ingat, jika Reynand menyentuhnya pertama kali itu saat usia pernikahan mereka hampir satu tahun.
"Rasa yang tidak bisa dijelaskan saat telah selesai melakukan itu dengan mu masih selalu aku ingat. Dan itu membuat ku menyadari jika malam saat aku mabuk, aku memang tidak melakukan apapun pada Cleo. Tapi aku juga tidak tahu kenapa kami bisa terbangun tanpa sehelai pakaian pun. Aku juga tidak merasakan apapun setelah terbangun." kata Reynand lagi.
"Benarkah yang kamu katakan ini?" tanya Nara masih begitu takjub
Reynand tersenyum tipis dan mengangguk seraya mengusap punggung tangan Nara dan melepaskan nya. Dia kembali memandang kedepan, membayangkan masa masa itu lagi.
"Ketika kamu sudah pergi, aku baru menyadari semuanya. Jika selama dua tahun kita menikah, kamu adalah tempatku berpulang, ketika masalah selalu membuat kepalaku hampir pecah, yang aku cari adalah kamu. Dan ketika aku lelah, senyum kamu bisa mengalihkan semuanya"
"Aku kasar dan kejam, bukan karena rasa bersalahku pada Cleo, melainkan aku yang sedang menutupi hati untuk tidak jatuh cinta padamu, karena saat itu aku masih selalu mencari keberadaan adik kecilku yang aku tinggalkan dibawah pohon kemuning." ungkap Reynand, mata nya masih memandang jauh kedepan.
"Aku begitu tidak suka melihat mu dekat dengan lelaki lain, aku cemburu ketika semua orang memandang mu penuh kekaguman. Apalagi dengan Bimantara, aku benar benar cemburu." Nara mendengus senyum dan menggeleng seraya mengusap air mata yang tiba tiba menetes.
"Cintaku sendiri yang telah membutakan hatiku Nara. Aku menghancurkan mu untuk membuat mu menyerah dan tidak lagi bekerja, namun nyatanya, kamu malah menyerah dan meninggalkan aku" kata Reynand dengan dengus tawa yang terdengar begitu getir dan pedih.
"Aku benar benar menyesali semuanya" kini Reynand memandang Nara.
Nara menggeleng dan tersenyum, jika benar yang dikatakan Reynand, maka sungguh dia benar benar bahagia, meski rasa sakit harus dia rasakan dulunya.
"Kamu memang bodoh" kata Nara seraya mengusap kembali air mata yang terjatuh.
"Jangan menangis lagi" pinta Reynand seraya mengusap wajah Nara.
"Aku memang bodoh, maka tolong ajari aku untuk menjadi lelaki seperti yang kamu inginkan. Karena sungguh, hidup tanpa mu, semakin membuat aku bodoh dan gila" pinta Reynand.
Nara tersenyum dan mengangguk.
"Kamu mau menerimaku kembali?" tanya Reynand sedikit ragu, karena bagaimana pun, untuk saat ini adalah waktu yang tidak pantas untuk menanyakan tentang hal ini.
"Aku mau, tapi ketika kamu sudah sembuh dan menyelesaikan semua masalahmu" jawab Nara.
__ADS_1
Reynand langsung tersenyum bahagia, dia semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Nara.
"Aku berjanji Nara. Aku berjanji. Aku akan menebus semua kesalahanku dengan membahagiakan mu untuk seumur hidupku. Tapi setelah aku membalaskan semua perbuatan mereka" ujar Reynand.
Nara tersenyum dan mengangguk, seraya membalas kembali genggaman tangan Reynand.
"Aku mencintaimu Nara" ucap Reynand
"Aku tahu" jawab Nara
Reynand tertawa dan mengangguk.
"Kita masuk, hari sudah cukup malam" ajak Reynand.
"Ya, tapi kursi rodamu didalam" kata Nara seraya menunjuk kursi roda Reynand yang diletakkan ibu disudut rumah.
"Tidak apa apa, aku akan mencoba berjalan, kamu mau membantu?" pinta Reynand.
"Baiklah, ayo" ajak Nara.
Nara langsung berdiri dan menjulurkan tangan nya kehadapan Reynand. Reynand dengan lembut meraihnya, seraya menopang tubuhnya dengan kaki kiri yang sudah cukup sehat. Mulai melangkah perlahan dengan sedikit ringisan diwajahnya.
"Jangan ditahan, kamu bisa bertumpu padaku" ujar Nara
"Aku berat, kamu pasti kesusahan, tidak apa apa seperti ini" jawab Reynand yang masih begitu kepayahan melangkah kan kakinya yang cukup kaku dan sakit.
Nara sekuat mungkin memegangi lengan Reynand, namun tiba tiba....
"Nara!!!" seruan Arya membuat Nara terlonjak kaget hingga dia reflek merenggangkan pegangan tangan nya pada lengan Reynand, membuat Reynand langsung oleng dan ...
brak...
"Aaaaahhh"
"Aryoooo!!!!!"
Nara dan Reynand sama sama terjatuh diatas lantai karena Nara yang tidak sanggup menahan tubuh Reynand, dan Reynand yang tidak kuat menahan sakit dikaki nya.
Reynand meringis sakit seraya memegangi kaki nya yang patah.
"Aaahh maaf, aku kan cuma memanggil, kenapa juga kalian sampai jatuh begini" tanya Arya yang segera membantu Reynand berdiri.
Mama dan Zelina yang mendengar suara teriakan Nara langsung berlari kebelakang, dan mereka begitu terkejut melihat Nara dan Reynand yang baru beranjak dari atas lantai.
"Kamu memang sengaja kan" tuding Reynand begitu kesal.
"Mengejutkan orang saja" sahut Nara pula seraya mengusap bokong nya yang berdebu.
"Kalian yang jatuh kenapa menyalahkan aku" tanya Arya dengan wajah tanpa dosa nya. Membuat Nara dan Reynand benar benar kesal setengah mati dengan lelaki berambut gondrong ini. Bisa bisanya dia memanggil Nara seperti berteriak memanggil tukang bakso! Astaga
__ADS_1