
Reynand duduk dimeja kerja nya dengan pandangan mata yang begitu serius menghadap kekomputer. Kaca mata baca yang dia kenakan menambah kesan dingin dan wibawa yang dia miliki. Sudah berjam jam dia duduk disana, mengontrol perkembangan perusahaan Polie hampir dua bulan ini. Semuanya sudah mulai stabil kembali. Sudah ada beberapa investor yang menanamkan saham mereka diperusahaan itu. Dan tentu saja, pelan pelan akhirnya perusahaan Polie bisa bangkit kembali.
Sudah hampir dua bulan Reynand membangun kembali perusahaan Polie. Sudah hampir dua bulan juga dia terus mencoba memperbaiki apa yang pernah dia rusak dan dia hancurkan. Semua nya berjalan dengan lancar, namun satu yang belum bisa dia capai, hati Nara. Ya, sampai detik ini Reynand belum bisa merebut kembali hati Nara. Istrinya itu seolah enggan untuk membuka hatinya kembali untuk Reynand. Kesakitan dan kekecewaan yang begitu dalam yang pernah Reynand berikan ternyata begitu berbekas dihati Nara, hingga kini Reynand begitu sulit untuk mengetuk nya kembali.
Setiap minggu, Reynand selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Nara. Namun seperti biasa, hanya wajah dingin dan datar yang dia dapatkan. Tidak ada lagi senyum manis seperti dulu untuk nya. Sekarang, senyum itu malah Nara berikan pada Bimantara. Miris sekali.
Pintu yang terketuk membuat Reynand sedikit menjeda pekerjaan nya. Dia menoleh kearah pintu, dan ternyata Mahendra yang datang.
"Selamat siang tuan" sapa Mahendra.
"Ya, ada apa?" tanya Reynand langsung. Matanya masih fokus pada layar monitor. Reynand tetaplah Reynand yang jika sedang fokus pasti sangat sulit untuk diganggu.
"Saya sudah mendapatkan informasi tentang pendonor ginjal untuk nona Anara"
deg
Tangan Reynand langsung mematung, bahkan dia langsung memandang Mahendra dengan wajah tidak percaya nya.
"Kamu serius?" tanya Reynand. Dan Mahendra langsung mengangguk. Dia menyerahkan sebuah dokumen pada Reynand.
Reynand membuka dokumen itu dengan cepat. Membaca setiap data yang tertera didalam sana.
"Dia seorang warga dari pesisir Timur Indonesia. Dia membutuhkan banyak uang untuk pengobatan anak nya yang menderita sebuah penyakit. Dan wanita itu berniat untuk menjual satu ginjal nya. Dan beruntungnya dokter Sebastian yang mengetahui informasi itu" ungkap Mahendra
"Segera buat janji temu untuk melangsungkan operasi itu" ujar Reynand. Wajah bahagia nya tidak bisa tersamarkan. Karena dia memang benar benar lega dan bahagia mendengar kabar ini. Akhirnya Nara masih punya kesempatan untuk hidup dan bahagia lagi.
"Tapi tuan..." Mahendra memandang Reynand dengan ragu
"Ada apa?" tanya Reynand
"Karena ginjal itu langka dan juga darah nya yang memang sama dengan nona Nara, maka sudah pasti harga yang harus kita bayar juga cukup mahal" ungkap Mahendra
Reynand terdiam, apa yang dikatakan Mahendra memang benar. Tidak mungkin sama dengan ginjal pada umumnya. Ini adalah sesuatu yang langka dan sangat sulit untuk dicari. Tapi apapun akan Reynand usahakan, jangan sampai kesempatan ini hilang begitu saja.
"Berapa bayaran yang mereka minta?" tanya Reynand
"Sekitar delapan sampai sepuluh miliyar. itu juga belum termasuk biaya operasi" jawab Mahendra
Reynand memejamkan matanya sejenak. Uang sebanyak itu jika dulunya bukan apa apa namun sekarang kenapa terasa begitu banyak.
"Tuan, saya tahu ini memang dana yang cukup banyak untuk sekarang. Tapi jika kita tidak mengusahakan nya, maka orang lain yang akan mengambilnya. Sudah banyak orang diluar sana yang juga menginginkan itu. Jika semakin lama, saya takut akan ada yang menawar dengan harga yang lebih tinggi lagi. Dan kita bisa kalah" ungkap Mahendra.
"Aku tahu. Aku akan mengusahakan nya. Kamu bisa tolong mengurus semuanya. Beri aku waktu dua hari" pinta Reynand
"Baik tuan" jawab Mahendra.
...
Reynand memandang sebuah gedung megah yang berdiri begitu kokoh. Dia menghela nafasnya yang terasa berat. Dia sudah malas menginjakkan kakinnya disini lagi sekarang, tapi jika tidak kemari, kemana lagi dia harus mencari uang sebanyak itu. Sepuluh miliar yang bisa dia dapatkan hanya dalam waktu beberapa hari dulunya, kini benar benar terasa sulit. Dana diperusahaan Nara baru terkumpul sedikit dan tidak akan bisa menutupi kekurangan nya, lagi pula itu juga untuk membayar gaji karyawan. Jadi dengan terpaksa, Reynand harus mengemis disini demi kesembuhan Nara.
Perusahaan Adidaksa.
Perusahaan yang pernah dia pimpin hingga bisa menjadi berkembang pesat seperti ini, dikenal dimata dunia perbisnisan. Namun sekarang, semua sudah terasa asing. Sakit hati, tentu saja. Jika tidak mengenangkan Nara, Reynand tidak akan mau menginjakkan kakinya ditempat ini.
__ADS_1
Semua mata memandang heran pada Reynand. Tidak ada yang berani mencegahnya, sepertinya orang orang suruhan ayahnya sudah tidak ada lagi disini. Sehingga karyawan yang pernah berada dibawah naungan Reynand tidak ada yang berani melarang nya untuk masuk.
Mereka semua tertegun memandang kedatangan tuan muda Adiputra ini, tuan muda yang sudah didepak dari perusahaan Adidaksa. Sudah dua bulan mereka tidak pernah melihat Reynand, dan baru kali ini Reynand menginjkakkan kakinya disini lagi setelah terakhir kali dia mengamuk waktu itu.
Beberapa orang yang masih menaruh hormat padanya langsung menundukkan tubuh mereka. Namun Reynand tidak lagi perduli. Tujuan nya hanya satu, yaitu keruangan tuan Abas.
Ceklek
Tanpa membuka pintu, Reynand langsung masuk kedalam ruangan itu. Membuat tuan Abas dan juga Guntur yang ada disana begitu terkejut melihat kedatangan Reynand
"Apa kamu sudah melupakan sopan santun mu anak muda?" tanya tuan Abas. Dia terlihat menyembunyikan sesuatu kedalam laci mejanya. Dan Reynand tidak ingin tahu apa itu
Reynand berjalan mendekat kearah dua pengkhianat itu. Namun saat ini dia kembali akan menjatuhkan harga dirinya.
"Aku kemari untuk meminta tolong padamu tuan Abas yang terhormat" ucap Reynand
Tuan Abas dan Guntur memandang Reynand begitu takjub. Mereka bahkan bisa melihat jika Reynand sedang menahan rasa amarah nya saat ini.
"Meminta tolong? Apa aku tidak salah dengar. Apa kamu terlilit hutang karena sudah membangun kembali perusahaan yang bangkrut itu?" ucap tuan Abas begitu sinis
"Yah aku tidak heran. Kamu keluar dari sini dan ternyata masih ingin maju dengan perusahaan kecil itu. Cukup menarik" tambah nya lagi
Reynand langsung menarik nafasnya dalam dalam. Dia harus bisa menahan emosinya saat ini. Tujuan nya lebih penting dari pada harus meladeni ucapan tuan Abas yang begitu meremeh. Entah kenapa Reynand tidak merasa jika yang ada dihadapan nya adalah tuan Abas ayahnya. Dia merasa yang ada dihadapan nya adalah iblis berbentuk manusia.
"Pinjamkan aku sedikit uang kalian" pinta Reynand
Tuan Abas dan Guntur saling pandang aneh, dan tidak lama kemudian tuan Abas langsung menyemburkan tawanya mendengar itu
"Meminjam uang??? Aku tidak salah dengar???" tanya tuan Abas begitu meremeh
"Aku mohon, untuk kali ini saja. Setidak nya jika kalian tidak ingin meminjamkan aku uang, aku minta uang gajiku yang kalian bekukan selama ini" jawab Reynand. Wajahnya memelas, bahkan terkesan frustasi
Tuan Abas tersenyum dan mengendikkan bahunya
"Berapa yang kau minta" tanya tuan Abas
"15 miliar" jawab Reynand
Alis tuan Abas tergerak
"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanya tuan Abas
"Anda tidak perlu tahu. Aku mohon berikan uang nya. Itu juga bukan seberapa untukmu kan. Pendapatan yang aku hasilkan jauh lebih besar dari nilai uang yang aku minta" jawab Reynand
Tuan Abas langsung tertawa sinis dan menggeleng
"Tidak ada, bukan kah uang mu sudah untuk mengganti kerugian perusahaan yang kau buat. Cukup besar, dan sekarang, kau sudah tidak punya apa apa lagi disini." jawab tuan Abas
Mata Reynand melebar mendengar itu
"Aku mohon, setidak nya jika anda tidak ingin memberi, maka aku akan meminjam nya, Aku berjanji akan membayarnya nanti" kata Reynand lagi
"Tidak" jawab tuan Abas yang kembali membuka dokumen didepan nya
__ADS_1
"Papa....." panggil Reynand begitu memohon. Tuan Abas langsung terdiam mendengar panggilan itu
"Aku mohon sekali ini saja. Papa sudah menghancurkan hidup kami, papa menghancurkan hati mama dan Zelina. Dan sekarang aku hanya meminjam sedikit uang mu, papa tidak juga ingin memberi. Sekejam itukah?" tanya Reynand dengan wajah yang memerah. Namun tuan Abas hanya diam saja, begitu pula dengan Guntur yang masih duduk diam didepan tuan Abas
"Bawa dia keluar" pinta tuan Abas
Guntur langsung mengangguk, namun belum dia beranjak, Reynand sudah jatuh berlutut dihadapan mereka
"Aku mohon, aku janji akan mengembalikan nya" pinta Reynand yang begitu merendahkan dirinya nya
Tuan Abas tersenyum sinis melihat itu. Namun tidak dengan Guntur, dia terlihat begitu mengiba sekarang. Namun apa yang bisa dia lakukan selain hanya diam.
"Aku tidak mau. Kau bisa bekerja diluar sana. Aku tidak mengganggu perusahaan Polie saja seharusnya kau sudah harus bersyukur" ungkap tuan Abas
Reynand langsung mendongak tidak percaya mendengar nya. Sekejam inikah orang tua yang dia panggil dengan sebutan papa dulunya. Sekejam inikah orang tua yang selalu membanggakan nya dulu???
"Bawa dia keluar, atau mau kupanggil orang orang ku lagi untuk menghajarnya dan membuatnya dipermalukan lagi" ujar tuan Abas
Reynand berdecih, dan sebelum Guntur meraih lengan nya, dia sudah bangun dan berdiri dengan tegak.
"Suatu saat, ketika semua sudah tenang. Maka aku yang akan membalaskan rasa sakit ini" geram Reynand yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Tuan Abas hanya mengendikkan bahunya, dia hanya acuh dengan ancaman Reynand. Memang apa perdulinya. Hanya Guntur yang merasa was was dengan perkataan Reynand tadi.
....
Reynand memukul setir mobilnya dengan kuat, usahanya hanya sia sia datang keperusahaan itu. Bahkan dia sudah rela menjatuhkan harga dirinya kembali demi untuk memohon, namun yang terjadi dia malah mendapatkan rasa sakit yang semakin menjadi. Ayahnya sendiri tega berbuat seperti itu, bahkan untuk sedikit rasa belas kasih pun tidak ada lagi.
Kini Reynand berada dipinggir danau, ditelaga biru tempat nya dulu meminta darah Nara. Reynand masih berada didalam mobil. Dia benar benar bingung sekarang, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang itu. Meminjam kerelasi bisnisnya??? Hal yang mustahil. Namanya sudah buruk sekarang, bahkan bisa mendapatkan penanam modal diperusahaan Polie saja dia sudah cukup beruntung. Lalu jika meminjam uang pada mereka, mana mungkin mereka akan percaya
Darah Nara dan darah Cleo sama, tapi Reynand juga tidak mungkin meminta ginjal Cleo, itu hal yang mustahil. Gadis itu tidak akan mau melakukannya, Reynand bahkan tahu bagaimana Cleo yang membenci Nara.
Reynand menggeram, dia menghantuk hantukkan kepala nya disetir mobil. Ini adalah kesempatan yang sudah ditunggu sejak lama. Tapi kenapa mencari uang hanya segitu saja sangat payah sekarang. Astaga, Reynand benar benar frustasi
Namun tiba tiba ponsel nya bergetar, sebuah pesan masuk kesana. Dengan enggan Reynand meraih nya dan membuka pesan itu. Matanya seketika terbelalak, saat mengetahui dana 5 miliar masuk keakun nya.
'hanya segitu yang bisa saya berikan tuan. maaf'
Meski tanpa nama, Reynand tahu siapa itu. Guntur. Meski bingung, namun Reynand cukup bersyukur. Bahkan dia bisa bernafas sedikit lega. Setidak nya tinggal mencari 5 miliar lebih lagi.
Reynand menggenggam erat ponselnya. Matanya memandang nanar ketelaga biru yang dipenuhi oleh banyak bunga teratai yang mengambang cantik sekarang.
Dimanapun dia berada, sepertinya bayang bayang Nara memang tidak akan pernah hilang.
Nara, disini adalah tempat dimana mereka memulai kisah yang begitu menyakitkan ini. Yah, Reynand dengan tega menghabiskan darah Nara untuk Cleo yang ternyata tega membohongi nya. Padahal Nara adalah teman nya sendiri. Betapa bodohnya Reynand, dia menghabiskan darah Nara yang sebenarnya Naralah yang paling membutuhkan darah itu sekarang. Bahkan Reynand juga tahu jika sedikit banyak nya kanker ginjal yang semakin parah pasti karena ulahnya. Dan kini hidup Nara yang harus dipertaruhkan karena ginjal yang sudah rusak dan hancur.
Tapi.....
Tiba tiba Reynand sedikit terkesiap, dia tiba tiba mengingat tentang perkataan Mahendra siang tadi
'wanita itu berniat menjual ginjal'
Yah, bukankah itu juga bisa dia lakukan, dari pada harus mengemis kesana kemari. Bukankah dengan cara itu bisa? Menjual ginjalnya sendiri demi untuk mendapatkan uang.
__ADS_1
Reynand tersenyum getir. Apapun akan dia lakukan demi istrinya. Meski dia juga harus kehilangan satu ginjal. Tidak masalah, anggap saja dia merasakan apa yang Nara rasa. Hidup hanya dengan satu ginjal saja.